Imlek dan Kue Keranjang

CERPEN AGNES YANI SARDJONO

DALAM perjalanan pulang dari luar kota aku sudah membayangan wajah tetangga di samping pos ronda.

Aku biasa parkir mobil di depan rumahnya. Awalnya aku enggan karena khawatir mengganggu si empunya rumah. Tapi dugaanku meleset. Malah dia yang meminta aku parkir mobil di depan rumahnya.

Kalau parkir di lahan kosong di pinggir kali rawan pencurian, katanya. Gampang bagi yang mau berniat jahat untuk mencongkel kaca jendela dan mengambil apa saja yang ada di dalam bagasi.

Bahkan bisa saja orang jahat itu memecah kaca mobil. Siapa yang peduli. Selepas pukul sepuluh malam tempat itu sangat sepi dan agak gelap. Ya risiko punya mobil tapi tidak bisa dibawa sampai depan rumah karena gang masuk kecil hanya cukup dilewati sepeda motor.

Pernah aku mau memberi sekadar uang sewa atau tanda terima kasih. Namun ditolak mentah-mentah.

“Mas Sam mengira saya mata duitan ya?” semprotnya to the point. “Mentang-mentang saya keluarga Cina lalu segala sesuatu dinilai dengan uang? Hohoho… tidak semua berwatak begitu, ya. Saya tetap manusia normal yang butuh duit. Tapi bukan berarti lalu mata duitan!” lanjut Cik Lien.

Begitu kami para tetangga memanggil dia. Namanya Lien Hoa Nio. Keluarganya sudah tiga generasi tinggal di kampung kami. Dulu engkongnya yang membangun rumah. Sangat sederhana.

Karena keluarga itu masuk kategori ‘Cina tidak punya toko’ alias Cina melarat. Engkongnya memang punya kios kecil di pasar untuk jual rempah-rempah. Dan hanya itu satu-satunya sumber nafkah mereka.

Engkong Han, begitu kami memanggil. Cik Lien adalah anak bungsunya yang menjadi perawan tua. Aku bayangkan wajah Cik Lien karena dia pasti sudah memberi kue keranjang di rumahku.

Sudah menjadi tradisi di keluarganya, menjelang Imlek dia bagi-bagi kue keranjang untuk para tetangga dekat. Nanti pada hari raya lebaran atau Natal ganti dia yang mendapat kiriman berbagai macam makanan dari para tetangga.

Ketika aku sampai di depan rumah Cik Lien, jendela dan pintu rumahnya tertutup. Mungkin lagi sembahyang di klenteng, atau siapa tahu masih di pasar. Namun waktu aku masuk rumah, ternyata suasana rumah sepi. Istriku tidak ada. Begitu juga Nuri anak semata wayang kami.

Waktu aku membuka WA tidak ada pesan apa-apa dari istri dan anakku. Aneh. Biasanya kalau mau pergi keduanya pasti memberitahu lewat WA atau inbox. Tapi kali ini tidak.

Waktu aku duduk di kursi dan mencopot sepatu, mendadak aku tersenyum. Ternyata di meja tamu sudah ada dua buah kue keranjang. Satu warna hijau yang satu warna cokelat. Aku yakin sekali bahwa kue itu pasti pemberian Cik Lien.

Tidak mungkin istriku membeli di pasar. Dia tidak begitu suka makanan manis. Kebalikan dengan diriku yang suka makanan serba manis.

Hmm. Harus diiris dengan pisau. Tidak bisa kue keranjang dicuil begitu saja. Saat aku mau beranjak ke dapur mengambil pisau, niat itu kuurungkan. Ternyata di meja itu sudah ada sebilah pisau belati.

Mungkin kepunyaan Nuri yang sengaja diletakkan di situ agar bapaknya bisa langsung menikmati kue kesukaan.

Kue keranjang dalam bahasa Mandarin disebut Nian Gao. Nian artinya tahun, Gao artinya kue. Jadi kue itu hanya dibuat setahun sekali untuk menyambut hari raya Imlek.

Dalam dialek Hokkian kue itu disebut Ti Kwe, artinya kue manis. Dibuat dari tepung beras ketan dan gula maka rasanya memang manis.

Kuambil pisau belati untuk mengelupas plastik pembungkus kue. Tinggal mencongkel plastik itu dengan ujung pisau belati.

“Jangan membunuh,” tiba-tiba telingaku mendengar suara itu.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Kembali pisau belati kuarahkan ke kue keranjang.

“Jangan menyakiti makhluk lain.”

Kembali terdengar suara misterius. Pisau belati kuletakkan. Lalu dua ujung jari telunjuk kupakai untuk mengorek telinga kanan dan kiri.

Siapa tahu telingaku kotor lalu jadi penyebab seolah-olah mendengar suara. Begitu kedua telinga kuanggap bersih, kembali kuambil pisau belati.

“Mau apa kamu?” tanya sebuah suara.

“Mau mencongkel plastik pembungkus kue keranjang!” jawabku asal saja. Mungkin telingaku yang tidak normal. Seperti mendengar suara-suara gaib.

“Letakkan pisau itu.”

“Kenapa?”

“Tidak baik digunakan.”

“Apa aku harus makan plastik pembungkusnya?”

Tidak ada suara yang menjawab. Maka segera kucongkel plastik pembungkus kue keranjang. Sekali ungkit plastik itu lepas dari tempatnya. Kue keranjang bisa langsung kupotong-potong.

“Jangan ada pembunuhan,” kembali seperti ada suara.

“Siapa yang mau membunuh?” tangkisku.

“Pisaumu.”

“Ini mau kupakai untuk memotong-motong kue keranjang!” balasku dengan nada geram.

“Jangan melukai.”

“Siapa yang mau melukai?”

“Kamu.”

“Aku hanya ingin memotong-motong kue keranjang, tahu?!”

Tidak ada suara. Kembali aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tetap tidak ada seorang pun.

“Mama! Nuri!” teriakku keras-keras. Tidak ada yang menyahut. Rumahku ukuran kecil. Mustahil istri dan anakku tidak mendengar teriakanku. Kalau saja keduanya ada di rumah. Karena tidak ada yang menyahut, aku jadi bingung, lalu suara siapa tadi?

Hmm. Baru kali ini aku mengalami keanehan yang tidak masuk akal. Niatku hanya ingin menikmati kue keranjang. Setahun sekali. Mumpung ada tetangga baik yang memberi, tapi kenapa malah muncul suara-suara aneh seperti berasal dari alam gaib?

Munginkkah Dewa Cau Kum Kong marah? Menurut mitologi Tiongkok kuno kue keranjang awalnya memang dipersembahkan untuk Dewa Tungku itu. Biar dia tidak marah, lalu selama setahun ke depan tetap mau menjaga tungku rumah orang-orang yang percaya.

Bayangkan kalau sampai tungku-tungku tidak bisa digunakan untuk masak? Mau makan apa keluarga-keluarga itu. Beli? Bisa saja. Tapi mahal. Bukankah keluarga-keluarga Cina dikenal super hemat untuk urusan makan?

Mereka bisa makan apa saja dalam jumlah yang sangat minimal. Selama situasi ekonomi keluarga masih pas-pasan, pantang bagi mereka makan enak dengan harga yang mahal.

Dua buah kue keranjang kupandangi. Keduanya tetap diam. Pisau belati kuletakkan di sampingnya. Aku yakin pisau belati itu belum pernah untuk membunuh orang. Untuk membunuh binatang pun pasti belum pernah.

Nuri sangat menyayangi semua makhluk ciptaan. Semut pun ia enggan membunuhnya meski sering merubung gelas minumannya. Juga nyamuk yang mengincar darahnya ia biarkan tetap hidup.

Paling ia cuma mengusir agar nyamuk itu menjauh dari tubuhnya. Jadi tidak mungkin di dalam pisau belati tinggal roh halus. Sebab begitulah konon hukumnya. Jika senjata tajam sering untuk membunuh makhluk hidup, maka nyawa makhluk itu tinggal menetap di dalam senjata itu.

Karena itu sering ada senjata yang ‘haus darah’. Ia akan mencari korban jika sekian lama tidak digunakan untuk membunuh atau sekadar melukai. Seperti pedang samurai yang dipakai para shogun di Jepang.

Juga pedang, keris, tombak, yang dulu dipakai para prajurit kerajaan-kerajaan di Jawa sebelum masuknya senjata api bermesiu.

Lalu mengapa aku tidak boleh memotong-motong kue keranjang menggunakan pisau belati? Ah, ya, ya, mungkin Dewi Sri tidak suka kekerasan. Seperti Dewi Kwan Im. Kedua dewi itu sama-sama suka kelembutan.

Karena sama-sama menebarkan kasih sayang. Dewi Kwan Im menebar kasih sayang di Tiongkok sana pada mulanya, sedang Dewi Sri di tanah Jawa.

Lalu apa hubungannya antara kue keranjang, kelembutan dan Dewi Sri? Ada. Bukankah Dewi Sri pelindung para petani di pulau Jawa? Bukankah kue keranjang bahan utamanya tepung beras ketan? Siapa yang menanam beras ketan? Petani!

Ah, mungkin itu benang merahnya. Kue keranjang dibuat dari tepung beras ketan maknanya agar antara yang memberi dan menerima terjalin persaudaraan yang lengket seperti ketan.

Begitu cerita Cik Lien dulu. Siapa pun yang menikmati kue keranjang agar selalu ingat siapa yang sudah menanam beras ketan. Ingat siapa yang membuat, ingat siapa yang memberi.

Ternyata makna kue keranjang tidak beda dengan juadah atau wajik. Juadah dan wajik ini termasuk rangkaian utama dalam tradisi lamaran calon pengantin. Biasanya yang membawa dari keluarga calon pengantin laki-laki.

Maknanya agar kelak terjalin rasa persaudaraan yang erat dan lengket seperti ketan di antara kedua keluarga besar besan tersebut. Ah, ternyata tradisi masyarakat Tiongkok nun jauh di sana tidak beda jauh dengan tradisi masyarakat Jawa di sini.

Tapi kenapa aku tidak boleh memotong kue keranjang dengan pisau belati?

“Itu terlalu kejam!” tiba-tiba ada suara yang seolah-olah menjawab pertanyaanku. Meski hanya dalam hati namun ternyata ada yang tahu.

“Di mana kejamnya?” tanyaku.

“Pisau belati dibuat untuk membunuh!”

“Siapa bilang?”

“Semua pasukan komando selalu menggunakan pisau belati sebagai senjata pembunuh andalan. Jika mereka sudah kehabisan peluru, maka pisau belati yang dipakai untuk membunuh!”

“Itu bayonet namanya,” kilahku. “Lebih panjang, lebih tajam, lebih mematikan. Lihat, cuma berapa sentimeter panjang pisau belati ini?”

“Ide pembuatan bayonet terinspirasi dari pisau belati.”

“Tapi awalnya pisau belati tidak untuk membunuh. Hanya sebagai kelengkapan untuk para pandu. Itu yang diajarkan oleh Boden Powell bapak pandu sejagad. Hanya untuk kelengkapan para pandu jika mereka harus memasuki hutan atau saat para pandu melakukan latihan jurit malam. Hanya untuk berjaga-jaga saja.”

“Berjaga-jaga dari siapa?”

“Ya dari siapa saja yang mengancam para pandu. Bisa binatang buas, bisa begal, atau orang-orang yang tidak senang dengan pandu!”

“Itu artinya pisau belati itu memang bisa dipakai untuk membunuh atau melukai, bukan?”

Busyet! Cerdas sekali sumber suara itu. Tapi suara siapa ini? Apa Dewa Cau Kun Kong sudah masuk ke dalam rumahku?

“Jadi aku tidak boleh makan kue keranjang ini?” protesku.

“Siapa yang melarang?”

“Kamu! Entah siapa dirimu. Makhluk halus atau dhemit dari mana. Apakah kamu utusan Dewa Cau Kun Kong? Kamu yang melarang aku makan kue keranjang. Buktinya aku tidak boleh memotong-motong kue ini pakai pisau belati. Apa aku harus brakoti kue ini tanpa harus dipotong-potong lagi?”

Tidak ada suara yang menjawab. Dadaku naik turun menahan emosi. Marah, jengkel, tersinggung, semua menggumpal jadi satu. Hanya ingin mencicipi kue keranjang saja ada kekuatan gaib yang seolah-oleh menghalang-halangi.

Bukankah Cik Lien dengan tulus ikhlas ketika mengantar kue keranjang ini? Dia pasti punya maksud agar persaudaraan di antara kami tetap lengket seperti ketan.

Karena tidak mau diatur-atur lagi tanganku segera menyahut pisau belati. Spontan kuangkat dengan ujung belati di bawah. Artinya siap untuk menikam.

“Kamu mau apa?” suara itu muncul lagi.

“Memotong-motong kue keranjang ini! Ini milikku, kenapa kau nyinyir jadi penghalang?”

“Kamu pernah merasakan ditikam dengan ujung pisau belati?”

Tanganku urung menancapkan pisau belati di kue keranjang. Pertanyaan yang menohok.

“Belum pernah,” jawabku pelan.

“Bisa membayangkan betapa sakitnya jika tanganmu ditikam dengan ujung pisau belati?”

“Hmmm…”

“Bagaimana jika pahamu yang ditikam? Bagaimana rasa sakitnya?”

“Hmmm…”

“Kalau ulu hatimu yang ditikam?”

“Aku mati…”

“Nah…”

“Tapi kue keranjang ini tidak punya nyawa. Tidak punya darah. Ia tidak bisa menjerit, menangis dan meregang nyawa!”

“Bagaimana kalau ujung pisau belati itu kamu hunjamkan dulu di ulu hatimu?”

“Gila kamu!” dampratku sambil berdiri. Aku sudah tidak sabar. Pisau belati kuangkat tinggi-tinggi.

“Maasss…kamu mau apa?” teriak sebuah suara yang sangat kukenal. Istriku sudah berdiri di depan pintu.

“Mau memotong-motong kue keranjang ini,” jawabku gemetar.

“Tidak sopan ya memotong-motong kue keranjang menggunakan pisau belati. Sini!” Ia merebut pisau belati dari tanganku, lalu bergegas ke dapur.

Ketika kembali ia sudah membawa pisau dapur dan dua cawan. “Begini cara memotong-motong kue keranjang,” katanya sambil memotong-motong dan membagi di dua cawan.

Aneh. Tidak ada suara yang memprotes. Sampai bagianku habis kumakan, tidak ada suara yang memprotes. Lalu kenapa tadi aku dihalang-halangi terus? Pertanyaan yang belum kutemukan jawabnya sampai hari ini. ***

Agnes Yani Sardjono, penulis yang tinggal di Yogyakarta. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media lokal dan nasional sejak era 1970-an. Juga dalam bentuk buku kumpulan cerpen dan novel. Novel terbarunya Ledhek dari Blora  (Araska Publiser, 2018).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah dimuat atau tayang di media lain, baik cetak, online, atau buku. Kirimkan karya Anda ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan akan dikonfirmasi redaksi. Jika sebulan sejak pengiriman tidak ada kabar, bisa dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. 

Lihat juga...