Warga Lamsel Jaga Kelestarian Lahan Miring dengan Tanaman Produktif

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Menjaga lahan miring tetap hijau dan menjauhkan dari bencana longsor, warga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) memanfaatkan tanaman multi purpose tree species (MPTS). Selain melestarikan lingkungan, usaha tersebut juga menjadi tambahan pemasukan bagi masyarakat.

Saiful, warga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang menyebutkan, perbukitan register Gunung Taman hingga wilayah Bakauheni didominasi lahan miring. Kearifan lokal masyarakat dalam upaya penanaman pohon produktif telah berjalan puluhan tahun. Jenis tanaman MPTS yang dikembangkan meliputi kelapa puan, jengkol, petai, pinang, mangga, durian serta tanaman buah lain.

“Lahan perbukitan di Sidoluhur merupakan tanah merah rawan longsor, warga mempertahankan tanaman produktif yang bisa memberikan nilai ekonomis dari buah,” terang Saiful saat ditemui Cendana News tengah memanen buah jengkol miliknya, Rabu (11/12/2019).

Kelestarian lahan miring menurut Saiful tetap dijaga oleh masyarakat, sebab sebagian cekungan menjadi sumber mata air. Sejumlah belik menjadi sumber air bersih bagi warga selama kemarau. Jenis pohon gondang, aren yang ditanam sekaligus peresap air sempurna untuk keberlangsungan pasokan air.

“Penanaman berbagai jenis pohon menjadi investasi jangka menengah dan panjang tanpa merusak lingkungan di lahan miring,” ungkap Saiful.

Pemilik lahan miring di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni bernama Sahbana menyebut MPTS kunci menahan kelestarian perbukitan. Lahan perbukitan dimanfaatkan untuk menanam berbagai pohon yang dipanen buah tanpa menebang pohon. Jenis tanaman yang dilestarikan meliputi alpukat, durian, kolang kaling, mangga dan petai.

“Sumber bibit dari jenis tanaman berkualitas sistem sambung pucuk membuat pohon bisa berproduksi minimal dua tahun,” ungkap Sahbana.

Keberadaan ratusan pohon pada lahan miliknya menurut Sahbana membuat ia bisa memiliki sumber air. Selain itu berbagai jenis tanaman yang telah berusia puluhan tahun menjaga lahan miring agar tidak longsor saat penghujan.

Berbeda dengan Saiful dan Sahbana, warga di Desa Rawi Kecamatan Penengahan memilih tanaman pohon bahan bangunan. Yusuf, pemilik lahan miring di kaki Gunung Rajabasa menanam ratusan pohon jenis sengon, mahoni, kemiri dan medang. Beberapa jenis pohon tersebut sebagian dipanen saat usia enam tahun sebagai sumber kebutuhan bahan bangunan.

“Awalnya tanah sempat longsor lalu direboisasi dengan kemiri dan sengon yang bisa dipanen buah dan pohonnya,” beber Yusuf.

Jenis pohon sengon memiliki harga Rp400.000 per kubik menjadi investasi jangka panjang sekaligus menjaga lahan miring tidak longsor.

Lihat juga...