Itera Edukasi Masyarakat Terkait Potensi Gunung Anak Krakatau

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Institut Tekhnologi Sumatera (Itera) menggelar edukasi potensi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Lampung Selatan (Lamsel).

Alviyanda, S.T., M.T, dosen teknik geologi menyebut masyarakat di wilayah pesisir perlu mendapat sosialisasi potensi, mitigasi dan geofisika GAK di Desa Sumur Kecamatan Ketapang.

Alviyanda, S.T, M.T, (tengah), dosen tekhnik geologi Institut Teknologi Sumatera saat kegiatan pengabdian kepada masyarakat Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lamsel, Kamis (16/1/2020). -Foto: Henk Widi

Pada kegiatan pengabdian masyarakat mahasiswa Itera, ia menyebut sosialisasi salah satunya berkaitan dengan potensi GAK. Keberadaan gunung berapi menurutnya menjadi potensi bencana namun juga bisa menjadi potensi geowisata yang memiliki kekayaan alam hayati. Sebagai kawasan yang ditetapkan sebagai warisan dunia GAK yang masih aktif dimanfaatkan untuk edukasi dan wisata.

Edukasi bagi masyarakat di wilayah pesisir disebutnya menjadi cara untuk mengenalkan potensi kerawanan bencana dari GAK. Sebab sesuai sejarah gunung aktif di laut tersebut pernah mengalami letusan dahsyat pada 1883 saat masih bernama Krakatau. Letusan yang dahsyat dengan material abu vulkanik disebutnya menimbulkan korban jiwa.

“Kini hanya Anak Gunung Krakatau yang aktif namun masih menjadi potensi bahaya salah satunya tsunami yang pernah terjadi pada 22 Desember 2018 lalu menimbulkan korban jiwa di Lampung dan Banten,” ungkap Alviyanda, S.T, M.T saat sosialisasi potensi mitigasi dan geowisata di Desa Sumur, Kamis (16/1/2020).

Alviyanda menyebut sosialisasi mitigasi dilakukan agar masyarakat peka terhadap kondisi gunung api. Sebab sebagian warga pesisir terutama di wilayah Desa Sumur memiliki wilayah dengan kerawanan bencana tinggi dari gunung Anak Krakatau. Upaya mitigasi bencana yang dilakukan oleh dosen, mahasiswa selama kegiatan pengabdian masyarakat melakukan edukasi ke sejumlah sekolah.

Sosialisasi terkait gunung api menurut Alviyanda juga diisi oleh Happy Christin Natalia, S.T, M.T selaku dosen tekhnik geologi dan Rizka, S.T, M.T selaku dosen tekhnik geofisika. Melalui sosialisasi kepada masyarakat disampaikan juga potensi geowisata yang bisa dilakukan di GAK. Sebab kawasan tersebut bisa digunakan untuk penelitian, wisata dan pendidikan.

“Selain adanya potensi kebencanaan disampaikan juga kepada masyarakat adanya potensi GAK sebagai geowisata,” bebernya.

I Nyoman Prima Wijaya (berdiri) Kepala Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan saat sosialisasi potensi ,mitigasi dan geowisata Gunung Anak Krakatau bersama Itera, Kamis (16/1/2020). -Foto: Henk Widi

Kepala Desa Sumur, I Nyoman Prima Wijaya menyebut kegiatan pengabdian masyarakat dari Itera sangat bermanfaat. Sebab sebanyak 16 mahasiswa Itera berasal dari sejumlah program studi (Prodi) diantaranya Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Arsitektur, Teknik Geologi dan sejumlah prodi lain. Sejumlah ilmu yang dimiliki para mahasiswa, dosen disampaikan kepada masyarakat hingga ke sejumlah sekolah.

“Kehadiran mahasiswa, dosen Itera selama satu bulan ikut mengedukasi masyarakat Desa Sumur dalam sejumlah bidang,” papar I Nyoman Prima Wijaya.

Sejumlah program kerja yang telah dilakukan oleh para mahasiswa diantaranya pendidikan ,taman baca hingga education upgrade (Edugrade). Para mahasiswa juga belajar mengenal adat istiadat dan budaya yang ada di Desa Sumur. masyarakat yang terdiri dari adat istiadat dan agama menjadi tempat belajar. Pada kegiatan budaya ruwat laut, mahasiswa juga diajak terlibat dalam pelestarian budaya masyarakat nelayan tersebut.

Ezra Rumelys Sihombing dan Cory Paskah dari Prodi Tekhnik Geologi Itera menyebut ia bisa belajar sejumlah hal selama kegiatan pengabdian masyarakat. Sebagai mahasiswa asal Sidikalang, Sumatera Utara, Ezra Rumelys menyebut tinggal beberapa kilometer dari Gunung Sinabung membuat ia bisa memahami potensi bencana gunung api. Mitigasi bencana gunung api disebutnya telah dilakukan pada sejumlah sekolah.

“Kami melakukan eksperimen science ke sejumlah sekolah untuk menyampaikan mitigasi bencana sejak dini,” beber Ezra Rumelys.

Diamini oleh rekannya satu Prodi, Cory Paskah mengatakan kegiatan edukasi mitigasi bencana sangat penting. Sebab edukasi mitigasi bencana sejak dini dilakukan agar meningkatkan tingkat pemahaman terkait risiko bencana. Selama kegiatan pengabdian masyarakat, mahasiswa Itera dari sejumlah prodi berbaur dengan masyarakat.

Mahasiswa semester 5 tersebut mengaku sebanyak 1700 mahasiswa melakukan program pengabdian masyarakat di seluruh Lampung. Sebanyak 16 program studi di Itera diterjunkan ke sejumlah desa di kabupaten yang ada di Lampung dan 16 diantaranya melakukan pengabdian masyarakat ke Desa Sumur yang ada di pesisir timur Lamsel.

Lihat juga...