Pembatasan Angkutan Barang Saat Nataru Belum Ditetapkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pembatasan angkutan barang dengan kendaraan bersumbu lebih dari 2 pada angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) belum ditetapkan.

Syaifullail Maslul, humas PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Cabang Bakauheni menyebut pada angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 belum ada edaran terkait pelarangan dan atau pembatasan angkutan barang.

Syaifullail Maslul, humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni, Lampung Selatan saat ditemui dalam persiapan angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 di Bakauheni, Senin (9/12/2019) – Foto: Henk Widi

Seperti pada tahun sebelumnya saat angkutan lebaran Idul Fitri, Nataru, surat edaran berasal dari Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Meski belum adanya imbauan, seperti tahun sebelumnya pada angkutan Nataru angkutan penyeberangan Bakauheni-Merak tetap memperbolehkan penyeberangan kendaraan barang.

Selain angkutan kendaraan barang, penerapan Peraturan Menteri No 103 Tahun 2017 tentang pengaturan dan pengendalian kendaraan yang menggunakan angkutan penyeberangan belum diberlakukan.

Pengaturan angkutan kendaraan yang menyeberang menurut Syaifullail Maslul bersifat kondisional. Saat kendaraan pribadi pemudik Nataru meningkat, kendaraan barang akan ditunda keberangkatannya.

“Jenis kendaraan yang ditunda keberangkatannya meliputi kendaraan non kebutuhan pokok. Tapi kendaraan pengangkut bahan pokok, BBM dan pos tentunya masih akan diprioritaskan serta area parkir kendaraan tersedia cukup luas di seluruh dermaga,” ungkap Syaifullail Maslul saat dikonfirmasi Cendana News di kantor ASDP Bakauheni, Senin (9/12/2019).

Sesuai dengan ketersediaan lahan parkir di area pelabuhan, PT ASDP Indonesia Ferry menyediakan sebanyak 6 area parkir. Area parkir tersebut berada di dermaga 1,2,3,4,5 dan dermaga 7 dengan kapasitas total lebih dari 5.000 kendaraan campuran.

Prioritas kendaraan mobil pribadi, motor membuat kendaraan non sembako akan ditunda keberangkatannya menyesuaikan kapasitas kapal.

Mengantisipasi angkutan Nataru yang diprediksi mulai terjadi pada Jumat (20/12/2019) mendatang sejumlah kapal roll on roll off (Roro) dipersiapkan. Pada angkutan Nataru tahun ini sebanyak 68 kapal disiagakan dengan 65 diantaranya siap operasi.

Melayani angkutan Nataru rata-rata dalam sehari perjalanan kapal (trip) mencapai 28 hingga 30 kapal. Kapal yang beroperasi akan melayani 5 dermaga reguler dan 1 dermaga eksekutif.

“Pola operasi penyeberangan akan fleksibel menyesuaikan volume kendaraan apalagi jalan tol Sumatera sudah tersambung Lampung hingga Sumatera Selatan,” papar Syaifullail Maslul.

Pelayanan kapal di lintas Bakauheni-Merak menurutnya akan menyesuaikan dengan kepadatan arus lalu lintas. Pada kondisi normal waktu pelayanan (port time) membutuhkan waktu 60 menit dan saat terjadi kepadatan dipercepat menjadi 45 menit.

Selain itu percepatan waktu perjalanan kapal (sailing time) semula 120 menit bisa ditingkatkan menjadi 108 menit. Khusus dermaga eksekutif dengan 5 kapal eksekutif dilayani dengan waktu 60 menit.

Pelayanan saat Nataru 2019/2020 diharapkan lancar tanpa adanya antrean kendaraan. Demikian diungkapkan Warsa, ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC-Gapasdap) Cabang Bakauheni.

Warsa, Kepala DPC Gapasdap Bakauheni saat ditemui di lobi kantor ASDP Bakauheni, Lampung dalam persiapan angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Senin (9/12/2019) – Foto: Henk Widi

Ia menyebut belum adanya edaran pelarangan kendaraan barang bersumbu lebih dari dua membuat kendaraan masih bisa melintas.

“Sebagian pengusaha ekspedisi masih melakukan pengiriman barang dari Sumatera ke Jawa jadi tetap harus diakomodir,” beber Warsa.

Warsa menyebut untuk mencegah adanya antrean di pelabuhan sejumlah pihak di antaranya kepolisian, BPTD dan pengelola jalan tol Sumatera harus berkoordinasi. Koordinasi akan dilakukan mencegah adanya antrean dengan mengarahkan kendaraan barang ke tempat istirahat (rest area) dan sejumlah rumah makan.

Saat kondisi pelabuhan mulai lengang kendaraan bisa diperbolehkan menyeberang mengantisipasi penumpukan di pelabuhan.

Keberadaan jalan tol yang tersambung dari Bakauheni ke Sumatera Selatan disebutnya akan meningkatkan volume kendaraan. Terlebih waktu tempuh semula 10 jam bisa ditempuh dalam waktu 6 hingga 4 jam.

Pola pengaturan kendaraan secara fleksibel di jalan tol, Jalinsum dan area pelabuhan diharapkan bisa mengurai kemacetan.

Secara hitungan bisnis Warsa menyebut berkurangnya kendaraan barang akan merugikan operator kapal. Namun untuk kelancaran Nataru kebijakan bisa dilakukan menunda keberangkatan kendaraan barang.

Keterlambatan kendaraan barang nonsembako diakuinya tidak akan berdampak pada muatan. Selain itu dengan pengaturan muatan akan menjamin keselamatan pelayaran saat Nataru.

Lihat juga...