hut

Pemanfaatan Neutron untuk Pengukuran Tegangan Sisa Material Manufaktur

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Untuk mengetahui adanya cacahan dan cacat dari suatu material, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan teknik difraksi neutron yang dihasilkan dari Reaktor Serbaguna GA Siwabessy di Batan Serpong.

Dalam suatu industri manufaktur, pengukuran cacahan atau cacat ini dikenal sebagai pengukuran dan analisis tegangan sisa. Fungsinya adalah untuk mengetahui kekuatan material saat menerima tekanan atau tarikan.

Peneliti Instrumen Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) Batan, Refai Muslih, menjelaskan, bahwa teknik difraksi adalah suatu metode untuk mempelajari struktur atom dari struktur kristalin dengan cara mengeksploitasi radiasi yang terpantul dari material yang diteliti. Ada tiga teknik difraksi, yaitu difraksi sinar X,  difraksi neutron dan difraksi elektron.

Peneliti Instrumen Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM) Batan, Refai Muslih, saat memberikan penjelasan tentang teknik difraksi di acara Workshop dan Pameran Batan – IAEA Collaborating Center di Hotel Kristal Jakarta, Selasa (3/12/2019). – Foto Ranny Supusepa

“Pengecekan bisa dilakukan hanya pada material yang berbasis kristalin yaitu material dengan atom yang tersusun rapi dan berulang,” kata Refai saat ditemui pada acara Workshop dan Pameran Batan – IAEA Collaborating Center di Hotel Kristal Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Ia juga menyatakan bahwa pengukuran menggunakan neutron akan memberikan hasil yang lebih teliti dan akurat.

“Untuk melakukan layanan ini, kami menggunakan neutron dari Reaktor Siwabessy yang ada di Serpong. Jadi material yang akan dicek harus dibawa ke Serpong,” ujarnya.

Spesifikasi ditraksi neutron adalah tegangan sisa internal, resolusi spasial 0,2 milimeter, kedalaman pengukuran 10 cm dan berat material sampel hingga 50 kg atau 6.000 cc.

“Pengecekan tegangan sisa ini biasanya dimanfaatkan oleh industri yang melibatkan bahan baku besi atau baja. Misalnya, industri otomotif, industri kereta maupun industri berkaitan dengan disiplin ilmu teknik sipil,” ucap Refai.

Untuk saat ini, menurut Refai, Batan belum memiliki teknik untuk melakukan pengecekan pada benda yang tidak dibawa ke lokasi reaktor.

“Di Jepang, saat ini sudah ada teknologi yang mampu membuat si neutron yang bisa dibawa ke mana-mana. Jadi bisa mengecek levitated toll setelah melewati umur 25 tahun. Kita akan menghadapi masalah yang sama pada jalan tol di umur 25 tahun dari sekarang,” pungkas Refai.

Lihat juga...