Pantai di Sumbar Rentan Abrasi, Ini Penyebabnya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Sejumlah pantai di Sumatera Barat yang menghadap ke Samudera Hindia kini tengah dilema dengan bencana abrasi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Minangkabau menyebutkan, banyak sebab rentannya terjadi abrasi pantai itu.

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan, terjadinya abrasi pantai tidak hanya semata-mata diterjang gelombang laut.

Tapi banyak hal lainnya yang menyebabkan terjadi abrasi, yakni mulai dari perubahan bentuk pantai, penurunan air tanah, atau bahkan adanya alih fungsi lahan pesisir yang semula rawa menjadi bangunan.

Menurutnya, arus dan gelombang laut hanyalah merupakan salah satu pemicu terjadi abrasi. Sebab, apabila tidak terjadi penurunan air tanah, tidak terjadi alih fungsi lahan pesisir yang sebelumnya rawa menjadi kawasan bangunan, maka hanya kemungkinan kecil terjadi abrasi pantai.

Melihat ke Sumatera Barat, terutama untuk kawasan padat penduduk, banyak bangunan yang berdiri dekat dari kawasan pantai. Akibatnya akan terjadi penurunan air tanah.

“Betul gelombang laut itu bisa menjadi sebab terjadi abrasi. Karena gelombang lautlah yang terus menghempas ke pantai. Tapi apabila air bawah tanah cukup dan masih ada rawa-rawanya, kemungkinan abrasi tidak terjadi begitu parah hingga merusak bangunan yang ada di tepi pantai itu,” katanya, ketika dihubungi dari Padang, Kamis (12/12/2019).

Ia menyebutkan, ada proses dalam hal terjadinya abrasi pantai itu, karena abrasi tidak terjadi secara spontan, namun akumulasi energi dari gelombang laut yang terus menerus menyebabkan terjadi pengikisan kawasan pantai secara bertahap. Sehingga tidak berarti ombak dengan ketinggian tertentu memicu abrasi.

Yudha menyakui tidak begitu mengetahui pasti penyebab terjadinya abrasi pantai di sejumlah daerah di Sumatera Barat, karena BMKG sendiri tidak melakukan penelitian di titik terjadi abrasi itu.

Dalam hal ini ada wewenang pihak lain yang mengetahui bagaimana kadar air di kawasan pantai di Sumatera Barat saat ini.

“Berbicara cuaca di Sumatera Barat secara umum hujan intensitas sedang masih berpeluang terjadi pada siang hingga malam hari terutama di bagian tengah dan timur Sumatera Barat,” jelasnya.

Daerah bagian tengah dan timur Sumatera Barat yang berpotensi terjadi hujan itu, seperti di Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Bukittinggi, Padangpanjang, Padangpariaman, Solok, Agam dan sekitarnya. Begitu juga untuk gelombang laut kini masih 0.75 – 1.25 meter untuk perairan selat Mentawai.

“Jadi potensi hujan masih terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Barat dan gelombang laut masih tergolong aman,” tegasnya.

Kini sejumlah daerah yang dilanda bencana abrasi pantai seperti di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Padang. Tapi sebelumnya empat daerah pantai di Sumatera Barat lainnya juga pernah dilanda bencana abrasi pantai, seperti Pariaman, Padang Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat.

Terkait kondisi kawasan pantai, Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP) Kementerian Perikanan dan Kelautan, Nia Lailul Khasanah, menjelaskan dari hasil identifikasi kerentanan di wilayah pantai di Sumatera Barat menyebutkan bahwa perusakan bibir pantai tidak hanya disebabkan abrasi.

Namun, dapat terjadi karena sedimentasi dan perpindahan sedimen yang dipengaruhi arus di bawah perairan, serta adanya aktivitas tektonik aktif.

Menurunnya abrasi pantai yang terjadi itu selain adanya arus laut, di kawasan bibir pantai juga tidak ditanami vegetasi seperti mangrove dan cemara laut untuk penahan abrasi. Hal ini dinilai tanaman vegetasi dapat mengantisipasi terjadinya abrasi pantai.

“Mungkin kita ada melihat material pantai hanya berupa pasir lepas tanpa batuan pengikat. Nah situasi seperti ini, saat arus gelombang datang ke bibir pantai, maka benda yang dihadangnya akan langsung habis,” jelasnya.

Ia memaparkan aktivitas abrasi yang terjadi di Sumatera Barat mencapai 8,44 meter per tahun. Bahkan untuk tingkat kerentanan tertinggi itu berada di Kabupaten Pesisir Selatan sebesar 1 persen, tinggi 6 persen, sedang 12 persen, rendah 40 persen dan sangat rendah 41 persen.

Kegiatan riset dilaksanakan pada 18-21 Juni 2019 dengan melibatkan dinas setempat. Kegiatan meliputi pemetaan dan identifikasi kerentanan, serta pengambilan sampel sentimen dasar perairan, pengambilan sampel kualitas perairan, dan pemasangan sediman trap serta pengukuran geolistrik.

“Tujuannya untuk mengetahui potensi serta kerentanan yang ditinjau dari aspek hidro,” tutupnya.

Melihat kondisi yang demikian, LRSDKP menyarankan kepada pemerintah di daerah yang mengalami bencana abrasi, agar segera melakukan penanaman vegetasi, serta tidak mendirikan bangunan di kawasan bibir pantai yang bisa mengeringkan air di pasir.

Lihat juga...