Pesan Natal Bupati Sikka: Jaga Kebersihan Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Perayaan Natal di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diperingati dalam perayaan ekaristi di Replika Betlehem Nelle yang dihadiri ribuan umat Katolik.

Misa perayaan Natal yang dipimpin Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Pr ini mengambil tempat di sebuah bukit di kecamatan Nelle di tengah alam terbuka dengan pepohonan yang tampak menghijau.

Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Pr (kiri), bersama bupati kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Fransiskus Roberto Diogo. Usai misa Natal di Replika Betlehem, Rabu (25/12/2019). Foto: Ebed de Rosary

“Hari ini kita dikuduskan, kita mulai hidup baru karena Tuhan begitu murah hati. Tuhan menguduskan kita semua tanpa kita berbuat baik sekalipun,” kata bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Rabu (25/12/2019).

Dikatakan Robi sapaannya, dirinya mengajak semua umat Katolik agar mulai hari ini hingga tahun-tahun mendatang mengurangi berbuat yang tidak baik, kurangi berbuat dosa.

Dirinya meminta agar umat Katolik warga kabupaten Sikka taat terhadap kesepakatan mulai dari hal-hal yang kecil termasuk permasalahan sampah.

“Untuk kecamatan Nelle sudah bagus kalau dari aspek persampahan dan ini harus dipertahankan serta ditingkatkan. Begitu pula ketika kita berada di tempat lain khususnya di kota Maumere, mari kita menjaga kebersihan,” pesannya.

Ini merupakan perbuatan baik kata Robi, agar menjaga kota Maumere tetap bersih. Karena banyak tamu yang datang berkunjung ke kota ini.

Robi menyebutkan, beberapa waktu lalu Mama Belgi pemilik beberapa panti asuhan di kabupaten Sikka mengatakan, setiap 100 meter sepanjang jalan di kota Maumere pasti ada sampah yang begitu banyak.

“Dengan berbuat baik, kita membersihkan lingkungan hidup kita. Dengan begitu kita sudah menghargai berkat dan kehadiran Tuhan Yesus yang menguduskan kita semuanya,” ujarnya.

Sementara itu, Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Pr mengatakan, lebih dari separuh pengalaman hidup Yesus adalah pengalaman penolakan dan pengkhianatan hingga kematian-Nya.

Bersama kedua orang tua-Nya, Yesus kerap terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Pertama sebutnya, ke Betlehem sebagai warga negara yang taat kepada perintah kaisar.

“Kedua, ke Mesir dimana sebagai manusia yang mencari keamanan Yesus dan orang tuanya lari dari kekuasaan yang mencengkeram dan membinasakan,” terangnya.

Pelarian keluarga kudus ini sebut Edwaldus, untuk mempertaruhkan sebuah budaya kehidupan, bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya, merantau dari satu hati ke hati lainnya.

Natal datang lagi, ucap Uskup Maumere, Natal hadir lagi pada persimpangan hidup kita yang entah ke mana kita pun hanya bisa berpasrah dan berharap pada kasih Tuhan.

“Natal selalu menghadirkan kegembiraan dan suka cita yang alami yang teduh dan yang damai. Ketika kelahiran Yesus menjadi tanda berkat bagi kehidupan pribadi, keluarga dan bersama pada umumnya,” ungkapnya.

Tanda berkat itulah tegas Edwaldus, yang hendak disyukuri. Tanda berkat yang menebus dosa, mengampuni dosa dan kesalahan serta meneguhkan dan menguatkan manusia dalam keberhasilan dan kegagalan.

Lihat juga...