Setahun Tsunami, Anak di Desa Sukaraja Gelar Berbagai Kegiatan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kenang setahun peristiwa bencana alam tsunami Selat Sunda, 22 Desember 2018 silam, anak-anak Desa Sukaraja gelar berbagai kegiatan.

Saifuloh, panitia kegiatan menyebut ratusan anak-anak melakukan lomba mewarnai, menggambar, pentas seni dan kegiatan membaca buku. Pelibatan anak-anak pada kegiatan tersebut dilakukan agar kenangan buruk akan tsunami bisa dihilangkan.

Saefuloh, Ketua Panitia kegiatan mengenang satu tahun tsunami Selat Sunda di Dusun Pangkul Desa Sukaraja Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan, Minggu (22/12/2019) – Foto: Henk Widi

Melalui kegiatan mewarnai Saifuloh menyebut, anak-anak diajak untuk melupakan peristiwa buruk di desa mereka. Sebagian anak yang dilibatkan dalam acara mengenang setahun tsunami menurutnya masih tinggal di hunian sementara (huntara).

Sebelumnya dalam rangkaian peringatan setahun tsunami warga juga telah menggelar doa bersama.

Salah satu langkah mengedukasi anak-anak di lokasi yang mengalami tsunami sejumlah pegiat literasi Lampung dan relawan dilibatkan. Sejumlah pegiat literasi yang dilibatkan menurut Saifuloh meliputi motor pustaka roda andalas, BMX Pustaka, rumah pohon pustaka, relawan to teen, mahasiswa Itera dan masyarakat sekitar.

“Kegiatan dipusatkan pada lokasi rumah pohon pustaka karena berada di dekat lokasi huntara yang menjadi tempat tinggal sebagian anak-anak yang harus kehilangan rumah akibat tsunami setahun silam,” ungkap Saifuloh saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (22/12/2019).

Kegiatan lomba menggambar menurutnya menjadi bagian dari trauma healing bagi anak-anak. Sebagian anak-anak di Desa Sukaraja merupakan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam yang rusak akibat tsunami.

Imbas tsunami bangunan sekolah yang berada di dekat pantai rusak. Bangunan sekolah tersebut telah dibangun oleh sejumlah donatur hingga bisa digunakan.

Sejumlah anak disebutnya menggambar laut, kapal, masjid, rumah, sekolah dan pemandangan alam. Ekspresi bebas yang dituangkan dalam bentuk gambar diiringi dengan seni tari yang ditampilkan oleh anak-anak.

Sejumlah pegiat literasi yang terlibat dalam kegiatan tersebut membawa berbagai buku bacaan yang bisa dibaca oleh anak-anak dan orangtua yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kami juga melibatkan sejumlah relawan yang saat tsunami ikut membantu masyarakat terutama anak-anak,” beber Saifuloh.

Saifuloh menyebut peringatan setahun tsunami sengaja digelar dengan semangat move on dari trauma tsunami. Meski mengalami trauma akibat tsunami sejumlah relawan ikut memberikan motivasi bagi anak-anak yang keluarganya menjadi korban tsunami.

Peristiwa tsunami disebutnya menjadi refleksi bagi generasi muda agar memiliki kesiapsiagaan pada bencana.

Sugeng Hariyono, pegiat literasi motor pustaka roda andalas menyebut ia membawa ratusan buku untuk dibaca.

Motor Pustaka Roda Andalas yang dibawa oleh Sugeng Hariyono pegiat literasi dalam kegiatan mengenang satu tahun tsunami, Minggu (22/12/2019) – Foto: Henk Widi

Anak-anak di Desa Sukaraja Kecamatan Rajabasa menurutnya selama ini mendapat bantuan rumah pohon dari sejumlah relawan. Rumah pohon yang ada di dekat huntara tersebut digunakan oleh anak-anak untuk membaca buku.

“Donasi buku bagi anak-anak di desa Sukaraja dalam kegiatan literasi diantaranya dengan membuat rumah pohon yang berfungsi sebagai perpustakaan,” beber Sugeng Hariyono.

Setahun usai tsunami Sugeng Hariyono menyebut pegiat literasi terus mendampingi anak-anak yang tinggal di huntara. Bantuan berupa buku-buku bacaan diberikan agar anak-anak bisa membaca buku di rumah pohon.

Terlebih sebagian besar anak-anak di wilayah tersebut memasuki libur sekolah. Sebagai bentuk apresiasi kegiatan menggambar dan mewarnai sejumlah hadiah berupa alat tulis juga diberikan.

Lihat juga...