Tradisi Ater Ater Jaga Toleransi di Lamsel

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Hidup rukun berdampingan dengan perbedaan agama, suku masih tetap terjaga dengan adanya tradisi ater ater di Lampung Selatan (Lamsel). Budaya antar makanan kepada tetangga atau kerabat terus dipertahankan oleh sebagian masyarakat di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan.

Aloysius Rukun Haryoto, ketua Dewan Pastoral Unit Pastoral Bakauheni, Lampung Selatan saat kegiatan di gereja Santo Petrus dan Paulus Minggu (22/12/2019). Dok Henk Widi

Yohana, salah satu jemaat gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus menyebut ater ater sudah ada sejak tahun 1990 silam dan terus dilestarikan oleh masyarakat setempat, baik Muslim maupun Kristiani. Seperti halnya saat umat Katolik merayakan Natal, warga akan memasak hidangan lengkap dengan lauk pauk untuk dikirimkan ke kerabat, tetangga dan sesepuh kampung.

Sejumlah menu yang akan dibuat untuk ater ater meliputi nasi, mie, ayam goreng dan sejumlah lauk lainnya. Bagi sejumlah warga yang sudah lanjut usia dan sesepuh kerap disertakan santunan.

“Sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat yang merupakan warga keturunan asal Yogyakarta, sebagai bagian keluarga besar tanpa memandang perbedaan agama yang dianut,” terang Yohana saat ditemui Cendana News, Rabu (25/12/2019).

Proses ater ater dilakukan sehari atau saat perayaan Natal. Sebaliknya saat Idul Fitri ia juga kerap mendapat kiriman dari umat Muslim di desanya.

Rasa toleransi dan keberagaman yang masih terjaga menurut Yohana juga terlihat dalam kunjungan. Setelah mendapat ater ater, sebagian umat Islam juga akan mengunjungi umat Katolik. Kunjungan tersebut bagian dari open house dimana umat Katolik menerima warga yang berkunjung saat Natal.

Remi, warga yang menerima ater ater menyebut sangat menghargai perbedaan.

“Ater ater menjadi bentuk menghargai orang yang lebih tua, sekaligus kebersamaan dengan pemeluk agama lain,” papar Remi.

Rukun Hariyoto, ketua Dewan Pastoral (Depas) menyebutkan, sikap toleransi antar umat beragama masih dipertahankan di wilayahnya.

“Toleransi dan sikap saling menghargai antar sesama masih dijunjung tinggi, terlebih kami dominan memiliki ikatan kekeluargaan, meski ada yang memeluk agama berbeda,” papar Rukun Haryoto.

Saat perayaan Natal 2019, tradisi ater ater masih dilestarikan. Sejumlah umat Katolik yang membuat makanan akan dihantar kepada umat yang beragama lain.

“Meski tindakan sederhana, namun tradisi itu menjadi simbol toleransi yang tetap bagus dilestarikan,” tambahnya.

Lihat juga...