Australia Kembali Serukan Evakuasi Massal

Langit berwarna merah terlihat saat kebakaran hutan terjadi di dekat kota Mallacoota, Victoria, Australia, Sabtu (4/1/2020) – Foto Ant

MERIMBULA – Otoritas Australia mendesak untuk kembali mengadakan evakuasi massal, terutama untuk warga di area tenggara yang padat penduduk, Kamis (9/1/2020). Seruan itu disampaikan, karena kembalinya cuaca panas di daerah itu. Kondisinya mendorong kebakaran hutan membesar, yang mengancam beberapa kota dan komunitas.

Pimpinan negara bagian Victoria, Daniel Andrews, mendesak masyarakat untuk waspada menjelang kondisi ekstrem. “Apabila anda menerima instruksi untuk pergi, maka anda harus pergi. Itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan keselamatan anda,” kata Andrews dalam sebuah pernyataan di media setempat, Kamis (9/1/2020).

Evakuasi telah diadakan sekali lagi di sebagian dari Pulau Kanguru, area wisata yang kaya akan populasi satwa di pantai tenggara. “Saya mendesak semua orang untuk memperhatikan peringatan, mengikuti saran, dan untuk menuju ke bagian timur pulau itu, yang dianggap aman pada saat ini,” kata Kepala Pemadam Kebakaran Australia Selatan, Mark Jones, dalam pengarahan terpisah di Adelaide.

Menurut pemerintah federal Australia, dua puluh tujuh orang telah tewas pada musim kebakaran ini. Yaitu ketika kebakaran besar-besaran telah menghanguskan lebih dari 10,3 juta hektar tanah, yang disebut-sebut sebanding dengan luas wilayah Korea Selatan. Ribuan orang kehilangan rumah mereka, dan ribuan lain harus melakukan evakuasi berkali-kali akibat ketakterdugaan kobaran api. Penduduk kota pesisir Mallacoota, termasuk di antara mereka yang disarankan untuk menyelamatkan diri keluar.

Area tersebut menjadi tempat ribuan orang terdampar di pantai selama berhari-hari, sampai evakuasi militer yang baru berakhir pada Rabu (8/1/2020). “Jika kita mengungsi, kemana kita pergi?” kata Mark Tregellas, satu dari sekitar 1.000 orang warga Mallacoota, yang memutuskan untuk pergi dan menghabiskan Malam Tahun Baru di atas kapal ketika api menghancurkan sebagian besar kotanya.

Tregellas menyebut, listrik perlahan-lahan kembali tetapi semua orang bergantung pada generator. Sementara kondisi bahan bakar sangat terbatas. “Orang-orang sekarang kehabisan bensin sehingga sebagian besar di kota sekarang mengendarai sepeda,” tandasnya. (Ant)

Lihat juga...