hut

Pengelolaan ‘Homestay’ Secara Profesional Daya Tarik Wisatawan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Tata kelola homestay di objek pariwisata Lampung Selatan (Lamsel) terus disempurnakan.

Ahmad Rizal, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tanjung Sembilang, satu pantai di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut, homestay menjadi salah satu daya tarik bagi sektor pariwisata. Ia menyebut tata kelola homestay melengkapi Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas (3A).

Atraksi pantai yang indah di pantai Tanjung Sembilang dengan sajian hutan mangrove dilengkapi akses jalan yang mudah dijangkau. Selain itu setelah atraksi, aksesibilitas terpenuhi kehadiran homestay sebagai amenitas atau daya dukung terus ditingkatkan.

Memiliki kekhasan wisata berbasis konservasi, sejumlah rumah warga mulai dikelola sebagai homestay. Pengelolaan tersebut didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang telah terlatih.

Ahmad Rizal, pengelola objek wisata pantai Tanjung Sembilang, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, saat melakukan kegiatan pengawasan di objek wisata bahari selama kemarau agar tidak terjadi kebakaran, Minggu (1/12/2019) – Foto: Henk Widi

Ahmad Rizal menyebut sejumlah anggota Pokdarwis telah mendapat pembekalan tata kelola homestay. Sebagai wilayah yang memiliki ciri khas pantai di dekat hutan mangrove, homestay yang dibuat berkonsep dekat dengan alam.

Sebagian besar warga yang dominan merupakan etnis dari Wajo, Bone memiliki rumah panggung khas pesisir pantai.

“Ciri khas dengan keunikan yang menjadi sejarah bagi warga sekaligus akan memberi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung karena rumah yang dibuat berbasis keunikan adat istiadat sekaligus bisa difungsikan sebagai homestay,” ungkap Ahmad Rizal saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (1/12/2019).

Sebagai wilayah yang identik dengan kampung Bugis, Ahmad Rizal menyebut jelang libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 Pokdarwis telah berbenah. Objek wisata bahari pantai Tanjung Sembilang menurutnya akan menjadi daya tarik karena memiliki keunikan.

Potensi pariwisata berbasis sumber daya alam, budaya, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat disatukan dalam pariwisata bahari.

Mengantisipasi adanya wisatawan yang berniat menginap, menikmati suasana keheningan di hutan mangrove, homestay sudah disediakan. Selain itu camping zone (area berkemah), membuat hammock bagi pecinta wisata petualangan juga telah disediakan.

Pembenahan treking mangrove menggunakan kayu, bambu menjadikan objek wisata pantai Tanjung Sembilang jadi pilihan liburan.

Treking mangrove di pantai Tanjung Sembilang, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, mengundang wisatawan untuk berkunjung, Minggu (1/12/2019) – Foto: Henk Widi

“Para pengelola dalam hal ini anggota Pokdarwis telah dibekali cara untuk menyambut dan melayani wisatawan dengan baik,” tutur Ahmad Rizal.

Ia menuturkan sebagai lokasi wisata bahari berbasis ekosistem, mangrove menjadi salah satu sajian utama. Pihaknya juga tengah membuat sejumlah saung di kawasan tersebut agar bisa dinikmati untuk wisatawan yang ingin menginap lebih dari satu hari.

Sebab suasana keindahan pesisir dengan hutan mangrove bisa diselingi dengan kebersamaan masyarakat nelayan tangkap.

Pengelolaan homestay berbasis masyarakat tidak harus menyajikan penginapan yang mewah.

Zakaria, salah satu pegiat pariwisata Lamsel menyebut homestay identik dengan rumah warga. Sehingga wisatawan yang berkunjung bisa berinteraksi dengan pemilik rumah sehingga merasa homey atau kerasan.

Meski homestay berkonsep sederhana dengan bangunan tradisional namun mengutamakan kebersihan, kenyamanan.

“Fasilitas utama listrik, air, tempat tidur, toilet yang representatif agar wisatawan nyaman menjadi syarat mutlak,” papar Zakaria.

Sebagai komitmen untuk menghadirkan homestay yang berbasis masyarakat, perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi dari Pokdarwis, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta para konsumen kerap diperlukan.

Tujuan evaluasi dilakukan agar pemilik sekaligus pengelola homestay menciptakan tempat penginapan yang nyaman. Pengelolaan sampah rumah tangga di homestay menurutnya menjadi bukti pengelolaan secara profesional.

Zakaria menyebut pada tahap awal pengelola homestay tidak hanya mengejar untung (profit oriented). Ia bahkan berharap pengelola menciptakan ide-ide baru dan kreativitas agar wisatawan yang sudah berkunjung bisa mengajak rekannya untuk berkunjung.

Terlebih jelang libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 sejumlah homestay diprediksi akan mengalami peningkatan pemesanan.

Sejumlah homestay yang kerap dijadikan pilihan diantaranya berada di sekitar pantai. Zakaria menyebut meski kejadian tsunami Selat Sunda pada Desember 2018 silam menjadi kenangan buruk bagi dunia pariwisata Lamsel, kampanye positif untuk berwisata ke Lamsel masih tinggi.

Jelang 1 tahun tsunami Selat Sunda di Desa Kunjir dan sejumlah desa pesisir bahkan telah disediakan agenda untuk memperingati dengan doa dan berbagai atraksi.

Kepada sejumlah Pokdarwis pengelola homestay, peluang libur akhir tahun dan awal tahun sekaligus tantangan. Sebab penyiapan fasilitas homestay  yang memadai akan menjadi daya tarik wisatawan.

Selain fasilitas memadai, akses dan atraksi yang disediakan akan menjadi penarik. Sebab sejumlah objek wisata tengah berlomba-lomba menarik wisatawan dengan promosi dan berbagai acara yang menarik saat libur akhir tahun dan awal tahun.

Lihat juga...