hut

Petani di Sikka Keluhkan Pupuk Sering Datang Terlambat

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Para petani lahan kering maupun lahan basah di Sikka, harus tergabung dalam kelompok tani, agar bisa mendapatkan rekomendasi dari dinas pertanian, untuk membeli pupuk.

Hal ini menyebabkan para petani di kabupaten ini yang tidak tergabung dalam kelompok tani, terpaksa menanam tanaman palawija, seperti jagung, kacang hijau, kacang tanah dan singkong di lahan kebun tanpa menggunakan pupuk kimia.

“Kalau tidak masuk jadi anggota kelompok, kita sulit mendapatkan pupuk, karena tidak dilayani saat membeli,” kata kata Sergius Seri, petani di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (2/12/2019).

Paulus de Cruce, anggota Kelompok Tani Suka Maju Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ditemui di kebunnya, Senin (2/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Sergius mengaku sering meminta pupuk dari anaknya yang menjadi anggota kelompok tani, sehingga bisa dipergunakan untuk memupuk tanaman jagung di areal kebunnya yang seluas satu hektare lebih.

Terkadang, sebutnya, dirinya mendapatkan bantuan bibit jagung hibrida dari dinas pertanian, namun bantuan tersebut diberikan saat petani telah menanam jagung.

“Harusnya bantuan bibit atau pupuk diberikan sebelum musim tanam tiba, sehingga bisa dipergunakan. Ini malah diberikan setelah jagung kami tanam, sehingga bibitnya tidak terpakai dan dijadikan makanan untuk ayam peliharaan,” ungkapnya.

Paulus de Cruce, anggota Kelompok Tani Suka Maju Desa Langir, menyebutkan, pupuk urea yang diterima anggota kelompoknya sering terlambat tiba di tangan petani.

Paulus pun mengaku bingung, kenapa pupuk sering tiba di tangan petani selalu terlambat, sehingga terpaksa pupuk tersebut pun terpaksa dipergunakan saja, meskipun tidak memberi dampak bagi tanaman jagungnya.

“Tanaman jagung kalau seminggu ditanam baru diberi pupuk urea, dan sebulan kemudian baru diberi pupuk urea lagi, supaya hasil panennya bagus dan jagungnya berukuran besar,” terangnya.

Bila menggunakan pupuk urea, tambah Paulus, dalam satu batang jagung bisa terdapat tiga tongkol jagung dan berukuran besar, sementara kalau tidak menggunakan pupuk urea, jagungnya akan berukuran kecil.

Saat jagung hendak berbunga, ungkapnya, petani harus memberi pupuk NPK lagi, tapi mereka tidak mendapatkan pupuk tersebut. Makanya, dia mengaku pasrah saja hasil panennya seperti apa, sebab mau membeli pupuk juga tidak bisa.

“Sebagai petani, kami berharap agar bantuan bibit dan pupuk kalau diberikan pemerintah harus sebelum musim tanam. Pupuk NPK juga kalau bisa dibeli, maka petani diizinkan membelinya,” harapnya.

Lihat juga...