Potensi Batik Purbalingga ‘Go Nasional’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mendorong sekolah di Purbalingga untuk bersinergi dengan para perajin batik, demi mendongkrak pemasaran batik Purbalingga.

Sinergitas tersebut dalam bentuk, sekolah atau siswa yang mendesain beragam batik dan perajin batik yang mengeksekusi hingga menjadi batik.

“Saya melihat desain batik karya para siswa SMA Negeri 1 Bobotsari Purbalingga ini bagus dan beragam, jika disinergikan dengan perajin batik, pasti akan lahir karya batik yang lebih segar dan membuka peluang pasar lebih luas. Tidak menutup kemungkinan sampai go nasional,” kata Bupati, saat menghadiri acara pameran dan fashion show batik SMA N 1 Bobotsari, Senin (9/12/2019).

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, Senin (9/12/2019), terkagum-kagum melihat desain batik salah satu siswa yang dipajang di ruang lobi SMA N 1 Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Foto: Hermiana E. Effendi

Kecamatan Bobotsari sendiri dikenal sebagai salah satu daerah sentra batik di Kabupaten Purbalingga. Sehingga sekolah di wilayah tersebut menjadikan batik sebagai muatan lokal.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan SMA N 1 Bobotsari ini, selain mengasah kemampuan siswa dalam merancang desain batik dan busana batik, juga mengangkat kearifan lokal,” tutur bupati yang biasa disapa Tiwi ini.

Bupati menyampaikan, ia selalu mendorong agar batik Purbalingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dan melihat hasil desain para siswa tersebut, Tiwi mengaku optimis, batik Purbalingga akan mampu merambah pasar nasional.

“Jadi para siswa nanti yang membuat desainnya, kemudian perajin batik yang melakukan pencantingan, pewarnaan dan pembatikan, kolaborasi yang perlu untuk dicoba,” tuturnya.

Sementara itu, guru mata pelajaran seni budaya SMAN 1 Bobotsari, Djentot Subechi, mengatakan, kegiatan pameran dan fashion show batik merupakan ide dan kreativitas siswa. Semua karya desain batik yang dipamerkan merupakan karya siswa kelas XII, termasuk para model diperankan para siswa kelas XII.

“Mereka mendesain batik sendiri, kemudian batik tersebut diperagakan oleh temannya. Ada yang dikombinasikan dengan berbagai pernik hiasan tambahan, ada yang dipadukan dengan selendang dan lain-lain, intinya kami membuka ruang seluas-luasnya untuk siswa berkreasi dengan batik,” terangnya.

Pihak sekolah juga memajang berbagai macam motif batik di halaman dan beberapa ruangan. Menurut Djentot Subechi, total ada 174 motif batik yang dipajang.

Lihat juga...