Pakar: Kurikulum Pendidikan Harus Diubah Hadapi Era Digital

Editor: Koko Triarko

MALANG – Profesor di bidang ketenagakerjaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Devanto Shasta Pratomo, SE., M.Si., Ph.D, mengatakan, tantangan ke depan bagi bangsa Indonesia dan semua negara di dunia adalah era ekonomi digital.

Menurutnya, era ekonomi digital ternyata bersifat ‘membunuh’, sehingga banyak sekali pekerjaan yang akan hilang.

“Misalnya, travel agency sekarang sudah hilang digantikan dengan yang online semua. Jadi, pekerjaan sudah banyak yang hilang, namun ternyata tergantikan oleh pekerjaan yang lain,” ujarnya, saat ditemui di Gedung Rektorat UB, Kamis (19/12/2109).

Berdasarkan penelitian Associate Partner McKinsey and Company  2019, memberikan sinyal yang positif bagi Indonesia, bahwa di Indonesia akan kehilangan 23 juta pekerjaan yang akan lenyap tahun ini. Namun di sisi lain, ada 46 juta pekerjaan baru yang akan tumbuh.

“Mungkin awalnya kita akan shock pekerjaan yang lama akan hilang, tapi jangan khawatir karena akan tumbuh 46 juta pekerjaan baru dalam waktu yang sama,” jelasnya.

Berdasarkan data tersebut, Devanto memberikan beberapa saran maupun solusi untuk mengatasi kondisi tersebut. Menurutnya, dengan berlangsungnya era ekonomi digital, maka karakter pekerjaan juga pasti berubah, sehingga yang paling penting adalah kebijakan pendidikan harus digiring pada penyediaan angkatan kerja yang ramah terhadap digital. Jadi, mungkin hard skill dan soft skill saja tidak cukup, namun diperlukan digital skill.

“Kurikulum harus sudah mulai menyiapkan anak-anak atau pelajar yang ramah terhadap digital. Jadi, kurikulum sekarang yang hanya mengandalkan hard dan soft skill saya kira harus ditambah dengan digital skill,” ujarnya.

Selanjutnya, yang juga sering dilupakan, bahwa Indonesia memiliki talenta muda yang berpotensi. Sehingga di Indonesia mungkin hanya dibutuhkan satu persen dari angkatan kerja, tapi memiliki talenta yang luar biasa. Ini yang harus diarahkan, jangan sampai mereka kemudian eksodus ke luar negeri atau tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia.

“Hanya saja satu persen tersebut tidak akan berkontribusi secara besar, jika mereka hanya menjadi dosen atau profesor malah tidak optimal. Tapi yang menjadikan optimal, adalah ketika satu persen talenta muda itu menjadi wirausahawan. Jadi, wirausaha menjadi kata kunci di sini,” imbuhnya.

Selain itu, Devanto melihat dominasi sektor informal di Indonesia cukup besar, maka pengembangan UMKM menjadi salah satu kunci di era ekonomi digital. Namun, UMKMnya harus digeser juga menjadi UMKM yang ramah terhadap digital.

Solusi selanjutnya adalah pengembangan ekosistem yang menjamin berkembangnya wirausaha, yakni ekosistem yang menghubungkan 3 komponen atau triple helix, yaitu dunia usaha, pendidikan dan pemerintah.

“Jadi, pendidikan harus menyediakan apa yang diperlukan dan pemerintah juga harus mendukung dunia usaha,” pungkasnya.

Lihat juga...