Pemkab Sikka Pastikan Pencapaian Target Bebas Malaria 2020, Gagal

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemerintah Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dipastikan gagal mengejar target eliminasi malaria pada 2020, karena adanya kasus malaria di Kecamatan Waigete di 2019.

“Kita targetkan pada 2020 sudah bisa eliminasi, tetapi dengan ditemukannya kasus baru malaria di Waigete, tidak tercapai target dan rencananya,” kata Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Sikka, Petrus Herlemus, di ruang kerjanya, Jumat (6/12/2019).

Dikatakan Pet, sapaannya, targetnya terpaksa diudur hingga 2023. Di tahun tersebut, diharapkan Kabupaten Sikka sudah terbebas dari penyakit malaria yang sejak 2013 diperangi secara besar-besaran.

“Kami akan meningkatkan peran serta semua pihak, termasuk menggandeng mitra dari Yayasan Pembangunan Masyarakat (Yaspem) Maumere, yang selama ini telah fokus menangani malaria di Sikka,” ujarnya.

Pet pun meminta agar segenap masyarakat dan pihak desa atau kelurahan serta sekolah, agar bersama-sama secara rutin setiap hari Jumat membersihkan jentik nyamuk dan vektor dengan membersihkan lingkungan sekitar.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Petrus Herlemus, saat ditemui di kantornya, Jumat (6/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

“Kebersihan lingkungan harus terjaga, makanya saya sudah meminta pihak sekolah dan kelurahan, dan kami sudah lakukan setiap hari Jumat kerja bakti membersihkan lingkungan secara bersama-sama,” ungkapnya.

Menurut Pet, kebersihan lingkungan menjadi tanggungjawab masyarakat dan jangan menyerahkannya atau menganggap itu tugas dinas kesehatan saja.

“Saat ini sudah masuk musim hujan, sehingga kaleng-kaleng dan botol-botol minuman dan wadah lainnya yang bisa membuat air tergenang harus dibersihkan. Kita juga terus melakukan pengasapan di wilayah yang rawan malaria,” terangnya.

Aleksius Armanjaya, Manajer Program Yaspem Maumere mengatakan, lembaganya memang sejak 2013 fokus memerangi malaria bekerja sama dengan dinas kesehatan.

“Memang harus dilakukan gebrakan secara gencar dan masif, agar ada kesadaran dari masyarakat. Selain itu, banyak pihak terlibat sehingga gerakan memberantas malaria menuai hasil maksimal,” ujarnya.

Untuk kabupaten Sikka, memang sudah memasuki praeliminasi malaria, dan diharapkan di 2023 nanti sudah tidak ada lagi ditemukan kasus penyakit malaria.

“Tentu harus bekerja secara bersama dan menggandeng segenap elemen dan lembaga untuk bersama memberantas malaria. Kami yakin, target 2023 bebas malaria bisa tercapai bila semua pihak berkomitmen melakukan tugas dan kewajibannya,” pungkasnya.

Lihat juga...