Perajin Benang Antih di Purbalingga Mulai Produksi Kain

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Pemkab Purbalingga terus berupaya mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan usahanya.

Para perajin benang antih di Desa Tumanggal, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga kini mulai memproduksi kain, sebelumnya benang hasil produksi mereka dijual ke Pekalongan dan dibuat kain oleh perajin Pekalongan.

Salah satu pelaku usaha benang antih yang kini juga memproduksi kain, Saeful Yuniarto, mengatakan, sejak dulu desanya dikenal sebagai penghasil benang antih. Ada ratusan perajin yang memproduksi benang dan kemudian menjualnya ke luar daerah.

“Sekitar satu tahun lalu, Bupati Purbalingga, Ibu Tiwi datang ke desa ini dan meminta agar perajin benang mulai mencoba membuat kain juga. Ide tersebut saya tangkap dan langsung saya lakukan, ternyata bisa mendongkrak penjualan cukup lumayan.” kata Saeful, Selasa (31/12/2019).

Lebih lanjut Saeful menjelaskan, kain tenun dari benang antih ini, saat dijual ke Pekalongan ternyata laku di pasaran. Warga desa biasa menyebutnya dengan Kain Tumanggal.

Namun, belum banyak perajin benang antih yang ikut beralih membuat kain. Dari sekitar 700 perajin benang antih di desa tersebut, baru tiga perajin yang memproduksi Kain Tumanggal.

“Butuh waktu untuk mengajak para perajin beralih memproduksi kain, karena untuk menenun benang memang dibutuhkan keahlian dan kesabaran. Untuk pembuatan Kain Tumanggal selebar 60 centimeter dan panjang 2 meter saja, dibutuhkan waktu satu hari,” terangnya.

Namun, ketekunan Saeful untuk belajar menenun dan memproduksi kain, membuahkan hasil manis. Sebab, untuk satu Kain Tumanggal ukuran di atas, laku dijual dengan harga Rp 250.000.

“Selama ini saya masih menjual kain melalui media sosial dan ada beberapa pedagang dari Pekalongan yang datang ke sini. Saya belum membuka pemasaran lebih lebar lagi, karena memang tenaga untuk membuat kain masih terbatas, begitu pula peralatan tenunnya,” kata Saeful.

Terpisah, Kepala Desa Tumanggal, Surati mengatakan, jumlah perajin benang di Desa Tumanggal ada ratusan dan produksi benang mencapai 2 ton lebih per bulan.

Dulu, biasanya hasil produksi tersebut dikirim ke Pekalongan dan Yogyakarta. Tetapi sekarang, ada beberapa perajin yang mengolah sendiri benang menjadi kain tenun.

“Kendala utama perajin benang di sini untuk memproduksi kain tenun yaitu karena belum memiliki alat tenun serta butuh pelatihan untuk menenun,” jelasnya.

Lihat juga...