UI Miliki Dua Guru Besar Rumpun Ilmu Kesehatan Baru

Dokumentasi. Gedung Rektorat UI – Foto Ant

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan dua orang guru besar rumpun ilmu kesehatan, Sabtu (21/12/2019). Pengukuhan dipimpin langsung Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro.

Dua guru besar tersebut adalah, Prof. Yeni Rustina sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Keperawatan UI (FIK UI) dan Prof. drg. Nurhayati A.Prihartono yang merupakan Guru Besar Tetap Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM UI)

Dalam pidato pengukuhannya, di Balai Sidang UI kampus Depok, Prof. Yeni Rustiana, memaparkan pidato berjudul “Optimalisasi Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi Berat Lahir Rendah melalui Asuhan Perkembangan.” Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah, bayi yang lahir kurang dari 2.500 gram. Sementara, kelahiran prematur yaitu, bayi yang lahir dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu.

BBLR memiliki risiko tinggi untuk mengalami berbagai masalah kesehatan bahkan hingga kematian. Kemudian, juga mempunyai kecenderungan untuk mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. “Bayi berat lahir rendah menyumbang hampir 40 persen terjadinya stunting. Berkenaan dengan masalah tersebut, direkomendasikan pemberian asuhan perkembangan (developmental care),” katanya.

Tim Keperawatan dapat melakukan intervensi dengan cara pemberian lingkungan yang aman, melalui penataan kebisingan, pencahayaan, cara memegang bayi, memfasilitasi kecukupan oksigen. Pemberian nutrisi yaitu air susu ibu (ASI), penatalaksanaan nyeri, menjaga bayi tidur, dan pengaturan posisi. Salah satu contoh asuhan perkembangan adalah Perawatan Metode Kanguru atau Kangaroo Mother Care atau Perawatan Metode Kanguru (PMK).

PMK memberikan manfaat yang sangat besar bagi BBLR dan orang tuanya. “Perawatan metode kanguru memberikan kehangatan kepada bayi, bayi menyusu lebih lama, kenaikan berat badan lebih cepat, tidur bayi lebih lama, dan mengurangi infeksi,” jelasnya.

Sedangkan Prof. Nurhayati, menyampaikan pidato pengukuhan bertajuk “Peran Epidemiologi di Lingkungan Kerja dalam Pencegahan Penyakit dan Gangguan Kesehatan sebagai Langkah Meningkatkan Kualitas SDM di Indonesia.”

Epidemiologi merupakan salah satu kunci untuk mengetahui faktor risiko dan distribusi suatu gangguan atau masalah kesehatan. Permasalahan kesehatan di lingkungan kerja di negara berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan yang besar, antara lain masih lemahnya pengawasan terhadap pajanan yang membahayakan kesehatan.

Salah satu studi yang dilakukan adalah, berkenaan dengan pajanan yang bersumber dari kegiatan industri aki. Kegiatan tersebut dapat berdampak pada pekerja, keluarganya atau penduduk yang tinggal dekat dengan lokasi industri. Suatu penelitian telah dilakukan terhadap 279 anak-anak berusia 1-5 tahun, yang bermukim dekat tempat daur ulang aki bekas di Jakarta dan Tangerang. Hasilnya, sekira 56 persen anak mempunyai kadar timbal dalam darah yang lebih tinggi dari nilai standar (5 µg/dL).

Dan sekira sembilan persen diantaranya memiliki kadar timbal darah 10 µg/dL atau lebih tinggi. “Pajanan timbal dalam darah khususnya pada anak-anak dapat mengakibatkan penurunan tingkat kecerdasan, masalah kesehatan, bahkan berdampak sosial,” katanya.

Dengan adanya potensi berbahaya terhadap lingkungan dan kesehatan, maka pemahaman yang ditimbulkan dari proses daur ulang aki bekas, aliran bahan dan sistem pengelolaan aki akan menjadi isu penting di masa yang akan datang. “Perlu ada upaya pengelolaan limbah berbahaya dan beracun di Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...