hut

Pedagang Suvenir di Kuta Keluhkan Turunnya Omzet

Editor: Koko Triarko

BADUNG – Para pedagang suvenir di pasar seni Kuta, mengaku resah akibat omzet penjualannya makin menurun. Mereka menduga, menjamurnya sentra pasar seni di kawasan itu sebagai salah satu penyebabnya.

Made Agus, pedagang suvenir di pasar itu mengatakan, saat ini banyak sentra pasar seni di beberapa destinasi wisata di Bal, seperti di Nusa Dua, Jimbaran dan lainnya. Sebelumnya, sentra oleh-oleh khas Bali hanya ada di dua tempat, antara pasar seni Kuta atau Legian.

“Jadi para wisatawan yang ingin membeli suvenir khas Bali, ya belinya di sini,” ujarnya, saat ditemui di tempat usahanya di Kuta, Bali, Selasa, (3/12/2019).

Selain itu, kata Agus, pesatnya persaingan di era teknologi, sehingga banyak pelaku usaha berjualan secara online. Sementara, Agus dan rekan seprofesinya menjual barang langsung kepada wisatawan, belum terbiasa dengan model baru bisnis online. Hal tersebut karena minimnya pengetahuan dan manajemen teknologi.

Pasar Seni Kuta, Bali, yang dikeluhkan pedagang mulai sepi dari wisatawan, Selasa (3/12/2019). -Foto: Sultan Anshori

Agus juga menyebut, pola penjualan online memiliki kelebihan. Di antaranya, para reseller tidak perlu menyewa tempat usaha semacam ruko atau kios sebagaimana layaknya para pedagang di pasar seni Kuta.

“Mereka menjual dari rumah pun bisa,” tegasnya.

Sementara itu, Adi Wijaya, mengatakan, sejumlah wisatawan asing masih tetap datang dan berbelanja di pasar, karena wisman tersebut dapat memilih suvenir yang mereka cari.

Tetapi, kondisi ini akan berubah, bila terjadi sesuatu yang membuat wisman enggan datang ke Bali. Misalnya, terjadi bencana alam atau kejadian lain.

“Ketika Gunung Agung erupsi, omzet penjualan kami sempat menurun,” jelasnya.

Pasar Seni Kuta memang sudah menjadi legenda bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali. Merupakan sentra penjualan suvenir pertama sebelum adanya sentra oleh-oleh lain, seperti di Seminyak, Nusa Dua dan Sanur.

Nyoman Subaga selaku Kepala Pasar Seni Kuta Desa Adat Kuta, Badung, menjelaskan, pasar seni Kuta mulai beroperasi sejak 1994. Dahulu, hanya terdapat 201 unit ruko berukuran 3 x 4 meter.

Luas pasar seni Kuta sekitar 4.000 meterpersegi, dan berdiri di atas lahan milik Desa Adat Kuta. Untuk harga sewa, pihak pengelola memberikan harga sekitar Rp20 juta per tahun.

Dikatakan, masa keemasan pasar yang terletak di pusat bisnis Kuta ini terjadi pada 1996 hingga sebelum terjadinya bom Bali 1.

“Kebanyakan tamu yang datang ini dari Australia,” sebut Subaga.

Namun, saat terjadi peristiwa bom Bali 1 dan 2, pasar Kuta sepi pengunjung. Akibatnya, beberapa stan sempat tutup, karena tidak ada wisatawan yang berkunjung untuk berlibur ke pulau yang berjuluk ‘Seribu Pura’ ini.

Lihat juga...