Sepanjang 2019 Bencana Geologi Terjadi Signifikan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KemenESDM), menyatakan bencana geologi terjadi secara signifikan sepanjang 2019.

Kepala PVMBG, Kasbani, M.Sc., menyatakan selama 2019 tercatat ada 11 gunungapi mengalami erupsi eksplosif, tujuh gunungapi yang mengeluarkan lelehan lava dan dua gunungapi hanya mengeluarkan hembusan.

“Kalau diklasifikasikan dalam level, maka pada level normal tercatat ada 48 gunungapi, level waspada ada 18 gunungapi, level siaga tiga gunungapi dan tidak ada yang masuk dalam level awas,” kata Kasbani, saat acara Refleksi Akhir Tahun di Graha BNPB Jakarta, Senin (30/12/2019).

Untuk erupsi eksplosif, PVMBG mencatat ada 11 gunungapi, yaitu Agung, Anak Krakatau, Bromo, Dukono, Ibu, Karangetang, Kerinci, Merapi, Semeru, Sinabung dan Tangkuban Perahu.

“Gunungapi yang mengeluarkan lelehan lava tercatat ada tujuh gunungapi, yaitu Sinabung, Ibu, Karangetang, Merapi, Semeru, Rokatenda dan Soputan. Sementara yang mengeluarkan hembusan hanya satu gunungapi, yaitu Slamet,” ujarnya.

Menurutnya, yang paling signifikan pada 2019 adalah gunungapi Karangetang di Sulawesi Utara.

“Erupsi yang terjadi adalah mayoritas guguran lava. Pada kejadian ini tidak ada korban jiwa, tapi satu desa terisolir, 111 jiwa diungsikan, jalan raya terputus dan enam rumah direlokasi,” ucapnya.

Untuk kejadian gempabumi dan tsunami, PVMBG mencatat ada 2.479 kali gempabumi berskala 4,0 – 4,9 SR, 300 kali skala 5,0 –  5,9 SR, 18 kali skala 6,0-6,9 SR dan untuk magnitude diatas 7 sebanyak 4 kali.

“Gempabumi merusak itu kita catat ada 23 kali. Tapi, yang paling merusak adalah gempabumi yang terjadi di Liang, Maluku, pada 26 September 2019,” kata Kasbani.

Gempabumi Liang dicatat memiliki magnitude 6,5 dengan kedalaman 10 kilometer. Gempabumi ini memiliki hubungan dengan aktivitas sesar dan memiliki intensitas maksimum VII MMI.

“Saat kejadian itu, ada 36 jiwa yang meninggal dunia, 146 orang luka luka dan 252 unit mengalami kerusakan sedang hingga berat,” paparnya.

Gerakan tanah longsor pada 2019 dinyatakan lebih rendah dibandingkan 2017 dan 2018. Tahun ini tercatat hanya 860 kejadian dibandingkan 2017 yang mencatat 1.177 kejadian, dan pada 2018 ada 1.358 kejadian.

Tapi dari segi korban jiwa, pada 2019 mencatat lebih banyak, yaitu 270 jiwa, jika dibandingkan 2017 sebanyak 210 jiwa, dan 2018 sebanyak 194 jiwa.

“Dari peristiwa gerakan tanah longsor sepanjang 2019,  ada dua yang bisa dikatakan terbesar. Pertama adalah yang terjadi di Sentani, Jayapura, dan yang ke dua di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 22 Januari 2019,” pungkasnya.

Lihat juga...