Petani di Desa Mandas-Sumba Timur Butuh Traktor

Editor: Koko Triarko

WAINGAPU – Para petani tadah hujan di Desa Mandas, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, saat ini sangat membutuhkan bantuan traktor dan bibit padi dan jagung, seiring datangnya musim penghujan di wilayah itu.

Kebutuhan traktor sangat penting, sebab kondisi tanah pertanian yang berbatu kapur sulit untuk digali menggunakan cangkul, sehingga lahan pertanian sulit dibajak.

“Pemerintah harusnya bantu traktor ke setiap desa, minimal dua atau tiga unit agar petani bisa membajak lahan pertanian mereka,” kata Kalikit Lundu, mantan Kepala Desa Mandas, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, saat ditemui di rumahnya, Jumat (13/12/2019).

Kalikit Lundu, mantan Kepala Desa Mandas, kecamatan Katala Hamu Lingu kabupaten Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ditemui di rumahnya, Jumat (13/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Kalikit, rata-rata petani di desa Manda dan desa-desa sekitarnya merupakan petani lahan kering atau tadah hujan, sehingga hanya menanam saat musim hujan saja. Dengan kondisi yang ada, maka tanah pertanian setelah dipanen akan dibiarkan terlantar minimal selama enam bulan, yang tentunya akan membuat tanah mengeras.

“Makanya kami kesulitan kalau mencangkul tanah dan harus membiarkan lembek dahulu terkena hujan, karena lahan lama sekali tidak digarap. Kalau pakai traktor, maka dalam beberapa jam saja lahan kami sudah dibajak,” ucapnya.

Kalikit juga meminta, agar pemerintah membantu para petani di desanya dan desa lainnya dengan bibit jaging dan padi ladang, di mana saat musim kemarau panjang saat ini banyak bibit yang sudah dikonsumsi.

Biasanya, para petani menyiapkan hasil panen padi dan jagung untuk dijadikan  bibit untuk ditanam di musim tanam berikutnya, tetapi karena kemarau panjang, banyak tanaman petani tidak berproduksi.

“Dampak kemarau panjang ini petani sangat kesulitan sekali menanam, sebab curah hujan tidak menentu sehingga petani takut mengalami gagal tanam dan gagal panen,” sebutnya.

Elsa Rambu Nau, warga desa Mandas lainnya, mengatakan, hampir seratus persen warga di desanya menggantungkan hidup dari bertani jagung dan padi, serta memelihara ternak seperti sapi, kerbau, babi dan kambing.

Saat musim kemarau panjang saat ini, kata Elsa, petani terpaksa menjual ternak mereka, sebab rumput-rumput banyak yang mati sehingga petani kesulitan mendapatkan pakan ternak.

“Kemarau panjang ini membuat rumput mati semua, sehingga ternak kami kesulitan mendapatkan makanan. Banyak petani yang menjual ternaknya untukmembeli kebutuhan rumah tangga,” ungkapnya.

Lihat juga...