Prajurit Perang Puputan

CERPEN A. WARITS ROVI

ANGIN gegas tingkahi ilalang. Ilalang hijau yang bunga-bunganya menggesek betis Nur, yang tengah menjemur pakaian prajurit kami di sebujur ranting kering.

Aku berusaha tak melihat tubuh Nur, selain hanya mengetahui semua yang ia lakukan dari bayangannya di datar rumput. Mondar-mandir ke sana kemari, membawa tumpukan pakaian tebal dan basah, sesekali ia peras dan ia kibas-kibaskan.

Ya, aku tahu semua itu karena melihat bayangan Nur di rumputan. Berkali-kali Nur lewat di depanku, sambil menyapa dan bertanya berbagai hal.

Berkali-kali pula aku menjawab sambil memalingkan wajah ke arah tumpukan bekal kami yang memadati pojok tenda yang terbuat dari rajutan janur. Atau lempar mata ke sejumlah prajurit yang masih tidur lelap bagai banjar ikan di atas tampah.

Suara Nur semakin membuatku rindu untuk melihat wajahya yang putih, berpipi kenyal, sepasang mata sebundar ratna, kebiruan dengan paduan bibir sesisir jeruk yang hanya bisa dipadan dengan kecantikan bidadari.

Tapi kali ini adalah pantangan bagiku untuk melihat perempuan. Aku dan semua prajurit dilarang keras melihat perempuan. Sudah jadi aturan sejak dari nenek moyang, bahwa apabila prajurit mau berperang, hendaknya tidak melihat perempuan, setidaknya selama seminggu sejak sebelum peperangan.

Langit Bangkalan berparas bersih, awan bagai gumpalan kapas tipis, berarak, menyebar ke ufuk barat, seperti mengajari kami menguasai medan pertempuran. Asap yang mengepul dari dapur, mengirim wangi tumis terung campur bawang, ada juga aroma ikan panggang dan rebusan brokoli.

Sejenak kuhirup dengan wajah berbinar, tapi seketika binar itu pudar, saat kulihat sejumlah prajurit tengah membuat benteng di depanku, karung berisi tanah disusun setinggi dada.

Kami siap untuk berperang. Pasukan Mataram pimpinan Sultan Agung—yang sangat berambisi untuk menguasai Madura—empat hari lagi akan tandang di tanah garam ini. Setelah sebelumnya, pada tahun 1622 Sultan Agung menaklukkan wilayah Kalimantan, kini ingin menaklukkan pulau garam.

Kami, rakyat sipil gabungan dari Sumenep, Madegan, Blega, Arosbaya dan Kadipaten Mlojo ditugaskan untuk jadi prajurit sukarela yang harus siap menghadapi pasukan Mataram.

“Makan dulu, Mas. Saat ini aku ingin makan denganmu,” suara Nur terdengar di belakangku. Jantungku berdetak lebih mematuk. Deg. Deg. Deg.

“Aku ingin berperang, bukan ingin makan. Lebih baik kamu ke sana!” suruhku tegas.

“Ehm, apa Mas Dirman lupa janji kita di Kuare, sekitar sebulan, sebelum ada perintah perang?” Nur menyeret ingatanku pada suatu sore di Taman Kuare, kami berdua bersenda gurau, duduk sembari berpegang tangan di bangku kayu.

Angin mengipasi kami dengan ruap bunga mawar. Daunan berjatuhan, bertebar di rambut dan sekitar kami. Matahari segaris dengan pohon pinang, dan sepasang merpati terbang melesat di atas kami. Saat itu kami berjanji untuk saling mencintai dan pengertian seperti sepasang merpati itu.

“Kita berjanji untuk saling pengertian. Mohon Mas Dirman mengerti, sejak sehabis Subuh, aku repot-repot membuat masakan kesukaanmu. Bahkan sambil mencuci, aku bolak-balik ke dapur tenda hanya untuk mengecek api tungku agar masakan kesukaanmu tidak gosong. Mohon pengertiannya, Mas. Ayo makan!”

“Aku mohon kau juga mengerti, Nur. Empat hari lagi aku akan berperang, tak boleh dekat-dekat dengan perempuan. Itu sudah aturan,” tukasku dengan suara meninggi, menyaingi geletar angin, lalu kami membisu. Hanya ada deru napas, dan kami seperti tenggelam dalam teka-teki kesunyian.

“Dirman! Nur! Apa-apaan kalian ini? Mengapa kalian dekat-dekat? Kalian kan sudah tahu aturan pasukan yang hendak berperang? Kalau kita kalah, kalianlah penyebabnya. Awas kalian!” bentak komandan, suaranya menyalak, tentu aku tak bisa menatap wajahnya kala marah.

Bebarapa prajurit menoleh ke arah kami. Terdengar suara sandal Nur menginjak ranting, bergesekan dengan daun-daun, mundur ke belakang menuju dapur.

“Pyarr!!” tamparan komandan bersarang di pipi kananku.

“Oh! Mas Dirman!” suara Nur seperti kaget, jauh di belakangku. Mungkin ia kasihan melihat aku.

“Masuk, kau. Huh!!” Suara halilintar komandan kembali menggelegar.

“Aww, tidak!”

“Bukkk!”

Komandan menjebloskan Nur ke dapur tenda, terdengar panci berjatuhan dan piring bergemerincing keras. Dalam hati, sebenarnya aku tak ingin Nur diperlakukan seperti itu oleh komandan.

Aku masih mencintainya. Hanya saja, saat ini masih detik-detik menjelang peperangan. Aku hanya mengelus dada. Ingin rasanya menoleh untuk melihat wajah Nur.
***
ANGIN malam yang lirih kian mempertegas kesunyian tanah Bangkalan. Bulan hanya serupa garis tipis lengkung di langit yang temaram. Pasukan kami tampak bertubuh merah, dibias cahaya suluh, yang apinya meliuk-liuk di depan setiap tenda.

Beberapa di antara kami masih berlatih, membelah kayu dengan lengan. Memanah dengan sepasang mata yang tertutup. Melompat dan menjinjing sekarung kerikil.

Sementara aku memilih gabung dengan pembuat peta pertempuran, sekalian untuk menghapus gundah hati karena pikiran selalu disungging kelebat wajah Nur—beserta kekhawatiran setelah kemarin lusa komandan marah kepadanya.

Sebelum peperangan dimulai, hatiku telah lebih dulu berperang melawan sakit hati. Aku menghibur diri, mengamati gerak tangan para pembuat peta pertempuran, selembar daun pisang penuh coretan garis dan simbol-simbol, ada tanda silang dan sebaris bacaan.

Tarun, si otak perang sedang mengernyitkan dahi, jemarinya yang menjimpit arang tiba-tiba terdiam. Tarun mengamati peta dengan tatap yang teliti, memberi tanda titik di bagian-bagian yang berwarna merah. Sesekali menebalkan warna merah itu dengan polesan pucuk jati.

Tiba-tiba sesosok perempuan datang berkelebat, mengantar minuman dengan baki penuh cangkir, segera kupalingkan muka kecuali hanya melirik ujung gaunmya yang menyentuh rumput. Minyak wanginya merempahi udara dengan harum bunga melati.

Aku bahagia, akhirnya Nur bertugas kembali menyajikan makanan dan minuman setelah dua hari tak menampakkan diri di tengah-tengah prajurit.

Ia jongkok di sampingku, meletakkan cangkir di atas tatakan kayu. Semua pasukan berusaha tak menoleh ke wajahnya. Kecuali hanya berbicara seperlunya dengannya, tanpa beradu tatap. Aku pun tak buang kesempatan untuk meminta maaf kepadanya.

“Mohon maaf, Nur. Kemarin lusa komandan marah gara-gara aku. O, iya, jika besok kita menang, aku bernazar untuk makan berdua denganmu,” suaraku agak lantang, seperti menggelinding. Sekuat mungkin aku tak menoleh meski rindu amat mengiris.

“Bagaimana? Mau kan?” lanjutku penuh harap.

Ia tak menyahut apa-apa. Pergi meninggalkan kami, menjauh dengan baki di tangan kanan, gaunnya menyapu rumputan. Aku mengerti ia tidak menyahut, demi keamanan bersama agar peristiwa kemarin lusa tak terulang lagi.

Senyumku mengambang serekah kembang. Tak sabar ingin berperang, ingin menang, dan bersamanya ingin makan.
***
KALA itu angin Subuh masih merayap pelan di ujung jurai janur atap tenda kami. Bias fajar dan butir embun saling berdekap di lambung daun. Markito yang masih bersarung-berpeci datang tegesa, napasnya tersengal, dan langsung menghadap komandan.

Sebagian besar prajurit menguping perihal apa yang disampaikan Markito. Ternyata ia memberi tahu komandan bahwa lima ratus pasukan Kerajaan Mataram telah mendarat di pantai barat pesisir Bangkalan, atau sekitar dua kilometer dari arah kami.

Udara tahun 1624 kuhirup dalam-dalam, ada aroma darah dan minyak Nur, entah pertanda apa itu. Kutoleh ke banjar seluruh tenda, para prajurit mulai siap dengan pakaiannya masing-masing.

Di tenda paling timur aku melihat Pangeran Ronggosukowati memejamkan mata seraya mengangkat kedua tangannya seperti berdoa. Ya, meskipun ia berusia lanjut, tapi masih turun ke medan perang untuk mendampingi putranya.

Pangeran Ronggosukowati berperan memberi petunjuk-petunjuk kepada pasukan Pamekasan yang akan bergabung dengan pasukan Sumenep, Madegan, Blega, Arosbaya dan Kadipaten Mlojo. Semua penguasa Madura bersatu untuk melawan Mataram.

Angin pagi yang lembab mengiringi langkah pertama kaki kami untuk berperang. Doa-doa dirapal, mantra-mantra dibaca dan senjata terselip di sabuk keramat yang mengikat pinggang.

“Doakan kami, Nur. Semoga menang,” gumamku sambil melangkah dan aku tak boleh menoleh ke arah tenda lagi, lebih-lebih kepada Nur.
***
AKHIRNYA kami memenangkan peperangan. Pangeran Suyono dan Pangeran Slorong beserta enam belas orang pemimpin pasukan Mataram gugur. Saat mendapati kenyataan bahwa pemimpin perang telah tewas, maka pasukan Mataram mundur sambil membawa jenazah para pemimpinnya ke tengah laut.

Prajurit kami yang berbaris di bibir pantai mengacung-acungkan senjata ke pasukan Mataram yang semakin ke tengah, semakin mengecil, hingga terlihat seperti sekumpulan titik hitam merajah samudera.

Prajurit kami gegap gempita dengan sorak dan tepuk tangan, sambil melompat-lompat merayakan kemenangan, gemanya terpantul ke langit Bangkalan. Di tengah-tengah riuh sorak kemenangan itu, seketika aku teringat Nur.

Ingin segera melihat wajahnya karena perang sudah selesai. Aku langsung menyusuri tenda-tenda yang masih senyap, mencari Nur dari satu tenda ke tenda lain. Menyingkap kain dengan gerak yang cepat, cekat dan setengah kasar. Aku sudah tak sabar ingin bertemu Nur.

“Mohon maaf, mencari siapa?” seorang wanita berkulit putih tiba-tiba keluar dari sebuah tenda, rambutnya tersanggul rapi, aroma parfumnya seperti pernah kukenal. Aku gugup dan terkejut, mematung di depannya, dan tatapku karam di sepasang matanya yang bundar bening.

“A..a..ku mencari Nur,” jawabku terbata.

“Nur?”

“Iya.”

“Maaf. Nur yang sebelumnya jadi juru masak dan juru cuci itu sudah dipecat oleh Komandan, kabarnya karena dia ditemukan asyik bercakap dengan kekasihnya. Saya penggantinya sejak tiga malam yang lalu,” kata perempuan itu, membuatku seperti tersambar petir.

Aku terkejut, lama mematung, bingung, entah apa yang akan kulakukan. Aku merasakan kekalahan dalam kemenangan. ***

Catatan:

Perang puputan, sebagaimana sumber Lontar Madura menyebutkan, adalah peperangan antara Madura dengan Mataram pada kisaran tahun 1624.

A. Warits Rovi, penulis yang tinggal di  Sumenep, Madura. Sembari mengajar di MTs Al-Huda II Gapura Sumenep, ia aktif menulis cerpen dan pernah tayang di berbagai media lokal maupun nasional.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah dimuat di media lain, baik cetak, online, dan juga buku. Kirimkan karya Anda ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. 

Lihat juga...