Petani di Lamsel Buat Sumur Bor Penuhi Kebutuhan Air Persawahan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Memasuki masa tanam pertama (MT1) lahan pertanian di wilayah Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) masih kesulitan air.

Suminah, petani di Desa Pasuruan menyebut normalnya bulan Desember tanaman padi sudah memasuki proses pemupukan. Namun imbas pasokan air berkurang masa tanam mengalami kemunduran.

Hingga akhir Desember 2019 ia menyebut pasokan air masih kurang sehingga harus membuat sumur bor. Penyediaan sumur bor untuk kebutuhan pasokan air sawah dilakukan untuk proses masa tanam. Meski sumber air untuk pengolahan lahan bisa diperoleh dari Gunung Rajabasa namun debit yang kecil masih belum cukup memenuhi lahan persawahan. Sebagian lahan sawah yang belum mendapat air bersih bahkan dibiarkan terbengkalai.

Sebagian lahan sawah yang belum mendapat pasokan air dibiarkan terbengkelai menunggu hujan turun di wilayah Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Rabu (28/12/2019). -Foto: Henk Widi

Saluran air irigasi alami dari Gunung Rajabasa menurut Suminah sejak awal November harus dibagi untuk lahan seluas ratusan hektare. Beberapa pemilik lahan sawah yang tidak mendapat bagian air memilih membuat sumur bor meski harus mengeluarkan biaya yang besar. Biaya pembuatan sumur bor yang besar disebutnya akan tertutupi dari hasil panen.

“Biaya pembuatan sumur bor saat awal memang mahal namun untuk proses pengolahan lahan air bisa dimanfaatkan agar bisa menanam padi saat pasokan air mulai berkurang pada masa tanam pertama,” ungkap Suminah saat ditemui Cendana News pada lahan sawahnya, Sabtu (28/12/2019).

Pada lahan seluas dua hektare ia menyebut hanya satu hektare lahan yang mendapat pasokan air. Sebanyak satu hektare lahan yang berada pada bagian bawah disebutnya tidak mendapat pasokan air sehingga fasilitas sumur bor sangat dibutuhkan. Melalui kelompok tani (Poktan) dan secara mandiri pembuatan sumur bor mulai dilakukan petani agar tetap bisa menggarap lahan sawah.

Lihat juga...