Ribuan Warga Mutiaragading Tuntut Penutupan Tempat Hiburan

Editor: Koko Triarko

BEKASI –  Ribuan warga mengatasnamakan diri Forum Musyawarah Warga dan Ikatan Masjid Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, menggelar aksi damai di kompleks perumahan Mutiaragading Timur, wilayah setempat, Minggu (15/12/2019).

Aksi tersebut menolak keberadaan tempat karaoke dan toko penjual miras di kompleks Perum Mutiara Gading Timur. Warga menyuarakan penolakan di jalan sepanjang ruko tempat hiburan yang berada di tengah perumahan, dekat dengan sekolah dan tempat ibadah.

“Masyarakat di sini sudah merasakan keresahan dari tempat karaoke dan hiburan malam yang berkedok family karaoke, di tengah pemukiman warga. Itu sudah bukan karaoke family lagi, dan warga sudah membuktikan,” kata Firdaus, Ketua RW 29, kompleks Mutiara Gading, Mustikajaya, Minggu (15/12/2019).

Firdaus , Ketua RW 29 Komplek Mutiaragading, Kelurahan Mustikajaya, ditemui usai aksi damai, Minggu (15/12/2019). –Foto: M Amin

Dikatakan, warga sudah masuk untuk membuktikan. Hal tersebut karena kecurigaan salah seorang guru di SMK Negeri 3 yang berlokasi di sekitar tempat hiburan.

Menurut Firdaus, aksi damai tersebut adalah puncak dari kekecewaan warga kepada pemerintah daerah, karena sudah beberapa kali dimediasi, tetapi tidak memberi perubahan.

“Warga secara tegas meminta tempat hiburan malam berkedok karaoke keluarga di tengah pemukiman warga untuk bisa ditutup. Warga sudah bersurat ke dinas pariwisata dan kebudayaan, dan berdialog dengan Polrestro Bekasi Kota. Tapi tidak ada titik temu, jawabnya hanya normatif,” tegasnya.

Di kompleks Mutiaragading Timur, diketahui ada lima tempat karaoke keluarga yang beroperasi. Firdaus mengaku aksi protes sudah berjalan lama, sekira enam bulan lebih. Bahkan, sejak tiga tahun lalu juga sudah dilakukan protes, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan tegas.

“Padahal, semua data sudah diberikan kepada pemerintah sebagai dasar untuk menutup tempat hiburan tersebut,” ucapnya.

Sementara, PA 212, Ustad Ferri yang ikut dalam aksi damai tersebut mengakui penolakan  warga berjalan cukup lama melalui cara surat menyurat, dan aksi ini merupakan puncak.

“Ini harus jadi perhatian pemerintah atas kepedulian warga, karena aksi ini bukan agama Islam, pun hadir. Tempat hiburan ini ada masjid, sekolah, tapi pakaiannya seronok,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Teddy Hafni, dikonfirmasi Cendana News baru-baru ini terkait tuntutan warga di Mustikajaya, mengatakan bahwa pemerintah harus melindungi investasi.

“Tidak bisa langsung serta-merta menutup. Tapi ada mekanismenya, karena tempat hiburan tersebut sebelumnya sudah mengurus izin, dan melibatkan warga setempat seperti izin lingkungan dan lainnya,” ungakp Teddy.

Lihat juga...