Akademisi: Pengeboman Ikan Hancurkan Biota Laut

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Aktivitas pengeboman ikan yang kian marak di perairan  pantai utara maupun selatan Pulau Flores terutama di Kabupaten Flores Timur dan Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat TNI AL Lanal Maumere dan Polairud Polda NTT melakukan berbagai penangkapan.

“Pelaku pengeboman ikan melanggar beberapa undang-undang termasuk juga keputusan presiden. Makanya pelakunya harusnya dijatuhi hukuman yang berat,” kata dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere , Yohanes Don Bosco Minggo, S.Pi, M.Si, Senin (20/1/2020).

Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, Yohanes Don Bosco Minggo, S.Pi, M.Si, saat ditemui Senin (20/1/2020). -Foto : Ebed de Rosary

Dikatakan Bosco sapaannya, tindakan pelaku hanya mementingkan keuntungan pribadi di mana mereka ingin mendapatkan banyak uang dengan cara yang mudah dan praktis dalam menangkap ikan.

Tetapi tindakannya yang menghancurkan kehidupan ikan dan biota laut lainnya bisa dikategorikan sebagai tindakan radikalisme atau kejahatan lingkungan yang mana proses perbaikan kerusakannya membutuhkan waktu sangat lama.

“Butuh waktu puluhan tahun baru bisa kembali seperti semula.Karang saja dalam setahun hanya tumbuh sekitar satu sentimeter saja sehingga untuk menghasilakn sebuah terumbu karang butuh puluhan tahun,” ujarnya.

Kegiatan pengeboman ikan urai Bosco, melanggar Pasal 9 Undang-Undang 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dan Pasal 33 Undang-Undang No 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta Pasal 6 Undang-Undang No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Selain itu tindakan tersebut, kata dia, juga melanggar Undang-Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Undang-Undang Darurat No 12 tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak serta Keputusan Presiden No 125 tahun 1999 tentang Bahan Peledak.

Sementara itu, Direktur Polairud Polda NTT Kombes Pol Drs. Dwi Suseno melalui Komandan kapal patrol Pulau Sukur 3007, Brigpol I. Putu Sulatra mengatakan, sejak Desember  2019 sampai Januari 2020 pihaknya sudah tiga kali menangkap pelaku pengeboman ikan dan pemasok bahan bom ikan.

Dikatakan Putu,tanggal 7 Desember 2019, pihaknya menangkap seorang nelayan dari Desa Lewomada Kecamatan Talibura yang sedang melakukan pengeboman ikan di periaran Teluk Maumere.

“Sebulan setelahnya yakni tanggal 7 Januari tahun 2020 kami kembali menangkap 5 nelayan saat mengebom di dekat perairan di Pulau Koja Doi Kabupaten Sikka,” terangnya.

Kelima nelayan ini sebut Putu, berpotensi melanggar Pasal 84 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 juncto Pasal 85 UU No. 45/2009 tentang Perubahan atas UU No. 31/2004 tentang Perikanan.

Para pelaku telah diperiksa dan untuk sementara dititipkan di Rumah Tahanan (Rutan)) Maumere sambil menunggu proses pelimpahan perkaranya kepada pihak Kejaksaan Negeri Sikka.

Lihat juga...