Dekranasda Purbalingga Dorong Pemanfaatan Penjualan ‘Online’

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Kabupaten Purbalingga sudah memiliki sarana penjualan online melalui program Tuka-Tuku, karenanya Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) setempat berharap kalangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bisa memanfaatkannya lebih maksimal.

Ketua Dekranasda Kabupaten Purbalingga, Rizal Diansyah, mengatakan, program Tuka-Tuku sudah terbukti efektif mendokrak penjualan, hanya dalam waktu lima bulan sudah bisa meraih omzet sekitar Rp100 juta. Sehingga, jika UMKM tidak memanfaatkan program tersebut, akan rugi.

“Sudah era digital, ayo manfaatkan program Tuka-Tuku, karena akan sangat membantu pemasaran produk-produk UMK kita,” kata Rizal, Selasa (14/1/2020).

Lebih lanjut Rizal menjelaskan, sampai saat ini masih banyak pembelian produk UMKM Purbalingga yang juga membeli secara offline. Namun, jika ditunjang dengan penjualan online, produk yang laku akan lebih banyak.

Ketua Dekranasda Kabupaten Purbalingga, Rizal Diansyah di gerai Tuka-Tuku, Selasa (14/1/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Terkait produk yang dihasilkan, Rizal berpesan untuk bisa bersaing di era digital, UMKM harus terus melakukan inovasi serta meningkatkan kualitas produk.

Beberapa produk UMKM Purbalingga sudah mendapat tempat di pasar, seperti produk aneka camilan kering, abon serta berbagai macam jenis kerajinan.

Dekranasda Purbalingga juga terus melakukan dukungan dan pendampingan dengan membuka kesempatan UMKM untuk mengikuti berbagai pameran di luar daerah.

“Promosi akan terus kita genjot, sebaliknya UMKM juga harus terus berupaya meningkatkan kualitas produk dan berinovasi, sehingga akan saling mendukung,” tuturnya.

Program Tuka-Tuku yang diluncurkan pada 1 Agustus 2019 ini, selain berhasil mendongkrak penjualan produk UMKM, juga menjadi rujukan daerah lain dalam pemberdayaan UMKM.

Sampai saat ini sudah ada empat kabupaten yang datang ke Purbalingga untuk belajar program Tuka-Tuku, yaitu Kabupaten Nganjuk, Pati, Demak dan Tanggerang Selatan.

Sementara itu, Yelfia, pemilik Abon Lele Marisa mengungkapkan omzetnya naik hingga 20 persen sejak masuk ke program Tuka-Tuku Purbalingga. Produknya juga makin dikenal luas, karena sering dipromosikan melalui program tersebut.

“Penjualan produk saya sangat tertolong dengan program Tuka-Tuku, karena sebelumnya saya hanya menggunakan pemasaran tradisional saja, mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Ternyata pemasaran melalui media online sangat efektif,” kata Yelfia, yang mengaku sering mendapat pesanan dari luar daerah.

Lihat juga...