Petani di Lamsel Mulai Tanam Komoditas Perkebunan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Meski curah hujan yang turun di wilayah Lampung Selatan belum stabil, sejumlah petani di Bakauheni mulai melakukan penanaman sejumlah komoditas pertanian, seperti pisang dan pohon buah lainnya.

Suradi, petani di Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, menyebut hujan turun sejak sepekan terakhir membuat lahan mulai basah. Ia mulai melakukan penanaman pisang, singkong dan tanaman lain di kebun miliknya.

Sebelum proses penanaman, Suradi telah menyiapkan sejumlah lubang berisi pupuk kompos dari sampah daun dan kotoran kambing. Memanfaatkan pupuk kompos, bibit pohon pisang akan memiliki perakaran yang bagus dan merangsang pertumbuhan tunas. Tanaman pisang yang ditanam merupakan jenis pisang janten dan kepok yang memiliki daya tahan saat kemarau.

Tanaman pisang janten disebutnya sengaja ditanam pada saat hujan mulai turun di wilayah tersebut. Sebelumnya saat kemarau melanda, selama kurun waktu lima bulan lebih sebagian tanaman pisang miliknya kering. Selain kering akibat kemarau sebagian tanaman mengalami kematian akibat terbakar.

“Penanaman pohon pisang sekaligus untuk mendapatkan bibit, karena selama kemarau banyak tanaman yang mati, saat hujan mulai turun komoditas pisang bisa kembali dibudidayakan dengan sistem tumpangsari dengan tanaman lain,” ungkap Suradi, saat ditemui Cendana News tengah melakukan penanaman pohon pisang di kebunnya, Senin (9/12/2019).

Menurut Suradi, penanaman pohon pisang menjadi sumber penghasilan baginya. Meski melakukan penanaman bibit baru, ia memastikan sebagian tanaman yang masih bertahan kembali berbuah. Selain tanaman pisang, pohon buah alpukat, petai dan kakao yang dimilikinya masih memberi penghasilan. Penanaman bibit baru disebut Suradi sekaligus meregenerasi tanaman yang sudah tidak produktif.

Suradi menyebut, hujan yang turun awal Desember diharapkan akan makin rutin turun. Sebab, hujan yang rutin bisa dimanfaatkan petani melakukan penanaman berbagai jenis sayuran.

Tinggal di wilayah perbukitan, berimbas petani mengandalkan musim hujan untuk melakukan penanaman komoditas pertanian. Keberadaan sumur gali yang kering selama kemarau, akan kembali terisi sehingga bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.

Petani lain di desa yang sama, Sahbana, memanfaatkan tibanya musim penghujan untuk menanam bibit pohon alpukat dan durian. Proses penanaman bibit alpukat pada lahan kebun saat penghujan belum stabil, dilalukan dengan sistem tumpangsari dengan pohon pisang. Pada lahan kebun miliknya, ia menanam pisang jenis kepok, raja nangka, muli dan janten.

“Penanaman bibit pohon buah dilakukan berdekatan dengan rumpun pohon pisang, agar pasokan air tetap terjaga,” beber Sahbana.

Penanaman bibit pohon buah menurut Sahbana, dibantu keberadaan sumur gali. Sumur sedalam 16 meter dialirkan menggunakan mesin submersible untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan proses penyiraman. Curah hujan yang belum stabil di wilayah tersebut, menurut Sahbana membuat proses penyiraman menggunakan air sumur masih perlu dilakukan.

Komoditas buah alpukat jenis Miki merupakan salah satu andalan di desa tersebut. Penanaman ulang bibit buah alpukat menurut Sahbana menjadi cara mendapatkan tanaman baru. Sebab, pertumbuhan tanaman akan lebih cepat selama musim penghujan. Bibit tanaman alpukat dan durian yang ditanam pada lahan kebun, dominan merupakan bibit dengan sistem sambung pucuk yang akan cepat bertunas saat penghujan tiba.

“Bibit sebelumnya ditanam pada polybag, lalu dipindah pada lahan saat hujan tiba agar perakaran lebih maksimal,” tutur Sahbana.

Penanaman berbagai jenis tanaman buah dominan alpukat, menurut Sahbana sekaligus regenerasi tanaman tua. Sebab, sebagian tanaman alpukat yang berusia lebih dari puluhan tahun mulai mengalami penurunan produksi.

Sebagai komoditas unggulan, Sahbana menyebut harga buah alpukat mencapai Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Meski kemarau, sebagian tanaman alpukat miliknya masih tetap berbuah dan makin produktif saat penghujan.

Tibanya musim penghujan meski belum stabil juga dimanfaatkan oleh Hasan, pemilik kebun sawit. Petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan itu memilih melakukan pemangkasan daun. Pemangkasan daun menjadi cara merangsang pertumbuhan bunga dan daun yang baru. Sebab, selama kemarau sebagian tanaman sawit dari total 300 pohon mengalami kekeringan.

“Sebagian tanaman sawit bahkan harus ditebang untuk dilakukan peremajaan saat musim penghujan mulai stabil, ” beber Hasan.

Tanaman kelapa sawit akan diremajakan dengan bibit baru pada bulan Januari mendatang. Pada tahap awal saat penghujan belum stabil, Hasan menyiapkan ratusan lubang media tanam untuk penanaman bibit kelapa sawit baru. Lubang tersebut telah diberi pupuk kompos, dolomit, yang akan siap digunakan untuk penanaman bibit sawit baru.

Lihat juga...