Hilirisasi Biji Karet Jadi Bahan Bakar Nabati, Perlu Dioptimalkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia beserta Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) menilai pemerintah masih belum optimal dalam menjalankan kebijakan hilirisasi hasil perkebunan karet menjadi produk yang bernilai tambah, khususnya pengembangan bahan bakar nabati (BBN).

“Komitmen pemerintah mendorong penggunaan bahan bakar nabati sebetulnya sudah tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 5 tahun 2006, yang mentargetkan pemanfaatan BBN hingga 5% dari total energi primer pada tahun 2025. Namun sayangnya, pemanfaatan BBN semenjak dikeluarkannya aturan tersebut belum pernah mencapai target,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Johnny Darmawan, di Menara Kadin Indonesia (20/1/2020).

Biji karet sendiri memiliki kandungan minyak mencapai 45.63 persen. Dalam setahun, setiap pohon karet mampu menghasilkan 800 biji.

Apabila ditanam pada lahan seluas 1 hektar, dapat tumbuh sebanyak 400 pohon karet. Maka untuk lahan seluas 1 hektar diperkirakan bisa menghasilkan 5.050 kg biji karet per tahun. Rendemen minyak biji karet (kering) yaitu 40-50%, sehingga diperkirakan setiap hektar tanaman karet berpotensi menghasilkan 1.000 liter minyak.

“Ini potensinya luar biasa besar. Tapi sayang biji karet dibuang begitu saja menjadi limbah, padahal dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar nabati yang potensial untuk dikembangkan secara teknis maupun keekonomiannya,” tukas Johnny.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kadin Indonesia, produksi karet nasional dalam kurun waktu 5 tahun terakhir cukup besar yakni di atas 3,3 juta ton, sedangkan untuk harga karet dalam 5 tahun terakhir terus mengalami tekanan pada level yang dinilai tidak remuneratif bagi produsen.

Selain itu, daya serap karet untuk industri ban hanya menyerap 70% dari kosumsi karet alam nasional.

“Agar petani karet tidak tambah rugi maka harus ada upaya lain untuk meningkatkan ketahanan para petani, ya salah satunya melalui pemanfaatan karet dan biji karet sebagai bahan bakar nabati selain kelapa sawit. Sekali lagi ini pun harus dapat dukungan dan kerjasama dari pemerintah, yakni terkait konsistensi terhadap kebijakan hilirisasi hasil perkebunan karet menjadi produk yang bernilai tambah,” papar Johnny.

Sementara itu, di tempat yang sama, Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane mengatakan, karet termasuk tanaman perkebunan non pangan yang saat ini produksinya sudah surplus tetapi tidak semuanya terserap oleh pasar.

Karet juga termasuk dalam kategori tanaman bioenergi multiguna yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku bahan bakar nabati dengan dukungan kebijakan pemerintah yang telah mencukupi.

“Potensi pemanfaatan karet di luar industri ban semakin terbuka lebar pasca terbitnya beberapa kebijakan terkait penggunaan energi alternatif pengganti BBM untuk jenis diesel/solar. Biodiesel dapat diaplikasikan baik dalam bentuk 100% (B100) atau campuran dengan minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu seperti B20. Pemanfaatan biji karet sebagai biodiesel sangat terbuka lebar,” jelasnya.

Selain banyak digunakan untuk industri ban, karet saat ini telah banyak digunakan untuk industri lain seperti bahan baku campuran aspal, bantalan jembatan serta berpotensi untuk pemanfaatan bahan bakar nabati.

Lihat juga...