Perlu Kombinasi Teknologi dan Budaya untuk Atasi Masalah Lingkungan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MALANG — Mengantisipasi musim hujan yang berpotensi menyebabkan banjir, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang me-launching Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen (GASS) yang akan berlangsung setiap hari Jumat hingga 27 Maret 2020.

Guru Besar Bidang Konservasi Sumber Daya Air Teknik Pengairan UB, Prof Dr Ir Mohammad, menjelaskan terkait penanganan banjir saat launching GASS di jalan Panggung, Jumat (27/12/2019). Foto: Agus Nurchaliq

Guru Besar Bidang Konservasi Sumber Daya Air Teknik Pengairan, Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa harus ada kombinasi antara teknologi dan budaya khususnya gotong royong dalam menyelesaikan permasalahan banjir di kota Malang.

“Beberapa teknologi seperti penerapan sumur injeksi maupun saluran air sudah kita lakukan. Tapi kalau hanya teknologi saja yang diterapkan, saya rasa tidak akan selesai. Harus ada kombinasi antara teknologi dan budaya,” sebutnya saat launching GASS di jalan Panggung, Jumat (27/12/2019).

Saat ini gotong royong di tengah masyarakat sudah menurun tidak seperti dulu dimana begitu banyak orang yang kerja bakti. Tapi sekarang orang sudah mulai banyak yang acuh tak acuh.

“Kalau teknologi terus kita suplay terus tanpa ada budaya, maka sumur injeksi, saluran air, hanya tinggal kenangan saja dan banjir akan terus terjadi. Maka harus kombinasi antara teknologi konservasi dan budaya dijadikan satu,” tuturnya.

Oleh karena itu GASS adalah suatu gerakan yang harus terus menerus dikawal, terlebih penyebab banjir di kota Malang bukan hanya sampah tapi juga endapan sedimen yang terdapat pada saluran air, pungkasnya.

Sementara itu, Walikota Malang, Sutiaji mengatakan, GASS menjadi awal yang baik bagi kepedulian masyarakat berkaitan dengan masalah kebersihan.

“Ini bukan hanya sekedar di-launching tapi sebuah gerakan yang harus benar-benar dilaksanakan sebagai kepedulian kita terhadap lingkungan,” ujarnya

Disampaikan, beberapa dinas terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang setiap minggunya keliling melakukan pembersihan sampah di selokan maupun saluran.  Sayangnya, hampir setiap minggu pula dilokasi yang sama masih didapati jumlah sampah yang sama.

“Misal di titik A pada minggu ini dibersihkan dan terkumpul satu truk sampah. Tapi kemudian di minggu berikutnya ketika dibersihkan kembali jumlah sampah yang terkumpul tetap sama, satu truk,” ungkapnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan kebersihan membuang sampah pada tempatnya masih sangat amat memprihatinkan.

Lihat juga...