Pemprov DKI Batalkan Penghargaan untuk Diskotik Colosseum

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah, mengatakan, membatalkan penghargaan Adikarya Wisata 2019 yang diberikan kepada tempat hiburan Colosseum Jakarta untuk kategori hiburan dan rekreasi.

Pemberian penghargaan kepada Colosseum diputuskan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan SK Nomor 388 Tahun 2019 tentang Penetapan Pemenang Adikarya Wisata Tahun 2019, yang dibubuhi tanda tangan cetak Gubernur atas nama Pemprov DKI Jakarta.

“Pemberian penghargaan Adikarya Wisata 2019 pada Colosseum dinyatakan dibatalkan,” ujar Sekda Provinsi DKI Jakarta, Saefullah, di gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019) sore.

Saefullah mengatakan pembatalan penghargaan ini atas beberapa fakta yang ditemukan. Di antaranya terdapat surat dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).

Di dalam laporan yang dikeluarkan tanggal 7 September itu, disebutkan Colosseum menjadi salah satu diskotik yang mendapat perhatian khusus karena kasus narkotika.

“Berdasarkan surat BNNP DKI kepada Kepala Dinas Parbud, tanggal 10 Oktober 2019 menyampaikan hasil kegiatan BNNP terhadap pengunjung di Colosseum 7 September 2019 menjadi catatan kita,” ungkap dia.

Saefullah menjelaskan, penghargaan itu seharusnya diberikan kepada usaha pariwisata yang memiliki kinerja bisnis unggul dan berprestasi. Para penerima dipilih melalui tahapan seleksi dan dianggap menyumbang kontribusi dalam pariwisata di Jakarta.

“Proses penilaian meliputi ada seleksi administrasi, ada penilaian kinerja, ada penilaian akhir dengan mengunjungi tempat usaha,” jelasnya.

Atas surat tersebut, Disparbud telah mengeluarkan surat teguran tertulis kepada pemilik usaha. Serta meminta surat pernyataan tertulis untuk meningkatkan pengawasan.

“Untuk itu, Disparbud telah mengambil dan mengeluarkan surat teguran tertulis, pada pemilik usaha dan telah diminta untuk membuat pernyataan tertulis agar lebih meningkatkan pengawasan yang intensif pada pengunjung,” tuturnya.

Sementara Aggota DPRD Komisi B, Pandapotan Sinaga, akan memanggil Dinas Pariwisata dan Budaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait hal tersebut.

“Kami akan pertanyakan saat rapat kerja,” kata Pandapotan.

Dia menuturkan, Pemprov seharusnya berhati-hati dan transparan dalam memberikan satu penghargaan, terlebih soal diskotik. Jika penghargaan tersebut menuai reaksi kontra, menurut Pandapotan ada satu langkah Pemprov yang dianggap tidak cermat.

Namun, ia tak mau terburu-buru menuding adanya kelalaian mutlak dari Pemprov terkait penganugerahan terhadap Colosseum.

“Ini kurang teliti saat memberikan penghargaannya, atau sudah disiapkan pemberian penghargaannya tiba-tiba BNN baru beri rekomendasi. Kita tidak tahu,” tukasnya.

Ketimbang memberikan penghargaan kepada tempat yang masih dianggap tempat peredaran narkoba, ia mengingatkan Pemprov lebih konsentrasi terhadap pariwisata dan kebudayaan seperti Betawi.

“Peredaran narkoba tidak layaklah diberikan meski diskotek itu taat pajak. Saya lebih suka penghargaan diberikan kepada kegiatan yang mempromosikan kebudayaan kita. Betawi,” tandasnya.

Kemudian, Front Pembela Islam (FPI) Ketua Umum FPI, Sobri Lubis, memprotes keras Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan penghargaan pada diskotik. Dinilai FPI sama sekali tidak berperan dalam membangun karakter masyarakat yang beriman dan bertakwa.

“FPI memprotes keras berbagai kebijakan Pemprov DKI Jakarta dengan contoh di atas,” kata Sobri dari pernyataan tertulis FPI.

Sobri menilai penghargaan tersebut memberikan pesan kepada publik kebijakan Pemprov DKI maksiat friendly. Apalagi, penghargaan tersebut tidak memberikan manfaat sama sekali dalam pembentukan manusia yang beriman dan bertakwa.

“Kebijakan tersebut jelas memberikan pesan yang salah kepada publik, bahwa Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Bapak Anies Baswedan tidak cukup mampu mengubah secara fundamental kebijakan dari ‘maksiat friendly‘ kepada yang berorientasi pada pembangunan manusia beriman dan bertakwa,” tuturnya.

FPI mengingatkan Anies bahwa pada 2017 dia didukung oleh umat Islam yang menginginkan perubahan mendasar di ibu kota. Perubahan itu dari yang hanya mengejar pendapatan daerah yang tinggi, pertumbuhan ekonomi, kehidupan glamor menjadi indeks pembangunan yang lebih mengedepankan aspek kehidupan yang religius dan nyaman bagi semua agama.

Menurut FPI, lebih baik Anies fokus mengembangkan wisata halal, religi, budaya, sejarah yang juga potensial di Jakarta.

Diberitahukan, Anugerah Adikarya Wisata 2019 diberikan Disparbud DKI Jakarta kepada 31 pengusaha bidang jasa pariwisata. Para pemenang dinilai telah berkontribusi dalam mempromosikan pariwisata Jakarta baik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Malam penghargaan Anugerah Adikarya Wisata 2019 diselenggarakan pada 6 Desember 2019 di JW Marriott Hotel, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Pelaksana Tugas (Plt) Disbudpar, Alberto Ali, membenarkan penghargaan tersebut.

Dia mengatakan, Diskotek Colloseum, tempat hiburan malam Hotel 1001 itu, merupakan salah satu pemenang dari 31 kategori bidang usaha pariwisata di Jakarta. Penilaian dilakukan Disbudpar.

“Penghargaan Adikarya Wisata itu ada 31 kategori bukan cuma itu, salah satunya diskotik, dari 31 (kategori) diskotik itu yang menang Colosseum,” kata Alberto di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.

Lihat juga...