Tindakan ‘Bully’ Dialami Murid Terjadi di Sumbar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Barat mencatat ada tiga kasus terkait bully yang masuk ke pembukuan Ombudsman sepanjang tahun 2019 ini. Kasus itu merupakan laporan yang diterima Ombudsman dari orangtua murid yang datang ke kantor yang ada di jalan Sawahan Padang.

Asisten Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Barat, Adel Wahidi, mengatakan, tercatat dari awal Desember 2018 hingga November 2019 secara mengejutkan Ombudsman Perwakilan Sumatera Barat menerima laporan dari masyarakat yang terkategori bully yang terjadi di sekolah. Hal mengejutkan lagi bully tersebut diduga dilakukan oleh oknum guru.

“Bagi kami di Ombudsman bully merupakan terkategori perbuatan tidak patut, atau tidak etis yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan publik. Apalagi hal ini berhubungan dengan pendidikan, seharusnya harus menjadi didikan lebih bersikap sopan dan baik,” katanya, Selasa (10/12/2019).

Adel menyatakan pendidikan adalah misi negara yang menjadi objek pengawasan oleh Ombudsman, sehingga pendidikan turut menjadi pengawasan dan kewenangan Ombudsman.

“Laporan yang masuk ke Ombudsman itu bully yang dialami oleh murid, yang kata pelapor dilakukan oleh seorang guru. Hal ini jelas sangat kita sayangkan, karena tidak seharusnya guru melakukan tindakan yang demikian,” tegasnya.

Ia menyebutkan dalam palaporan yang masuk ke Ombudsman itu, melalui orangtua yang datang langsung ke Ombudsman. Bagi pihaknya, hal tersebut patut diapresiasi, karena orang tua langsung melaporkan tindakan yang diduga tidak patut dilakukan oleh seorang pendidik tersebut.

Adel memaparkan, bully pertama dilaporkan oleh masyarakat itu, terkait perkataan kasar pada seorang siswa oleh oknum guru di SDN 18 Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat.

Persoalan bully terjadi berawal dari seorang siswa dari keluarga kurang mampu yang belum mampu beli tongkat pramuka. Akibat  murid dikasari oleh oknum guru dengan mengatakan ungkapan hal yang tidak wajar yakni sampilik kariang (super pelit).

Selanjutnya untuk laporan kedua, ada perkataan tak patut juga dilaporkan oleh masyarakat terkait oknum guru di SDN 1 Alang Laweh Kota Padang.

“Menurut pelapor karena anaknya tidak bisa memahami pelajaran, anaknya sering dimarahi oknum guru, dengan kasar oknum guru berkata dak ciek alah e pandai do (tidak ada yang tahu satu pun). Perkataan itu seharusnya tidak terucap,” tegasnya kembali.

Adel menceritakan dari keterangan orangtua yang melaporkan sang anak, akibat bully itu, menjadi takut datang ke sekolah dan meminta pindah dari sekolah tersebut.

Anehnya, setelah mengajukan pindah, diduga juga tidak dilayani dalam pengurusan administrasinya oleh pihak sekolah dan Dinas Pendidikan.

Selanjutnya untuk kasus ketiga, datang dari SMAN 10 Kota Padang. Di sekolah ini dilaporkan, seorang oknum Wakil Kepala Sekolah berkata kasar pada siswa yang orang tuanya dianggap vokal dalam mengkritisi kebijakan sekolah mengenai uang komite sekolah.

“Menurut keterangan pelapor anak-anak yang orang tuanya kritis dikumpulkan dan dikasari,” ucapnya.

Dengan kasus itu, Adel menegaskan pihaknya bergerak cepat dalam hal ini. Rencananya pekan depan, Ombudsman akan menjadwalkan pemanggilan pada semua pihak, seperti kepala sekolah dan oknum guru dimaksud.

“Saya berharap pihak yang dilaporkan itu datang. Setelah nanti dapat kejelasan. Ombudsman berharap agar para sekolah lebih meningkatkan kualitas pelayanan pendidikannya,” sebutnya.

Lihat juga...