Sebuah Cara Menyambut Hujan

CERPEN HAMDANI MW

CUACA terik siang itu berangsur-angsur meredup, dan tak lama kemudian berubah menjadi mendung. Sejauh mata memandang, langit di sisi utara berwarna kelabu, sebagian kehitaman di ujung barat. Rasa gerah oleh terik matahari sesiang tadi kini mulai berkurang.

Memang terasa aneh. Seperti pencuri di malam hari, mendung itu datang tiba-tiba nyaris tanpa sebuah tanda. Angin bertiup menghempaskan rasa dingin di permukaan kulit.

Aroma kelembaban mulai tercium. Anak-anak mulai gaduh melihat suasana di dalam kelas yang meredup. Mereka kesulitan membaca buku pelajaran karena cahaya matahari tak cukup terang. Bu Guru Tati mencoba menyalakan saklar berulang kali, tapi lampu tak bisa menyala.

Suasana semakin gaduh. Sebagian anak mulai tidak fokus memperhatikan Bu Guru Tati yang sudah kembali menerangkan soal puisi.

Para siswa yang duduknya di tepi diding, mulai berdiri dan melongokkan kepala keluar jendela. Hal itu memancing anak-anak yang lain untuk berdiri dan melempar pandang ke kejauhan.

Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara gemeritik di atas genteng. Hujan telah turun. Hujan pertama setelah kemarau panjang mendera Kampung Giritirto.

Anak-anak semakin banyak yang berdiri untuk menyaksikan hujan pertama yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Bu Guru Tati menghentikan ceramahnya. Menutup buku, ia kemudian memberi kesempatan pada anak-anak itu untuk menyaksikan hujan dari dalam kelas.

Di kepala Bu Guru Tati terbayang, anak-anak itu bisa membuat puisi tentang hujan. Tiba-tiba sebagian anak menoleh ke arah Bu Guru Tati yang diam.

“Boleh lihat hujan, Bu Guru?” tanya seorang anak.

Bu Guru Tati tersenyum.

“Kali ini, Bu Guru bebaskan kalian melihat hujan. Tapi PR kalian besok, membuat puisi tentang hujan!” ujar Bu Guru Tati yang suaranya kini bersaing dengan suara kemerosak di genteng karena hujan yang kian menderas.

Anak-anak bersorak gembira. Lalu sebagian dari mereka mulai keluar ruangan dan berdiri di emperan kelas. Angin dingin bertiup membawa ruap-ruap air hujan, menimpa wajah-wajah mereka.

“Hujan datang!“ teriak anak-anak itu dengan gembira.

Bu Guru Tati mengemasi buku-bukunya. Lalu dengan langkah pasti, ia menuju ke kantor guru, setelah mengingatkan lagi PR membuat puisi tentang hujan pertama.

Terpikir di kepala Bu Guru Tati, anak-anak itu butuh kemerdekaan untuk memahami dan menghayati lingkungan sekitarnya. Dan ia tak mau merampas kemerdekaan anak-anak itu. Toh hanya melihat hujan?
Tak berapa lama kemudian, lonceng sekolah berbunyi, tanda seluruh pelajaran telah usai.

Para guru masih menunggu di ruang guru sampai hujan reda. Namun, ada sebagian guru atau murid yang sudah membawa jas hujan. Orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang teliti dalam hidupnya. Mereka selalu berjaga-jaga untuk mengatasi keadaan darurat.

Di luar kelas, anak-anak itu seolah tak hirau. Mereka berlarian keluar kelas dan menggerombol memenuhi emperan sekolah. Sebagian ada yang nekat berlari pulang sembari memanggul tas di atas kepalanya.

Mungkin mereka pikir, tas akan melindungi kepalanya dari hujan, tapi tak pernah terpikir olehnya, bagaimana melindungi buku-buku dalam tasnya itu dari air hujan.

Mereka berlari dan meloncat-loncat kegirangan di tengah hujan dan kilatan petir. Lama-kelamaan, tidak hanya anak laki-laki saja yang bermain hujan-hujanan.

Para murid perempuan pun akhirnya banyak yang nekat menerobos hujan. Hiruk pikuk tersebut mengundang perhatian guru yang tengah duduk menunggu hujan di ruang guru. Namun anak-anak sudah banyak yang terlanjur berhujan-hujanan di halaman sekolah.

Lihatlah, anak-anak itu menengadah dan merentangkan kedua tangannya sembari berteriak-teriak.

“Hujannn…. hujannn….. hujan…” teriak mereka.

“Hujan telah tiba, hujan telah tiba…” mereka menyanyikan sebuah irama lagu.

“Tito, Fani, Tutik, tunggu sampai hujan reda dulu!” teriak Pak Arief, guru PKN, ketika melihat gelagat anak-anak itu hendak ikut-ikutan menghambur keluar halaman sekolah.

Ketiga anak itu berdiri termangu-mangu menatap pak Guru.

“Iya, kamu berteduh saja, nanti sakit. Kalian kan perempuan!” kata Tito kepada Fani dan Tutik sembari tertawa.

“Saya pamit, Pak Guru!” kata Tito tiba-tiba, dan langsung menghambur ke halaman.

Tito bergabung dengan kawan-kawannya yang lain berhujan-hujan ria bersama. Ia tak hirau dengan buku di dalam tasnya yang basah. Hujan adalah yang mereka tunggu-tunggu. Maka, ketika hujan benar-benar datang, maka itu adalah momen yang harus disambut dengan pesta.

Pesta ala anak-anak kampung tak perlu mewah. Pesta menyambut hujan ya cukup berhujan-hujanan. Itu saja. Hidup memang juga seperti sebuah perayaan. Ritual tertentu.

Fani dan Tutik bingung. Tito sahabatnya sudah lebih dulu menghambur. Mereka mau menyusul, tapi dicegah oleh Pak Arief. Mereka mau membantah, tapi tak sampai hati. Lebih tepatnya, takut. Mereka tak mau membantah perintah guru.

Akhirnya, keduanya kembali ke dalam kelas dengan bersungut-sungut.

“Nah, begitu lebih baik kan. Kalau kau ikut hujan-hujanan, bisa sakit masuk angin,” ujar Pak Arief, kemudian berjalan ke ruang guru.

Fani dan Tutik saling berpandangan. Ada rasa tidak puas terlihat dari mata keduanya. Saat Pak Arif kembali ke ruang guru, keduanya saling mengerdipkan mata. Pelan-pelan dilongokkannya kepalanya ke luar kelas.

Pak Arief sudah tidak kelihatan lagi. Tito terlihat masih bermain di bawah hujan.
Kedua anak perempuan itu berjalan keluar kelas. Lalu dalam hitungan lima, mereka berlari keluar menyusul teman-temannya yang lain.

“Hujan, hujan datang….” Keduanya berteriak-teriak gembira, seolah lepas dari sebuah penindasan.

Semua ruang kelas kini telah kosong. Pak Arief dan guru-guru yang lain tak dapat berbuat banyak. Pak Arief hanya geleng-geleng kepala melihat Fani dan Tutik ikut-ikutan nekat menerabas hujan. Ya sudah, pikirnya. Toh ia sudah berupaya mencegahnya.

Sekian lama, hujan tak kunjung reda. Beberapa kali Pak Arief menengok jam dinding di antara foto presiden dan wakil presiden itu. Ada rasa galau terpancar dari wajahnya. Setelah lama hujan tak juga reda, Pak Arief pun berdiri dari kursinya.

Dua anaknya tentu telah menunggu di rumah. Yah, ia rindu memeluk kedua anaknya yang masih kecil. Jika hujan ini tak juga reda, ia khawatir akan anak-anaknya di rumah. Pak Arief pun akhirnya bertekad untuk menerobos hujan dengan berbalut jas hujan butut.

Jas hujan itu sudah sobek di bagian lehernya. Tapi apa boleh buat. Pak Arief lupa belum membeli jas hujan yang baru sejak kemarau panjang kemarin.

Dingin air hujan menerpa wajah Pak Arief. Bibir gemetaran. Namun ia tetap menerobos hujan di bawah helm dan jas hujan butut itu. Tak ada kaca penutup helm, sehingga tangannya harus rajin-rajin mengusap wajah untuk menghalau air hujan dari matanya.

Melihat itu, anak-anak yang berhujan-hujanan di halaman sekolah pun bersorak-sorak menyambut guru mereka yang akhirnya ikut menerobos hujan.

Mereka seolah merasa mendapat teman bermain. Beberapa puluh meter dari gerbang sekolah, Pak Arief mendahului anak-anak yang bergembira berjalan dan berlari-lari di bawah hujan.

“Pak Arief!” teriak anak-anak itu dengan gembira.

“Pak Arief kok ikut hujan-hujanan?” tanya Fani dan Tutik.

“Iya, anak-anak sudah menunggu di rumah!” teriak Pak Arief tak kalah seru untuk melawan riuh suara hujan.

Akhirnya anak-anak itu pun berlari-lari di belakang sepeda motor butut Pak Arief sembari menari-nari kegirangan. Ada sebagian yang menggelayut sadel sepeda motor, membuat laju motor sedikit tersendat.

Pak Arief yang semula melarang anak-anak untuk menerobos hujan, akhirnya diam saja. Ternyata anak-anak itu benar, pikirnya.

Nikmati saja apa pun yang terjadi. Ah, masa anak-anak memang menyenangkan. Tak pernah menggerutu apa pun yang terjadi. Pak Arief membayangkan masa kanak-kanaknya dulu. Kira-kira seperti anak-anak itulah dirinya waktu itu. Hmmm….

Kini ia malah merasa senang anak-anak itu bergembira menyambut hujan turun setelah kemarau panjang melanda kampung mereka. “Anak-anak itu memang pantas ikut bergembira,” batinnya.

Hujan memang telah lama mereka rindukan. Selama ini, mereka berhemat air dari bak-bak penampungan yang ada di halaman rumah. Air di bak penampungan itu berisi air hujan yang turun selama musim penghujan.

Orang tua mereka melarang mereka mandi pakai air banyak-banyak. Satu orang hanya dijatah air satu ember kecil untuk mandi. Untuk bulan ini saja, warga di Kampung Giritirto harus sabar menunggu kiriman air dari truk-truk tangki yang memberi bantuan. Selebihnya, mereka harus membeli dari swasta.

“Hmm… wajar kalau mereka rindu hujan. Aku juga rindu hujan,” ujar Pak Arief dalam hati.
Pak Arief pun melambaikan tangan pada anak-anak yang sedang bergembira menari-nari di bawah hujan itu.

Ia tak perlu khawatir mereka sakit. Teringat olehnya, sewaktu kecil ia juga suka hujan-hujanan seperti itu, dan nyatanya ia tak pernah sakit kepala, flu atau masuk angin.

Hanya saja, pekerjaan mereka besok adalah menjemur tas dan buku-buku mereka yang basah. Itu saja. Semakin lama, Pak Arief semakin jauh meninggalkan anak-anak itu. Mereka melambaikan tangan mengantarkan kepergian guru mereka.

Sebentar lagi, Pak Arief akan bertemu dengan anak-anaknya di dalam rumah yang hangat. Di tengah hujan seperti ini, suasana yang paling menyenangkan adalah memeluk anak-anaknya, atau menyeruput secangkir teh hangat seduhan istri.

Pak Arief mengemudikan sepeda motornya dengan hati-hati. Curah hujan membuat jarak pandang hanya sejauh 25 meter saja. Ia tak ingin karena kurang hati-hati lalu terperosok ke lobang, atau bertabrakan dengan kendaraan lain dari arah depan.

Setibanya di depan gerbang rumah Pak Arief tertegun. Dilihatnya, dua anaknya yang masih kecil-kecil itu berhujan-hujanan dengan riang gembira. Kaki-kaki kecil itu melompat-lompat dengan lincahnya, menyebabkan air muncrat ke wajah-wajah mereka.

Sementara di emperan Pak Arief terpana. Jauh dari bayangan yang terangkai di kepalanya, di mana anak-anaknya duduk meringkuk di dalam rumah yang hangat.

Dilihatnya istrinya berteriak-teriak sembari berkacak pinggang di emperan rumah. Perempuan bertubuh tambun itu pun lalu turun ke halaman dengan sepucuk payung rombeng di tangannya.

Ia mengejar dua orang anaknya yang masih kecil dan berhujan-hujanan itu untuk diajak berteduh.
Namun semakin anak-anak itu dikejar, terlihat semakin lincah mereka berkelit.

Pak Arief hanya menatap dari kejauhan di ujung gerbang. Rupanya anak-anak dan istrinya belum melihat kedatangannya. Derasnya hujan mungkin telah menghalangi pandangan mereka.

Pak Arief pun akhirnya menggeber gas motor dua tak itu. Jeritan mesin itu melengking membelah kerasnya deru hujan. Dan dan suara bel yang dibunyikan bertalu-talu membuat kedua anak itu terhenti sejenak. Setelah diketahui yang datang ayah, mereka pun girang.

“Ayah datang!”

Pak Arief mengembangkan senyumnya yang lebar. Melihat kedua anaknya, teringat ia akan murid-muridnya yang berhujan-hujanan ria di halaman sekolah dan di jalanan pulang tadi. Ternyata masa kecil bagi anak-anak di kampung itu sama saja. Percuma saja ia akan melarang anak-anaknya berteduh.

Walhasil, Pak Arief mematikan mesin motornya. Memasang standar, lalu mendekati kedua anaknya. Kedua anaknya pun tiba-tiba melompat dalam gendongan ayahnya yang basah kuyup. Pak Arief menciuminya sepuasnya.

Setelah puas dengan dua anaknya, ia beralih mendekati istrinya yang hanya terbengong-bengong. Lama pak Arief menatap istrinya, seolah tatapan dari seorang pria yang bertemu dengan calon istrinya. Istrinya heran dengan sikap aneh suaminya itu.

Pak Arief mendekati istrinya. Pelan-pelan dipegangnya tangan istrinya yang memegang payung rombeng itu. Diurainya jemari yang kaku memegang gagang payung sembari menahan gigil. Payung itu diraihnya, lalu dilemparkannya.

Sejauh itu, istrinya masih terbengong-bengong. Pak Arief kemudian meraih kedua tangan istrinya, ditaruhnya di dadanya. Sejenak kemudian, diajaknya istrinya itu menari-nari di bawah hujan.

Tak hirau akan istrinya yang hanya mengenakan daster yang basah kuyup, Pak Arief mengajak wanita yang dicintainya itu menari-nari di bawah hujan.

Lama kelamaan, istrinya tersenyum seiring dengan gerakan tangan dan kakinya. Yah, istrinya kini telah menikmati tarian hujan. Rasa dingin di permukaan kulitnya tak mampu menghapus rasa hangat di dalam dadanya. Ia mulai menghayati, hujan yang dingin membuat dadanya hangat oleh cinta.

Dan lihatlah, keluarga kecil itu akhirnya menemukan caranya sendiri untuk menyambut hujan yang telah lama mereka rindukan. Sepasang suami istri yang menari-nari, dikelilingi dua anak kecil yang berlari dan melompat-lompat kegirangan mengelilinginya. ***

Hamdani MW, penulis yang tinggal di Solo, Jawa Tengah. Karya cerpennya telah dimuat di berbagai media massa. Antologi cerpen tunggalnya berjudul Romansa, terbit beberapa tahun lalu.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain, baik cetak online, atau buku. Kirimkan karya Anda ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...