Tiga Makanan Khas Minang yang Sulit Ditemui

Editor: Koko Triarko

PADANG – Bagi yang suka kuliner tradisional khas daerah Sumatra Barat, perlu tahu jika di ranah Minang ini setidaknya ada tiga jenis makanan yang sulit ditemukan di sejumlah restoran atau kafe. Ketiga makanan itu adalah Lapek Koci Kacang Hijau, Sari Kayo, dan Kerupuk Kuah.

Ketiga jenis makanan itu jarang ditemukan di banyak restoran, karena cara membuatnya yang masih tradisional, dan tidak banyak orang yang bisa membuatnya.

Sebut saja lapek koci kacang hijau. Lapek koci berasa lembut di lidah, perpaduan rasa kacang hijau dan manisnya gula aren, merupakan salah satu kuliner di Kota Padang, Sumatra Barat, yang tidak dijual dalam jumlah yang besar.

Kuliner lapek koci ini jika dicari di pusat kota tidak bakalan ditemukan, tapi bila mencoba singgah di warung kopi yang berada di kawasn jalan Jati Padang, ada yang menjual lapek koci hijau tersebut. Keberadaan lapek koci pun tidak bisa ditemukan tiap hari, karena orang yang membuat lapek ini baru bersifat usaha rumahan.

Sari Kayo yang terlihat begitu kental manis dan disajikan dengan ketan putih, dan makanan ini hanya di daerah Kabupaten Limapuluh Kota dan Payakumbuh, di beberapa rumah makan juga menemukan kuliner yang satu ini./ Foto: M. Noli Hendra

Lapek koci juga dikenal dengan kuliner hanya bisa ditemui di Kota Padang ini. Karena kuliner ini diproduksi dari tangan para ibu rumah tangga yang merupakan penduduk asli masyarakat Minang. Sementara daerah lainnya di Sumatra Barat, tidak ada yang membuat lapek koci. Tapi bila melihat dari segi kemasannya, hampir sama dengan kuliner lapek bugi atau beras ketan.

Soal rasa, lapek koci tidak diragukan lagi. Karena dengan perpaduan kacang ijo, beras ketan putih, dan gula merah aren, membuat lapek begitu enak untuk cemilan. Rasa yang membuat lapek ini lezat, bungkusan lapeknya masih menggunakan daun pisang, dan dimasak secara tradisional.

Eli, salah satu yang beruntung bisa memesan lapek koci, mengatakan, untuk mendapatkan lapek koci ia harus memesannnya kepada yang membuat kue jauh-jauh hari. Seperti halnya untuk momen Idulfitri dan Iduladha, Eli memesannya tiga hari sebelum hari lebaran itu tiba. Alasannya,  karena untuk membuat adonannya butuh waktu dan menyediakan bahan utamanya, yakni kacang hijau, beras ketan putih, dan gula merah.

“Iya, saya mesan dulu, kue lapek poci untuk sajian keluarga serta tamu yang datang. Kalau dilihat dari ukurannya, memang tidak terlalu besar, tapi harganya per butir Rp2500. Beda dengan kue pada umumnya hanya Rp1.000 per butir. Tapi wajarlah, harga segitu, enak soalnya,” katanya, Sabtu (14/12/2019).

Berikutnya adalah Sari Kayo, yang tidak asing lagi bagi masyarakat di Sumatra Barat. Kuliner ini memiliki rasa manis, lembut, kenyal, dan seporsi kenyang, seakan sudah menjadi hal utama untuk makanan penutup di setiap sajian makanan yang ada di rumah makan.

Di Sumatra Barat, tidak semua rumah makan memiliki sajian penutup Sari Kayo. Biasanya, Sari Kayo bisa ditemukan di rumah makan yang ada di daerah Kota Payakumbuh.

Kue lapek koci kacang hijau yang di dalamnya ada gula merah yang dicairkan, rasa kue ini manis dan kenyal/  Foto: M. Noli Hendra

Di rumah makan ini turut menyajikan Sari Kayo sebagai makanan penutup. Namun sebelum disajikan, pramusaji yang akan menanyakan terlebih dahulu, apakah ingin mencicipi Sari Kayo. Bagi yang tidak berselera, pramusaji hanya akan menyajikan sesuai permintaan saja.

Laras, salah seorang pramusaji di Rumah Makan Pongek Situjuah, menjelaskan, makanan penutup yang disajikan di rumah makan itu gratis, hanya saja untuk Sari Kayo tidak diberikan secara gratis. Tapi meski tidak gratis, harganya sangat murah, yakni Rp5.000 per porsi yang turut menambah dengan sebungkus kecil beras ketan putih.

“Kenapa jadi makanan penutup? Biar setelah makan yang pedas, jadi hilang pedasnya,” katanya.

Kuliner yang satu ini hanya ada di daerah Payakumbuh atau di Kabupaten Limapuluh Kota, karena kuliner yang manis ini lahir di daerah tersebut. Sehingga daerah lainnya di Sumatra Barat, tidak memiliki pengetahuan untuk membuat Sari Kayo tersebut.

Laras menjelaskan, Sari Kayo begitu manis karena kuliner ini terbuat dari gula pasir dan sejumlah bahan-bahan lainnya. Sehingga, nantinya hasil Sari Kayo itu akan menyerupai agar-agar. Untuk mencicipinya, dibuatkan ketan beras putih atau juga bisa dari lemang.

Makanan yang juga langka ditemukan adalah kerupuk kuah. Di Sumatra Barat, kerupuk kuah merupakan kuliner yang tidak semua tempat wisata menyajikan. Bahkan, di masing-masing daerah bumi Minangkabau, kerupuk kuah rasanya nyaris berbeda, karena bumbu yang digunakan untuk membuat kuah.

Eli memperlihatkan kue lapek koci kacang hijau yang masih terbungkus daun pisang, Sabtu (14/12/2019)/ Foto: M. Noli Hendra

Adanya perbedaan rasa dipengerahui oleh lingkungan. Di kawasan Lembah Harau, daerah yang memiliki suhu udara yang begitu sejuk, masakannya cenderung pedas. Sementara kerupuk kuah yang ada di kawasan Pantai Padang, rasa kuahnya tidak terlalu pedas, dan masih bisa ditoleren bagi yang tidak suka pedas.

Seperti dikatakan Yasmi, seorang wanita lanjut usia, yang sejak 1963 telah berjualan kuliner andalan tersebut. Yasmi setiap hari berjualan kerupuk kuah di kawasan Air Terjun Lembah Harau. Berada persis di kaki air terjun, ada 3 kantong plastik kerupuk singkong yang dijual oleh Yasmi.

“Kalau kerupuknya bisa dibeli di pasar, dan tinggal di goreng di rumah. Tapi untuk kuahnya, harus dibuat sendiri, dan saya sudah sejak 1963 membuat kuah dari kerupuk singkong ini. Pedas adalah rasa yang khas untuk kerupuk kuah di Air Terjun Lembah Harau,” katanya.

Ia menyebutkan, bahwa membuat kuah kerupuk itu, hampir sama dengan memasak gulai, yakni ada santan, cabai merah giling, bawang merah dan putih, kunyit, garam, dan tambahan tepung beras.

Soal rasa pedas adalah rasa yang khas bagi kerupuk kuah yang ada di Lembah Harau. Persoalan rasa sebenarnya merupakan hal yang wajar, karena memang masakan Minang pada umumnya memiliki rasa yang kaya rempah dan pedas.

Agar rasa kerupuk kuah memiliki rasa yang lebih menggiurkan, setiap kerupuk akan ditaburi mi putih yang juga telah dimasak menggunakan bumbu cabai merah. Bila semua telah tersajikan, saatnya menikmati kerupuk kuah.

Supaya mendapatkan sensasi memakan kerupuk kuah, cobalah untuk melipatnya, maka setiap gigitan, akan mendapat rasa yang begitu menakjubkan.

“Harga untuk kerupuk kuah lengkap dengan mi hanya Rp5.000. Memang terbilang murah, karena untuk membuat kerupuk kuah tidaklah menggunakan modal yang besar, palingan hanya menghabiskan modal Rp300.00 saja,” ucapnya.

Nah, bagi yang berwisata ke kawasan Lembah Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, tidak lengkap rasanya bila tidak mencicipi kerupuk kuah yang ada di kawasan Air Terjun Lembah Harau.

Lihat juga...