TMII Edukasi Pengunjung dengan Replika Kasuari Gelambir Tunggal

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Replika burung Kasuari Gelambir Tunggal berbahan sampah bekas ini menebarkan edukasi pelestarian satwa khas Indonesia. Pengunjung Taman Burung Taman Indonesia Indah (TMII) pun terkagum-kagum dengan replika tersebut, yang dipamerkan di area pintu masuk wahana satwa khas Indonesia.

Alana dan Milan, dua bocah belia ini terlihat antusias mengamati replika burung Kasuari Gelambir Tunggal. Tangan mereka memegang tubuh replika burung itu. “Keren ya burung Kasuari, kok bisa ya buat dari bahan bekas,” kata Alana sambil memegang burung itu.

Milan, sang adik juga mengangumi replika burung Kasuari itu. Dia pun mengajak kakaknya, Alana untuk berfoto di depan replika burung itu.

“Ayo Mbak, kita foto dekat burung Kasuari. Nanti kita lihat Kasuari yang masih hidupnya di dalam yuk,”  ujar Milan, memegang tangan kakaknya.

Harni, sang ibu, mengabadikan momen kedua putrinya bergaya di depan replika burung itu dalam telepon selulernya.

Dia mengaku sengaja mengajak anaknya jalan-jalan ke TMII, untuk melihat ragam budaya daerah. Sebelum ke Taman Burung, mereka telah mengunjungi Anjungan Sumatera Barat dan Anjungan Sumatera Utara, lalu berlanjut ke Istana Anak-Anak Indonesia (TMII) dan PP-IPTEK.

“Keluar dari pintu gerbang PP-IPTEK, anak saya lihat burung ini. Ternyata ini replika burung Kasuari dari bahan bekas ya. Bagus kreatif, sangat edukatif bagi anak-anak,” kata Harni kepada Cendana News ditemui di area depan pintu masuk Taman Burung TMII, Jakarta, Minggu (29/12/2019).

Usai berfoto, Harni pun mengajak anaknya masuk ke area Taman Burung. “Biar mereka tahu jenis satwa khas Indonesia, banyak kan di dalam,” ujar warga Pesangrahan, Jakarta Selatan.

Alana dan Milan berfoto di dekat replika burung Kasuari Gelambir Tunggal di depan pintu masuk Taman Burung TMII, Jakarta, Minggu (29/12/2019). Pengunjung lainnya antusias melelihat replika burung langka khas Indonesia. -Foto: Sri Sugiarti

Kasie Program dan Pengembangan Taman Burung TMII, Susi Nurgari, mengatakan, replika Kasuari Gelambir Tunggal ini dibuat karena kepedulian terhadap lingkungan. Apalagi banyak sampah plastik yang sulit didaur ulang.

Meskipun bisa tapi cukup lama waktu yang yang dibutuhkan untuk mengurai sampah plastik di bumi. Maka, Taman Burung TMII, melalui tim teknik berkreasi dalam bentuk seni yang sifatnya kehidupan satwa khas Indonesia.

Kemudian, diputuskan membuat  replika burung Kasuari Gelambir Tunggal, dengan menggunakan bahan bekas, seperti botol plastik dan ban.

Dia menjelaskan, burung Kasuari Gelambir Tunggal (casurius unappendiculatus) merupakan hewan asli Indonesia, dari Papua. Namun keberadaan burung yan tidak memiliki kemampuan untuk terbang ini, kini sudah langka diakibatkan oleh perburuan liar.

Maka Taman Burung TMII, sebagai lembaga konservasi mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan satwa ini dan mengenalkan kepada pengunjung.

“Burung Kasuari Gelambir Tunggal ini hampir punah, kita harus lestarikan. Dan replika burung ini dibuat  tujuannya untuk menyelamatkan bumi. Dan menyadarkan pengunjung agar menjaga lingkungan,” kata Susi kepada Cendana News.

Replika burung Kasuari Gelambir Tunggal setinggi 4,5 meter dengan berat 202 kilo gram ini dirangkai dengan menggunakan 2.020 botol bekas, 1.987 tutup botol dan 40 buah ban bekas.

“Tubuhnya terbuat dari botol bekas, kepalanya dari tutup botol dan kaki dari ban bekas. Proses pembuatannya 45 hari, dikerjakan oleh tim teknik kami,” ujarnya.

Replika burung Kasuari Gelambir Tunggal yang terbuat dari bahan bekas ini memiliki makna yang sangat berarti. Yakni, jelas Susi, untuk tingginya 4,5 meter ini melambangkan tahun 2020, TMII berusia 45 tahun, tepatnya tanggal 20 April.

Kasie Program dan Pengembangan Taman Burung TMII, Susi Nurgari saat ditemui di area Taman Burung TMII, Jakarta, Minggu (29/12/2019). -Foto: Sri Sugiarti

Sedangkah rangkaian tubuh dari 2020 botol plastik bekas, ini berhubungan dengan tahun baru. Adapun rangkaian kepala burung sebanyak 1987 tutup botol, mempunyai makna mendalam.

“Taman Burung TMII diresmikan pada 27 April 1987 oleh Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto. Ide pembangunannya oleh Ibu Tien Soeharto untuk melestarikan satwa asli Indonesia,” kata Susi.

Kepedulian terhadap lingkungan menjadi ide Taman Burung TMII membuat replika satwa langka khas Indonesia ini. Adapun bahan-bahannya berupa sampah bekas tersebut didapatkan dari lingkungan sekitar TMII.

Yakni bekerja sama dengan sejumlah kios yang ada di area TMII. Karena dipastikan pengunjung yang banyak setiap harinya, maka sampah yang dihasilkan juga akan banyak.

Sehingga begitu ada botol plastik bekas yang dibuang pengunjung di dekat kiosnya. Mereka akan mengumpulkan untuk kemudian diberikan kepada tim teknik Taman Burung TMII.

“Jadi, kita manfaatkan barang bekas untuk reflika burung ini dari area TMII saja, seperti sampah botol plastik,” ujarnya.

Replika Burung Kasuari Gelambir Tunggal ini dibuat untuk memeriahkan Pekan Desember, Natal dan Tahun Baru 2020. Menurutnya, dalam setiap event besar pihaknya akan terus menyajikan kreasi replika satwa khas Indonesia dengan tetap memanfaatkan bahan bekas.

Susi berharap replika burung ini dapat mengedukasi pengunjung sehingga mereka menjadi tahu satwa langka khas Indonesia. Jika mereka ingin lebih mengenal ragam jenis satwa, bisa melihatnya di area Taman Burung TMII.

“Ya harapannya lewat replika burung Kasuari Gelambir Tunggal ini, masyarakat bisa teredukasi untuk mencintai lingkungan karena sampah itu bisa jadi kreasi seni. Dan juga mereka jadi cinta satwa khas Indonesia, mau melestarikan,” pungkasnya.

Lihat juga...