KKP Bebaskan 15 Nelayan Indonesia dari APM Malaysia

JAKARTA  –  Sebanyak 15 Nelayan Indonesia berhasil dibebaskan oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Mereka sebelumnya ditangkap Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM).

Pembebasan tersebut ditempuh melalui upaya persuasif dan tidak melalui proses hukum di Malaysia, bentuk nyata pemerintah dalam perlindungan nelayan, yang saat ini menjadi salah prioritas KKP.

“Sebanyak 15 nelayan Indonesia yang ditangkap oleh APMM, semuanya merupakan awak kapal perikanan KM. Abadi Indah. Saat ini mereka sudah dibebaskan,” jelas Nilanto Perbowo, Plt. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Minggu (19/1/2020).

Dikatakan, bahwa keberhasilan pembebasan dan pemulangan nelayan Indonesia tersebut tidak lepas dari komunikasi dan koordinasi yang dilakukan intensif, antara pihak Ditjen PSDKP-KKP dengan APMM Malaysia.

Nilanto Perbowo, Plt. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, saat penandatangan serah terima pembebasan 15 nelayan dari APMM, Minggu(19/1/2020). –Foto: M Amin

“Berbekal hubungan baik antarkedua lembaga serta adanya kerangka Memorandum of Understanding on Common Guidelines antara Indonesia dan Malaysia, pihak aparat Malaysia bersedia melepaskan nelayan kita tersebut,” imbuhnya.

Saat ini, kata Nilanto, ke-15 nelayan tersebut telah diserahterimakan kepada Kepala Pangkalan PSDKP Batam dan sudah kembali bekerja.

“Penjemputan kami laksanakan dengan Kapal Pengawas Hiu Macan Tutul 02, menjadi hal yang penting bagi kami sebagai bentuk langkah nyata kehadiran KKP untuk selalu melindungi nelayan dan masyarakat kelautan perikanan,” jelas Nilanto.

Diketahui, KM Abadi Indah merupakan kapal perikanan Indonesia yang ditangkap oleh APMM pada 5 Januari 2020. Kapal tersebut mengoperasikan alat penangkapan ikan jala jatuh berkapal (cast net), yang oleh pihak Malaysia ditangkap atas dugaan melakukan penangkapan sotong secara ilegal di wilayah perairan Malaysia.

Ditjen PSDKP-KKP memastikan, kehadiran kapal-kapal pengawas akan memberikan perlindungan kepada nelayan, sekaligus melakukan upaya pembinaan dan penyadartahuan terhadap nelayan-nelayan Indonesia, termasuk KM Abadi Indah.

“Kami memberikan sanksi peringatan, ini sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai negara bendera (flag state responsibility),” tegas Nilanto.

Selama 2019, Ditjen PSDKP-KKP telah memulangkan 127 nelayan Indonesia yang tertangkap di berbagai negara, di antaranya Malaysia, Timor Leste, Myanmar, Thailand, Australia dan India.

Hal tersebut mengindikasikan, bahwa di tengah upaya pemberantasan illegal fishing, KKP juga perlu untuk terus mendorong upaya penyadaran masyarakat, agar patuh terhadap peraturan perundang-undangan dan tidak melakukan pelanggaran penangkapan ikan di perairan negara lain.

“Kita akan dorong program-program penyadartahuan kepada nelayan kita, agar mereka makin taat, ini sejalan dengan arahan Bapak Menteri, bahwa KKP menjadi sahabat dan bapak nelayan Indonesia yang akan selalu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia,” tutup Nilanto.

Lihat juga...