Petani di Lamsel Manfaatkan ‘Lumbung Padi’ Pabrik Penggilingan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Memiliki simpanan gabah hingga panen berikutnya menjadi kearifan lokal petani di wilayah Lampung Selatan (Lamsel). Salah satu strategi menyimpan gabah dilakukan pada pabrik penggilingan padi atau penyelepan.

Warna, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut konsep lumbung padi masih dijalankan petani untuk menyimpan stok hasil panen padi. Dia menyebut di desanya pernah dibuat fasilitas lumbung padi bantuan pemerintah.

Namun lumbung yang jauh dari lokasi penggilingan padi membuat fasilitas tersebut kurang efektif. Sebagian petani memilih menyimpan gabah kering giling (GKG) di rumah masing masing, sebagian di pabrik penggilingan padi yang memiliki gudang. Penyimpanan sistem titip pada gudang sekaligus berfungsi sebagai lumbung lebih efektif.

Warna,salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan yang memilih menyimpan padi di penggilingan padi yang berfungsi sebagai lumbung,Selasa (10/12/2019). -Foto: Henk Widi

Cara tersebut menurut Warna diterapkan oleh warga sejak puluhan tahun silam. Penitipan GKG pada gudang pabrik menurutnya sekaligus menjadi tabungan. Pada lokasi gudang disiapkan tempat yang kering, alat pengusir tikus elektrik sehingga gabah aman. Pemilik gudang bahkan memiliki sistem pemadaman api dan antisipasi kebakaran menjaga keamanan gabah yang dititipkan.

“Memiliki gabah yang dititipkan sama seperti menabung pemilik padi akan diberi catatan jumlah gabah yang disimpan umumnya memakai karung dan bisa diambil dalam bentuk beras saat diperlukan,” ungkap Warna saat ditemui Cendana News, Selasa (10/12/2019).

Usai panen raya padi di wilayah Penengahan,Warna menyebut dipastikan empat hingga lima bulan lagi gabah sulit diperoleh. Stok GKG yang disimpan sebagian merupakan modal untuk arisan beras yang masih dilakukan warga. Arisan beras sebanyak 50 kilogram dilakukan setiap bulan oleh sekitar 20 orang yang digunakan untuk hajatan pernikahan dan kebutuhan pendidikan anak.

Warna menyebut selain menyimpan gabah di rumah sebagian disimpan pada gudang penggilingan padi. Tanpa harus menyewa, sistem penitipan memberi keuntungan kedua belah pihak. Bagi pemilik gabah yang tidak memiliki ruangan luas di rumah, gudang di pabrik jadi alternatif. Bagi pemilik pabrik hasil penggilingan akan menjadi keuntungan.

“Saat saya butuh uang tinggal menjualnya kepada pemilik pabrik penggilingan sesuai harga yang berlaku,” tutur Warna.

Warna menyebut menyimpan gabah varietas Ciherang setelah sebagian dijual dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Sebanyak 1 ton GKG yang disimpan akan dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi dan keperluan lain hingga panen berikutnya. Simpanan GKG di pabrik sekaligus bisa menjadi agunan bagi pinjaman uang kepada pemilik pabrik dengan sistem pemotongan beras saat digiling.

Giatno (kiri) pemilik usaha penggilingan padi yang menyediakan gudang penyimpanan gabah milik petani untuk bisa digiling saat diperlukan, sistem titip gabah menjadi cara menabung petani di Penengahan, Selasa (10/12/2019). -Foto: Henk Widi

Cara menabung gabah menurut Warna lebih efesien sebab harga beras cenderung naik saat panen berakhir. Saat panen raya harga GKP mencapai Rp4.700 atau Rp470.000 perkuintal. Setelah digiling menjadi beras bisa dijual minimal Rp10.000 per kilogram dan akan berangsur naik mencapai Rp12.000 saat mendekati masa tanam atau stok gabah menurun. Penyimpanan gabah di gudang memudahkannya mendapat beras baru setelah digiling.

Giatno, pemilik usaha penggilingan padi atau penyelepan mengaku sistem titip masih umum dilakukan. Petani yang memiliki hasil panen berlebih akan menitipkan hasil panen untuk sejumlah keperluan. Keperluan yang paling utama adalah konsumsi bulanan rata rata satu karung berisi 50 kilogram GKG. Saat digiling akan menghasilkan beras mencapai 40 kilogram.

“Jasa titip tidak dipungut hanya bagi hasil dari jasa penggilingan rata rata 1 kilogram untuk beras 10 kilogram sehingga cukup ringan,” beber Giatno.

Sistem titip menurutnya menjadi kearifan lokal dalam menjaga kepercayaan. Catatan jumlah GKG yang disimpan pada gudang layaknya memiliki buku tabungan. Saat gabah digiling pemilik akan mendapat tanda pengurangan gabah yang disimpan pada gudang. Pemilik gabah diuntungkan bisa menyimpan, mengambil sewaktu waktu dalam bentuk beras sekaligus menjualnya.

Penyimpanan GKG di gudang penggilingan menurut Giatno akan menjadi cara ketahanan pangan. Sebab masa tanam yang mundur akibat penghujan belum merata akan bisa diantisipasi dengan stok gabah yang tersimpan.

Selain menolong petani dari kekurangan bahan pangan, sistem titip menjadi cara agar petani tidak menjual gabah hingga panen berikutnya. Puluhan petani dengan total puluhan ton GKG diakuinya tersimpan di gudang yang sekaligus berfungsi sebagai lumbung.

Lihat juga...