Ulat Grayak Serang Sebagian Tanaman Jagung di Lamsel

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Ancaman hama ulat grayak atau ulat grayak frugiperderda (UGF) bagi tanaman jagung tidak menghalangi warga Desa Sumur Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) memulai masa tanam. Berbagai antisipasi dilakukan, di antaranya pemilihan bibit hingga pola penanaman.

Nurhayati, pemilik kebun jagung di Dusun Yogaloka Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan memulai masa tanam jagung ketika hujan mulai mengguyur wilayah Lamsel, Jumat (27/12/2019). Foto: Henk Widi

Nurhayati, petani jagung di Dusun Yogaloka menyebutkan, untuk mengantipasi serangan, petani memilih varietas daya kecambah yang baik dan bebas penyakit serta melakukan penanaman serempak.

“Hama ulat grayak muncul saat penanaman tidak seragam dan menyerang tanaman yang berusia 1 bulan,” ungkap Nurhayati saat ditemui Cendana News, Jumat (27/12/2019).

Pada awal musim penghujan yang belum merata ia mulai melakukan proses penanaman dengan sistem tajuk untuk memperkuat perkecambahan.

“Setelah lubang ditajuk dengan alat dari kayu dan pelubang besi, benih jagung akan dimasukkan dan tanahnya diinjak agar memiliki perakaran yang kuat,” sebutnya.

Proses pengendalian hama ulat grayak disebut Nurhayati dilakukan secara alami dengan membiarkan rumput tumbuh tinggi. Setelah benih jagung tumbuh pada usia satu pekan proses penyemprotan akan dilakukan dengan pestisida kimia dan herbisida.

“Ulat grayak yang umumnya menyerang pada malam hari bisa diantisipasi dengan penggunaan agen hayati jenis nematoda entomo patogen,” tambahnya.

Ketut, salah satu buruh tanam yang juga petani jagung menyebut ulat grayak menyerang daun, batang tanaman muda. Daun yang diserang akan terkoyak, berlubang tidak beraturan.

“Saat tanaman jagung mulai memunculkan daun serangan kerap berimbas pada pertumbuhan tanaman, jika tidak diantisipasi akan gagal panen,” papar Ketut.

Meski masa tanam akhir tahun sejumlah petani dihantui hama ulat grayak, Ketut memastikan petani tetap antusias menanam jagung.

“Antisipasi serangan meluas petani harus rajin melakukan pemantauan dengan memeriksa tanaman yang diserang pada siang hari,” ungkap Ketut.

Usia siklus hidup ulat grayak mencapai 30 hari dengan jumlah telur 1.000 telur per serangga menjadikan hama tersebut cukup merugikan petani. Pada lahan tanaman jagung yang ada di Desa Gandri, Ketut menyebut petani harus menyiapkan biaya Rp1 juta.

“Biaya tersebut digunakan untuk membeli insektisida. Selain itu sebagian petani memilih melakukan tumpang sari tanaman jagung dengan ubi jalar agar ulat tidak menyerang tanaman,” tambahnya.

Lihat juga...