Prihatin Nasib Guru Honorer, ACT Luncurkan SGI

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Nasib para guru honorer yang berpenghasilan hanya kisaran Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per bulan, menggugah organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk membantu mengangkat kesejahteraan para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Sebanyak 20 guru di wilayah Barlingmascakeb, mendapat bantuan biaya hidup guru dari ACT.

Kepala Cabang ACT Purwokerto, Tri Ageng Santoso, mengatakan, program Sahabat Guru Indonesia (SGI) merupakan bentuk komitmen ACT untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Sebab, mereka meyakini, seiring meningkatnya kesejahteraan guru, maka kualitas pendidikan juga akan meningkat.

“Fakta di lapangan, guru honorer jauh lebih banyak dari guru PNS. Dan para guru honerer ini justru yang sebagian besar mau mengajar di daerah-daerah terpencil dengan honor sekedarnya. Ini yang menjadi fokus kita, nasib para guru honorer yang dari sisi usia serta persyaratan lainnya sudah tidak mungkin menjadi PNS, namun mereka tetap mau mengajar di tengah keterbatasan,” kata Tri Ageng, usai memberikan santunan kepada para guru honorer di kantor ACT Purwokerto, Jumat (6/12/2019) petang.

Dalam penyerahan bantuan secara simbolis tersebut, ACT mengundang perwakilan empat orang guru. Mereka merupakan guru honorer Taman Kanak-Kanak (TK) dan guru Sekolah Dasar (SD).

Salah satunya adalah Herni Widiawati (38), guru di TK Diponegoro 1 Purwokerto yang sudah bekerja selama 11 tahun dengan honor Rp 350.000 per bulan. Honor tersebut baru naik beberapa bulan terakhir, sebelumnya ia mendapatkan honor di bawah nilai tersebut.

“Saya sebenarnya sudah menempuh pendidikan S1 dengan berbagai upaya untuk biaya pendidikan, tetapi ternyata tetap tidak bisa ikut sertifikasi dan tidak mendapatkan bantuan honor dari pemerintah. Aturan yang berubah-ubah membuat saya terhenti hanya menjadi guru honorer, tetapi karena cinta terhadap profesi, tetap saya jalani,” tuturnya.

Suasana haru terasa saat pihak ACT menyerahkan bantuan kepada para guru honorer. Sebab, selama puluhan tahun mengajar, mereka tidak pernah mendapatkan bantuan dari pihak manapun dan hanya menerima honor dari sekolah yang besarnya tak seberapa.

“Terima kasih sekali kepada ACT, saya juga tidak mengira akan mendapat bantuan karena selama ini, kita para guru honorer seperti terlupakan, terlebih saya yang tidak memiliki ijazah S1,” kata Puji Setyarini (49), guru TK Diponegoro di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas yang sudah mengajar selama 26 tahun, dengan honor terakhir Rp 350.000 per bulan.

Staf Program ACT, Sujada Abdul Malik mengatakan, penerima program SGI adalah para guru honorer prasejahtera. Dengan kriteria antara lain, adalah berpenghasilan di bawah Rp 1 juta, berasal dari wilayah prasejahtera dan memiliki dedikasi tinggi untuk mengajar.

“Untuk tahap pertama ini kita berikan kepada 20 guru honorer, dan program ini akan berlanjut hingga 1000 guru se-Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...