Pelajar di Ende Kembangkan Kerajinan Berbahan Sampah Plastik

Editor: Koko Triarko

ENDE – Peluang untuk menjadi wirausaha selalu terbuka lebar, terutama di kabupaten Ende. Masih banyak sumber daya alam yang belum dikelola menjadi sebuah produk yang bernilai jual dan disukai pasar. Tekad ini pun timbul dalam diri dua perempuan muda, mahasiswi di Kota Ende, setelah melihat banyaknya sampah plastik di Bank Sampah Sano di kampus.

“Mahasiswa di Ende masih kurang peduli soal sampah, terutama sampah plastik. Makanya, kami ingin membuat bank sampah dan mengolah sampah,” kata Maria Bibiana Noverthin Meo, pendiri usaha Daur Creative Ende, saat ditemui Cendana News, Selasa (3/12/2019).

Ertin, sapaan mahasiswi semester V fakultas Pertanian Universitas Flores (Unflor) Ende, ini mengaku ingin mengajarkan mahasiswa di kampusnya mengenai cara memilah sampah dan mengolahnya menjadi produk yang bisa dijual.

“Kami  membuat tas, bros dan dompet dari bahan baku sampah plastik yang ada Bank Sampah Sano di kampus STPM Ende. Kami juga sedang merencanakan membuat bank sampah sendiri,” katanya.

Maria Bibiana Noverthin Meo, pendiri Daur Creative Ende yang mengolah sampah plastik menjadi tas, saat ditemui Cendana News di kampusnya, Selasa (3/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Saat ini, sebut Ertin, sudah banyak pembeli yang tertarik dan membeli tas dan dompet dari bahan sampah plastik yang diproduksi keduanya di rumah secara sederhana.

“Untuk tas besar kami jual dengan harga Rp40 ribu, sementara dompet Rp30 ribu per buah. Kami jual murah, agar bisa dibeli para pelajar dan mahasiswa di kota Ende,” tuturnya.

Maria Yuniarti Anu, mahasiswa Semester V Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) St. Ursula Ende, mengaku bersama Ertin membuat usaha Daur Creative Ende untuk mengolah sampah plastik, agar bernilai jual.

“Tas kami buat berdua di rumah, karena kebetulan ada mesin jahit. Kami bekerja hari Sabtu dan Minggu, dan ada waktu-waktu luang selepas kuliah,” ungkapnya.

Yuyun, sapaannya, menyebutkan pihaknya membuat tas karena disukai ibu-ibu, dan menjadi kebutuhan para perempuan sehingga mudah menjualnya.

“Ini prospek yang luar biasa besar, sehingga bila dikerjakan dengan baik bisa memberikan tambahan penghasilan. Kami berdua serius untuk mengembangkan usaha ini, meskipun masih kuliah,” tuturnya.

Yuyun dan Ertin mengaku bangga, produknya bisa disukai pasar. Keduanya pun ingin mengkreasikan produknya agar lebih menarik dan kian disukai pembeli di kabupaten Ende.

“Kami berharap, agar anak muda lebih peduli terhadap sampah dan bisa mengerti soal sampah dan mengurangi penggunaan sampah plastik. Kami menyadarkan mereka bagaimana memilah sampah dan dari sampah itu kami membuat produk daur ulang,” ungkapnya.

Saat mengikuti pelatihan dari E.thical selama dua bulan, sebut Yuyun, mereka sangat banyak mendapatkan pembelajaran bagaimana membuat brand, cara menjual dan membaca peluang pasar serta produk yang dihasilkan harus bekelanjutan.

Plan, planet dan people harus seimbang dalam menghasilkan produk. Kami saat ini masih dalam bimbigan Bank Sampah Sano dari kampus STPM St.Ursula di kota Ende,” pungkasnya.

Lihat juga...