KLHK Petakan Tanah di Kawasan Rehabilitasi Pascabanjir

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan melakukan pemetaan wilayah daerah yang akan direhabilitasi, setelah terjadi banjir bandang dan tanah longsor.

“Untuk saat ini, karena mungkin kondisi di sana masih belum stabil, jadi untuk penanganannya mungkin kita perlu memetakan dulu mana daerah yang sudah stabil dan mana yang masih bergerak,” ujar peneliti dari Puslitbanghutan BLI KLHK, Dr. Budi Hadi Narendra, ketika ditemui dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Sebelumnya, KLHK mengumumkan rencana untuk merehabilitasi kawasan DAS Ciujung dan Cidurian, setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Lebak di Banten dan Kabupaten Bogor di Jawa Barat.

Menurut data KLHK, daerah tersebut memiliki kemiringan lereng lebih dari 30 persen, menjadikannya rawan dan membutuhkan upaya mitigasi agar kejadian yang sama tidak berulang.

Karena itu, KLHK mengusulkan soil bioengineering sebagai salah satu upaya mitigasi untuk menstabilkan lereng yang rawan.

Soil bioenineering adalah metode menutupi permukaan lereng yang terbuka dengan tanaman, agar akar tanaman dapat meningkatkan kohesi atau kekokohan tanah.

Metode ini menggunakan vegetasi, seperti vetiver yang memiliki akar dengan infiltrasi yang baik untuk mencengkram tanah dan menyerap air.

Namun, vetiver saja tidak cukup untuk menjadi vegetasi penutup yang membantu usaha pencegahan longsor, dan diperlukan jenis pohon yang lebih kuat untuk ditanam di wilayah rehabilitasi.

“Itu salah satu pertimbangan, karena tanaman jenis rumput relatif pendek (umurnya), maka kita harus kombinasikan dengan jenis-jenis tanaman pohon yang relatif lebih panjang umurnya,” jelas dia.

Selain permasalahan umur, jenis pohon yang dikombinasikan dengan vetiver harus yang memiliki perakaran yang lebih kokoh dan bisa mencapai lapisan bidang gelincir di lereng. (Ant)

Lihat juga...