Gelombang Tinggi Nelayan di Sikka Libur Melaut

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Gelombang tinggi dan angin kencang yang melanda kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Kamis (2/1/2020) membuat hampir sebagian besar nelayan meliburkan diri.

asruhan, seorang nelayan Nangahaledoi desa Wairbleler kecamatan Waigete kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),Senin (6/1/2020). Foto: Ebed de Rosary

Perahu-perahu nelayan tersebut pun ditarik ke daratan agar tidak dihempas gelombang tinggi dan angin kencang sehingga menyebabkan kerusakan bahkan mengalami kehancuran.

“Sudah sejak tanggal 2 Januari lalu angin kencang sehingga kami tidak bisa melaut lagi. Apalagi perahu kami berukuran kecil,” kata Masruhan, seorang nelayan Nangahaledoi desa Wairbleler kecamatan Waigete, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (6/1/2020).

Dikatakan Masruhan, musim gelombang tinggi disertai angin kencang biasa terjadi awal Januari hingga pertengahan bulan Maret setiap tahunnya.

Selama tidak melaut dirinya mencari pekerjaan lain atau menjadi tukang bangunan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Kalau musim gelombang dan angin kencang kami terpaksa libur melaut. Apalagi perahu motor saya hanya berukuran 3 gross ton saja, rentan tenggelam dihempas gelombang,” tuturnya.

Nasruhan menyebutkan, biasanya para nelayan hanya melepas pukat di rumpon di peraiaran teluk Maumere di depan pulau Besar dan sekitar pulau Babi.

Ikan yang biasa ditangkap sebutnya jenis selar, layang serta tongkol karena mereka hanya melepas pukat di sekitar rumpon saja tidak melaut ke lautan lepas.

“Kalau sedang musim ikan dalam sehari bisa mengantongi pendapatan Rp400 ribu. Kalau sepi kadang cuma dapat 5 ikat saja dan paling dijual cuma Rp50 ribu saja, hanya cukup untuk bahan bakar,” tuturnya.

Masruhan nelayan lainnya menambahkan untuk Nangahaledoi terdapat 15 perahu nelayan yang rata-rata berkapasitas 3 sampai 5 gross ton (GT) sehingga saat gelombang tinggi dan angin kencang sulit melaut.

Dirinya mengaku saat situasi angin kencang dan gelombang tinggi dirinya hanya beristirahat di rumah saja sambil menunggu cuaca membaik.

“Paling kami hanya menarik perahu ke darat lalu memperbaikinya saja. Kami juga mengisi waktu dengan memperbaiki jaring yang rusak,” ujarnya.

Lihat juga...