‘Bintang Bethlehem’ dalam Ilmu Astronomi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Bintang Bethlehem yang dijadikan bagian dari kelahiran Yesus Kristus dalam agama Kristen, menurut salah satu teori Astronomi adalah merupakan kejadian konjungsi. Tepatnya konjungsi Yupiter dan Saturnus, yang terjadi setiap 20 tahun sekali. 

Staf Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ), Mohammad Rayhan, memaparkan bintang Bethlehem terlihat oleh tiga utusan yang sedang berjalan dari Yerussalem menuju Bethlehem.

“Fenomena yang digambarkan saat itu adalah adanya bintang yang sangat terang, yang dianggap sebagai pertanda akan terjadinya suatu hal yang besar. Ya kalau saat itu, dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus,” kata Rayhan, saat ditemui di ruang Multimedia POJ Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Ia menjelaskan, bahwa sangat wajar jika fenomena langit saat itu sering dijadikan pertanda akan sesuatu hal. Karena budaya masyarakat saat itu memang masih banyak dipengaruhi oleh pergerakan benda langit.

Bahkan dalam beberapa literatur, tiga utusan tersebut dinyatakan sebagai Magi, yaitu ahli astronomi dan astrologi yang berasal dari Babylonia.

“Ada tiga teori terkait bintang Bethlehem ini. Yaitu, teori konjungsi planet, teori komet dan teori Supernova. Tapi, memang yang persentase kemungkinan terbesar adalah teori konjungsi,” ujar Rayhan.

Jika dihitung secara periode revolusi terjadinya, yaitu 20 tahun, maka secara hitungan matematika, akan terlihat kelipatan 20 dari tahun 2020 ke tahun 0.

“Selain itu, konjungsi Yupiter dan Saturnus ekstrem, yaitu yang hanya berjarak enam menit busur atau setara dengan lima kali lebih kecil dari piring Bulan di waktu malam, memang menghasilkan cahaya yang sangat terang. Yupiter sebagai planet yang paling terang bersisian dengan planet Saturnus, yang merupakan planet terserang ke dua di tata surya kita, jika menempel pasti akan terlihat sangat terang,” urainya.

Perbandingan tingkat kecerlangan magnitudo Yupiter adalah -2. Sementara bintang Sirius yang merupakan bintang paling terang di langit  malam, magnitudo tampaknya adalah -1,46.

“Terkait teori komet dan teori supernova, selama ini belum pernah ada yang bisa menyatakan tingkat keterangan yang sama dengan apa yang terjadi pada waktu bintang Bethlehem itu muncul,” ucapnya.

Karena, menurut Rayhan, rekam jejak supernova yang terakhir hanya satu, yaitu yang saat ini dikenal sebagai Crab Nebula terjadi pada 1054.

“Dan, komet pun tidak bisa dinyatakan saat lewat itu bisa menghasilkan cahaya yang sangat terang. Sangat banyak variabilitas komet, sehingga tidak bisa dipastikan, apakah bisa seterang gabungan dua planet ini,” tandasnya.

Untuk bisa menilai, apakah konjungsi dua planet ini mampu memberikan cahaya yang sangat terang dalam kondisi ekstrem, Rayhan menyebutkan masyarakat bisa melihat sendiri di akhir 2020.

“Konjungsi ekstrem itu akan terjadi pada Desember tahun ini. Silakan dicek sendiri, kejadian konjungsi enam derajat ini. Nanti akan bisa tahu mengapa fenomena konjungsi ini disebut konjungsi agung,” pungkasnya.

Lihat juga...