Haryono Ingatkan Pemerintah Cermati Indikator SDGs

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Mantan Kepala BKKBN sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kesejahreraan Rakyat (Menko Kesra) era Presiden Soeharto, Prof. Dr. Haryono Suyono, MA. Ph.D, mengungkapkan pemerintah Indonesia harus secara serius mencermati indikator pembangunan manusia yang dicanangkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yang kini dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurutnya, bila indikator SDGs yang berjumlah 17, di antaranya adalah pengurangan angka kemiskinan, pengurangan angka kelaparan, kesehatan yang baik, pendidikan berkualitas, dan sebagainya, itu dicermati, maka Indonesia akan menjadI bangsa yang besar.

“Kita harus memahaminya. Kalau hal ini (SDGs) dipahami dan dicermati, saya kira 100 tahun nanti Indonesia akan berada di peringkat ke-4 di dunia. Tapi sekali lagi, itu syaratnya kita harus serius,” ujar Haryono, di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Sejak 2000, kata Haryono, saat pertama kali PBB mendeklarasikan indikator pembangunan manusia, yang kala itu masih bernama Millenium Development Goals (MDGs), pemerintah Indonesia tidak mencermatinya dengan baik.

“Saat itu (tahun 2000-2005) sama sekali garapan dengan target indikator MDGs di Indonesia, gagal. Saya berani mengatakan ini karena bukti-bukti indikatornya ada,” terang Haryono.

Lima tahun berikutnya, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin Indonesia, pun sama, hasil penilaian MDGs bisa dikatakan, gagal. Meskipun saat itu keinginan SBY memperbaiki nilai indikator MDGs sangat kuat.

“Beliau (SBY) sebetulnya sudah menggebu-gebu, bahkan beliau membentuk lembaga khusus menangani MDGs, tetapi menteri-menteri beliau tidak mencermati hal ini dengan baik, sehingga hasilnya gagal,” tutur Haryono.

Begitu pula di periode ke dua kepemimpinan SBY. Hasil serupa tetap terjadi, penilaian MDGs Indonesia tidak menunjukkan perbaikan.

“Indikator yang sederhana saja, kematian ibu hamil naik, kematian bayi naik, lalu juga partisipasi dalam pendidikan tidak bertambah. Bahkan, banyak peraturan yang menghambat untuk anak bisa sekolah setinggi-tingginya,” papar Haryono.

Lihat juga...