Harga Ikan di TPI Maumere Turun Drastis

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Sejak dua hari lalu, Sabtu (18/1/2020) harga ikan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami penurunan dimana gelombang tinggi dan angin kencang mulai reda, tangkapan nelayan mulai melimpah.

“Harga ikan sejak tiga hari lalu mengalami penurunan drastis. Biasanya ikan selar dan layang berukuran sedang dijual dengan harga 6 ekor Rp10 ribu tapi sekarang dijual 10 ekor Rp10 ribu,” sebut Juminah, pedagang ikan di TPI Alok Maumere, Senin (20/1/2020).

Juminah mengatakan, turunnya harga ikan Selar dan Layang karena melimpahnya ikan tongkol baik berukuran sedang maupun berukuran besar yang dijual dengan harga sangat murah.

Ikan tongkol berukruan 3 jari orang dewasa dijual dengan harga Rp10 ribu untuk 10 ekornya sementara untuk ukuran 5 jari orang dewasa dijual dengan harga Rp5 ribu seekornya.

“Dua minggu sebelumnya harga ikan masih mahal bahkan ikan tongkol dengan ukuran lebar 3 jari orang dewasa masih dijual 4 ekor Rp10 ribu. Tapi sejak 3 hari ini ikan tongkol sangat banyak sekali,” ungkapnya.

Selain banyaknya tangkapan nelayan di Sikka, jelas Juminah, ikan tongkol yang dikirim dari Kabupaten Flores Timur pun membanjiri TPI Alok Maumere sehingga membuat stok ikan berlimpah.

Dengan kondisi yang ada, tambah dia, membuat ikan hasil tangkapan nelayan lampara dan bagan yang membongkar hasilnya di TPI Alok terpaksa dilepas dengan harga murah agar laku terjual.

“Satu kantong plastik berukuran besar yang biasanya dijual Rp150 ribu bahkan sampai Rp200 ribu kini hanya dijual Rp50 ribu sampai Rp70 ribu saja. Terpaksa ikan Selar dan Layang pun ikut dijual murah,” sebutnya.

H. Burhan nelayan pemilik lampara dari Kelurahan Wuring kota Maumere Kabupaten Sikka saat ditemui, Senin (20/1/2020). -Foto: Ebed de Rosary

H. Burhan pemilik kapal lampara asal Kelurahan Wolomarang kota Maumere mengakui, biasanya sehabis hujan maka musimnya ikan tongkol dan layang sehingga hampir semua kapal lampara dipenuhi ikan tongkol dan layang.

“Kalau sedang musim ikan tongkol dan layang maka kami harus menjual murah sebab bila terlalu mahal maka ikan akan menumpuk. Apalagi ikan tongkol tidak bisa bertahan lama karena akan menjadi gatal,” sebutnya.

Burhan mengatakan, cuaca saat ini sudah sulit diprediksi sehingga pihaknya hanya melihat ketika kondisi laut memungkinkan maka pihaknya akan turun ke laut dan bila terjadi angin kencang maka otomatis beristirahat dahulu.

Kondisi ini sebutnya berbeda dengan dahulu dimana musim hujan biasanya terjadi awal Desember tetapi sekarang musim hujan sudah bergeser dan terjadi di bulan Januari disusul dengan angin kencang.

“Kalau sedang musim ikan tongkol dan layang maka kami bisa mendapat keuntungan sehari Rp5 juta sampai Rp10 juta tetapi kalau sedang tidak musim ikan paling hanya dapat Rp500 ribu sampai Rp3 juta saja,” ungkapnya.

Lihat juga...