Upaya Pencegahan Lebih Unggul Tekan Penyalahgunaan Narkoba

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat), Henry Yosodiningrat, menilai upaya pencegahan lebih unggul dibanding upaya lainnya dalam menekan penyalahgunaan narkoba. Pasalnya berbagai upaya sudah dilakukan namun bisa saja juga gagal.

“Lihat saja berbagai upaya sudah dlaksanakan dalam mencegah peredaran narkoba, penangkapan, pemusnahan, bahkan sampai hukuman mati. Tapi tidak memberi dampak terkait peredaran narkoba, tentu ada yang salah,” ujar Henry dalam konferensi pers usai menghadiri seminar Strategi Nasional Pencegahan dan Penyalahgunaan Narkoba, di Kampus Universitas Bhayangkara (Ubhara) Jakarta Raya wilayah Bekasi, Selasa (10/12/2019).

Berbicara tentang narkoba pertama mencegah masuk secara ilegal dari luar diakuinya sudah gagal. Begitu pun pemberantasan juga gagal. Indikasi gagalnya apa tentu lihat sendiri narkoba masih sampai ke tangan para pengguna.

“Begitu pun upaya mencegah penyalahgunaan tetap gagal lagi. Buktinya jumlah penyalahguna makin bertambah,” tandas Henry menyebut upaya terakhir rehabilitasi juga tidak ada satu pun bukti bahwa mereka setelah rehabilitasi pasti sembuh.

Menurutnya, sesuai data yang dimiliki, diketahui mereka yang telah menjalani rehabilitasi, tingkat akan kembali menggunakan narkoba mencapai 70 persen. Ini sudah jelas siklus seperti itu. Oleh karenanya dia menilai upaya mencegah lebih unggul dibanding upaya lainnya.

Jika upaya mencegah berhasil, maka tidak perlu lagi risau dengan peredaran di lapangan. Karena jumlah anak bangsa yang belum mengenal narkoba jauh lebih besar, dan mereka harus dicegah agar tidak mengenal narkoba. Jika tidak dilakukan upaya pencegahan maka mereka akan mengenal narkoba.

“Mencegah bisa melalui diskusi dan seminar atau membuat aturan perundang-undangan yang arahnya penguatan upaya pencegahan. Kemudian sinkronkan antara peraturan satu dengan yang lain berkaitan dengan upaya pencegahan,” tegasnya.

Henry memiliki impian, anak bangsa bisa menjauhi narkoba seperti umat muslim tidak mengkonsumsi babi karena telah memiliki fatwa haram. Lihat sendiri umat muslim dari kecil bahkan sudah diajarkan tidak meninggalkan kewajiban salat, puasa, meskipun masih ada yang meninggalkan.

“Coba tanya mereka pernah makan babi dengan sengaja. Pasti tidak pernah, padahal tidak ada dosanya makan babi, hanya dikatakan haram. Bagaimana narkoba bisa seperti itu, sehingga biar pun banyak tetapi tidak ada yang memesan atau pun berminat,” ujarnya.

Staf Ahli BNN, Ahwil Luthan, menyampaikan bahwa tingkat peredaran narkoba lebih cenderung di kalangan remaja seperti sekolah dan kampus. Namun demikian lanjutnya, kalangan pekerja pun merambah tetapi tentu usia peralihan dari remaja ke usia kerja yang masih muda.

“Pencegahan penting. Sasarannya bagaimana mencegah agar mereka tidak menyalahgunakan. Sedangkan bagaimana mencegah, menghentikan bagi yang sudah terlanjur ini, perlu upaya bersama tentunya,” pungkas Ahwil.

Lihat juga...