Tagana Lamsel Rutin Gelar Mitigasi Kurangi Risiko Bencana

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Taruna Siaga Bencana (Tagana), Dinas Sosial Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) gencar melakukan mitigasi kurangi risiko bencana.

Hasran Hadi, Sekretaris Tagana Lamsel menyebut mitigasi atau kesadartahuan tentang bencana terus dilakukan pihaknya. Metode sosialisasi di dalam ruangan (indoor) serta simulasi di luar ruangan (outdoor) dilakukan agar masyarakat terutama generasi muda lebih paham mitigasi bencana.

Berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Lampung, Hasran Hadi menyebut mitigasi melibatkan siswa sekolah dan masyarakat. Sebanyak 22 personel Tagana Lamsel, belasan anggota Dinsos Lampung, puluhan warga dan ratusan siswa SDN Banyumas, Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar dan sejumlah guru, mitigasi kebencanaan digelar.

Mitigasi bencana yang diberikan kepada para siswa diantaranya gempa bumi, banjir, puting beliung dan tsunami. Sebagai wilayah yang berada di dataran rendah, mitigasi bencana gempa bumi dan banjir menjadi perhatian bagi Tagana Lamsel.

Siswa MI Mathlaul Anwar Desa Banyumas Kecamatan Candipuro Lampung Selatan, mendapat program Tagana Masuk Sekolah oleh Tagana Lamsel, Rabu (4/12/2019) – Foto: Henk Widi

Pengetahuan mitigasi bencana diberikan dengan pemahaman jenis bencana hingga simulasi proses penyelamatan saat terjadi bencana alam.

“Sosialisasi mitigasi bencana terus dilakukan oleh Tagana Lamsel ke sejumlah sekolah agar generasi muda memiliki kesadartahuan saat terjadi bencana yang kerap datang secara tiba-tiba,” ungkap Hasran Hadi saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (4/12/2019).

Pada materi terkait bencana gempa bumi, penyadartahuan akan adanya potensi gempa bumi di wilayah Lampung jadi materi utama. Sebab berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah Lampung ada di jalur patahan (lempeng) Semaka.

Selain patahan potensi gempa bumi tektonik potensi gunung meletus berimbas gempa vulkanik menjadi pengetahuan bagi para siswa.

Melalui kegiatan yang dikonsep dalam Tagana Masuk Sekolah (TMS) SDN Banyumas dan MI Mathlaul Anwar menjadi bagian dari puluhan sekolah yang telah mendapat materi mitigasi bencana.

Selain gempa bumi, memasuki musim penghujan di sejumlah wilayah Lamsel meski intensitas masih kecil menjadi perhatian dalam pencegahan banjir. Potensi bencana yang terjadi karena faktor alam sebagian bisa diakibatkan faktor manusia.

“Sampah yang dibuang sembarangan, penebangan pohon berimbas hilangnya keseimbangan lingkungan jadi perhatian generasi muda,” tegas Hasran Hadi.

Kegiatan gotong royong membersihkan saluran air menghindari banjir saat musim penghujan oleh Tagana Lamsel dan Dinsos Provinsi Lampung, Rabu (4/12/2019) – Foto: Henk Widi

Upaya pengurangan risiko bencana menurut Hasran Hadi erat kaitannya dengan upaya konservasi lingkungan. Kepada para siswa ia menganjurkan agar keseimbangan lingkungan bisa dilakukan dengan penanaman pohon.

Pengurangan penggunaan sampah plastik, tidak membuang sampah sembarangan menjadi langkah kecil mencegah banjir.

Upaya pengurangan sampah plastik bentuk mencegah risiko banjir, selokan meluap, bisa dilakukan pada lingkungan sekolah. Hasran Hadi menyebut selain sejumlah sosialisasi dalam bentuk teori indoor, simulasi evakuasi outdoor juga dilakukan.

Simulasi penanganan gempa bumi yang melibatkan para siswa dan guru diharapkan menjadi bekal saat terjadi bencana.

“Pengetahuan yang diperoleh harus ditularkan kepada keluarga agar saat terjadi bencana jumlah korban bisa diminimalisir,” tegas Hasran Hadi.

Selain kegiatan sosialisasi, simulasi penanganan bencana Tagana Lamsel mengajak siswa dan masyarakat peduli lingkungan sekitar.

Sebagai bagian rangkaian kegiatan bakti sosial, melibatkan unsur masyarakat, Dinas Sosial Provinsi Lampung, Tagana Lamsel melakukan kegiatan pembersihan lingkungan. Pembersihan lingkungan digelar mengantisipasi terjadinya banjir saat musim penghujan tiba.

Kesadaran akan mitigasi bencana sekaligus menciptakan sekolah dan desa siaga bencana. Prioritas sejumlah sekolah dan Kampung Siaga Bencana (KSB) menurut Hasran Hadi di wilayah rawan bencana.

Sejumlah sekolah dan KSB yang dibentuk diantaranya di wilayah pesisir pantai, kawasan tepi sungai dan wilayah dekat gunung.

Lihat juga...