Petani Koja Doi Undur Masa Tanam hingga Hujan Lebat

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kemarau yang berkepanjangan memberi dampak kepada para petani di Kabupaten Sikka, termasuk warga pulau Koja Doi dan pulau Koja Gete di Desa Koja Doi Kecamatan Alok Timu, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bisanya warga sudah mulai menanam di ladang akhir bulan November atau awal bulan Desember 2019 karena hujan sudah mulai turun di waktu-waktu tersebut. Namun hingga pertengahan Desember 2019, hujan belum turun maksimal. Meskipun hujan tetapi tidak lebat sehingga tanah masih kering dan belum bisa ditanami.

“Kami belum bisa tanam padi dan jagung di ladang meskipun sudah dibersihkan karena hujan lebat belum juga turun,” kata Samyadin, warga Desa Koja Doi, Sabtu (21/12/2019).

Dia mengaku, dirinya dan juga petani lainnya yang memiliki lahan kebun di pulau Koja Gete sudah mulai membersihkan lahan mereka sejak awal bulan November 2019 lalu agar saat hujan mulai turun sudah bisa ditanami. Namun perkiraan masyarakat meleset sehingga terpaksa harus menunggu hujan lebat dahulu baru mulai menanam padi ladang dan jagung lokal yang selama musim tanam rutin dilakukan.

“Terpaksa kami harus menunggu hujan lebat satu dua hari dahulu baru mulai bersiap untuk menanam. Kebun sudah dibersihkan dari rumput dan sudah dicangkul tanahnya. Kami hanya siap tanam saja,” sebutnya.

Kepala Desa Koja Doi Kecamatan Alok Timur, Sikka, NTT saat ditemui di rumahnya, Sabtu (21/12/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Kepala Desa Koja Doi, Hanawi pun mengakui biasanya warga yang memiliki lahan sudah mulai menanam padi dan jagung paling lama awal bulan Desember 2019. Akibat kemarau berkepanjang kata dia, warga pun terpaksa mencari pekerjaan lain dengan menjadi tukang bangunan atau menjadi nelayan dengan menumpang di kapal-kapal ikan milik nelayan pulau Pemana dan lainnya.

“Kalau untuk makan sehari-hari saja warga hanya memancing menggunakan sampan di perairan Desa Koja Doi atau menyelam dan memanah ikan. Hasilnya juga kadang mereka jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Hanawi menyebut musim kemarau tahun 2019 ini sangat panjang bahkan suhu udara pun terlampau panas hingga mencapai 35 derajat celsius, sehingga membuat masyarakat banyak yang memilih bersantai di pesisir pantai.

Saat malam hari, kata dia, cuaca tetap panas dan angin laut kadang tidak bertiup sehingga warga sering duduk-duduk di bale-bale bambu di depan rumah sambil bercengkerama agar tidak kegerahan.

“Tahun ini kemarau sangat panjang bahkan cuaca sangat panas. Saat bulan Juni lalu cuaca sangat dingin bahkan membuat mengggil, tetapi sejak bulan Agustus cuaca kembali panas,” tuturnya.

Lihat juga...