Sepanjang 2019, TMII Tampilkan 1.200 Kegiatan Kebudayaan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan wujud nyata dari gagasan Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, untuk pengembangan dan pelestarian budaya bangsa.

Dengan menghadirkan 34 anjungan daerah, 20 museum, enam rumah ibadah, dan wahana rekreasi yang sarat edukasi budaya.

“Dalam pelestarian budaya, sepanjang 2019 TMII telah menyajikan 1200 kegiatan kebudayaan. Mana ada yang mampu selain TMII, yang praktis 1200 kebudayaan ini digelar setiap tahunnya,” kata Direktur Operasional dan Pengembangan TMII, Maulana Cholid, kepada Cendana News di Gedung Pengelola TMII, Jakarta, Selasa (24/12/2019).

Suksesnya TMII menggelar kegiatan tersebut menurutnya, adalah berkat semangat Ibu Tien Soeharto, yang memperjuangkan persatuan dan kesatuan dalam balutan ragam budaya bangsa ditampilkan di miniatur Indonesia, bernama TMII.

“Sosok Ibu Tien Soeharto, sangat keibuan, berpesan pada kami untuk mengembangkan dan melestarikan seni budaya Indonesia. Pesan Beliau adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab,” ujarnya.

Menurutnya, 1200 kegiatan kebudayaan sukses digelar, ini menandakan TMII telah memberikan dorongan dan motivasi kepada anjungan daerah untuk berinovasi dan berkreasi membangkitkan kreativitas para seniman nusantara.

“Berapa jenis tarian daerah, lagu daerah, pakaian daerah, dan musik daerah yang sudah dihasilkan di parade budaya yang digelar TMII. Itu kan artinya TMII memberikan motivasi seniman nusantara berkreasi,” ujar pria kelahiran Pacitan ini.

Apalagi menurutnya, Ibu Tien Soeharto berpesan agar TMII memberikan ruang bagi seniman, masyarakat dan generasi muda untuk berkesenian mengembangkan bakatnya.

Ini sangat jelas terlihat berapa ribu pelajar di sekitar TMII, yang belajar menari di diklat seni anjungan-anjungan daerah. Bahkan ada juga sanggar tari dari luar yang bekerjasama dengan TMII, diberi fasilitas mengajar tari di sini. Seperti sanggar tari yang ada di Desa Seni dan Kerajinan TMII.

“Banyak penari profesional, itu kontribusi TMII sangat luar biasa melalui diklat seni anjungan daerah dan sanggar lainnya,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, 1200 kegiatan kebudayaan yang sukses digelar, juga melibatkan peran serta anjungan daerah. Karena pada dasarnya TMII dibangun oleh Ibu Tien Soeharto, sebagai show window atau jendela budaya bagi setiap anjungan daerah.

Maulana berharap, pihak anjungan makin sadar bahwa sangat berkepentingan dengan adanya TMII sebagai show window daerah untuk mempromosikan potensi budaya.

“TMII sebagai show window daerah yang akhirnya akan menunjukkan Indonesia di mata dunia,” ujarnya.

Dalam upaya menarik wisatawan mancanegara (wisman), manajemen TMII hingga saat ini masih menjalin kerjasama dengan biro travel.

Setelah berkunjung ke TMII, diharapkan wisman terkesan karena kekayaan Indonesia semua tersaji di TMII. Sehingga saat wisman itu pulang ke negaranya ada pengalaman tentang TMII.

Hanya saja kata Maulana, kendalanya terkadang di masing-masing anjungan, itu terkait masalah Sumber Daya Manusia (SDM).

“Kadang kan yang ditugaskan bukan orang daerah aslinya. Kita sebetulnya menginginkan ya orang asli daerah. Sehingga dia itu bercerita paham dan mengetahui potensi daerahnya. Itu sebetulnya komunikasi yang kita harapkan,” tukasnya.

Dalam pengenalan budaya bangsa, TMII juga menjalin kerjasama dengan berbagai kementerian dan duta besar untuk mengarahkan tamu negara berkunjung ke TMII.

Pada tahun 2019 sebanyak 27 tamu negara telah bertandang ke TMII, untuk menikmati keindahan ragam budaya Indonesia.

“Pada tahun 2019 ada tamu negara yang berkunjung ke TMII, seperti Kostradnya India atau angkatan darat India, Dubes Nigeria, Dubes China, Dubes Vietnam, Dubes Myanmar, dan negara lainnya,” jelasnya.

Sebagai rumah budaya dan wahana edukasi, TMII juga telah meraih banyak prestasi. Diantaranya, penghargaan TMII sebagai lembaga konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan penghargaan dari MURI terkait Replika Burung Garuda setinggi 17 sentimeter terbuat dari kacang tanah.

“Pada 2019, TMII meraih penghargaan Adikarya Wisata untuk kategori pariwisata. Prestasi ini sangat membanggakan,” ucap Maulana.

Program ke depan tahun 2020, TMII menurutnya, berkomitmen untuk meningkatkan kegiatan kebudayaan dengan kemasan inovasi yang lebih kreatif lagi.

“Itu yang sedang kita pikirkan untuk menggaet anak muda. Tujuan kita itu kan mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta tanah air lewat budaya,” ujarnya.

Sehingga menurutnya, tampilan ragam budaya nusantara itu harus dikemas semenarik mungkin sesuai perkembangan zaman tapi dengan tidak menghilangkan nilai tradisi.

“Lah, kalau dia nggak mau datang ke TMII, gimana dia kenal dan punya rasa cinta dengan potensi budaya yang ada di Indonesia. Makanya, visi kami melestarikan budaya dengan kreasi inovasi,” ujar Maulana.

Seperti sebut dia, kegiatan budaya upacara adat yang digelar anjungan daerah. Namun sayangnya kata Maulana, sajian upacara adat tersebut kadang hanya ditonton oleh sedikit pengunjung.

Padahal menurutnya, upacara adat yang merupakan budaya tradisi ini sangat menarik untuk diperkenalkan kepada generasi milenial. Tentunya disajikan harus penuh kreasi tanpa menghilangkan nilai sejarah.

“Untuk memancing generasi milenial, promosi dan inovasi terus dilakukan anjungan, serta manajemen TMII,” ujarnya.

Seperti flash mob tari yang digelar di area Plaza Tugu Api Pancasila setiap minggu. Ini menurutnya, merupakan salah satu cara untuk membangkitkan rasa cinta generasi milenial terhadap budaya daerah.

Terbukti, banyak dari pengunjung TMII, tidak hanya ibu-ibu tetapi juga anak muda yang turut menari bersama dalam balutan flash mob.

Flash mob menjamur dimana-mana. Ini kan sebetulnya TMII dari dulu sudah ada. Kita namakan menari bersama di TMII. Jadi bukan hanya baru buat TMII,” ujarnya.

Hanya saja memang kata Maulana, kemasan itu belum sampai ke flash mob.

“Kalau kita modal kreasi sudah punya, dan 2020 kita coba kemasan itu kita ubah. Kita sekarang tinggal kreasikan kemasan biar anak muda tertarik,” pungkasnya.

Lihat juga...