Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Produksi Gula Kelapa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Setelah pembangunan pabrik gula kelapa dan tepung tapioka di Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas selesai, Koperasi Utama Sejahtera Mandiri mulai melakukan uji coba produksi gula kelapa.

Hanya saja, karena menggunakan bahan bakar elpiji, maka hasil produksi belum bisa menutup biaya produksi.

Ketua Koperasi Utama Sejahtera Mandiri, Riyan Hidayat, mengatakan, pada awalnya pihaknya sudah mengusulkan ke Yayasan Damandiri untuk menggunakan bahan bakar dari kayu bakar. Namun, dengan pertimbangan menimbulkan polusi udara, pihak yayasan meminta agar digunakan elpiji.

Ketua Koperasi Utama Sejahtera Mandiri, Riyan Hidayat di dapur komunal Cilongok, Kamis (16/1/2020). Foto: Hermiana E. Effendi

“Kita kemudian menggunakan elpiji 12 kilogram dan ternyata belum bisa menutup biaya produksi. Karena itu, sekarang sedang kita diskusikan untuk pemilihan bahan bakar lainnya,” kata Riyan, Kamis (16/1/2020).

Lebih lanjut Riyan menceritakan, dalam uji coba pertama, ia mengolah 90 liter nira. Nira tersebut dibeli dengan harga Rp 2.000 per liter, sehingga total bahan baku seharga Rp 180.000. Dan untuk memasak 90 liter nira tersebut menghabiskan 1,5 elpiji 12 kilogram.

Dengan harga elpiji Rp 150.000 per tabung, maka untuk bahan bakar menghabiskan biaya Rp 225.000. Sehingga total biaya produksi mencapai Rp 405.000.

Sementara 90 liter nira yang diolah, hanya menghasilkan 13 kilogram gula kelapa. Jika dikonversikan harga satu kilogram gula kelapa Rp 13.000. sehingga dari biaya produksi Rp 405.000, hanya menghasilkan produk senilai Rp 169.000.

“Kita masih diskusikan dengan pihak yayasan untuk mencari bahan bakar alternatif lainnya, kemungkinan akan mencoba menggunakan kayu bakar seperti usulan awal. Sebab semua petani gula kelapa di Banyumas menggunakan bahan bakar dari kayu bakar, untuk menghemat biaya produksi,” jelas Riyan.

Terkait hasil pengolahan uji coba gula kelapa ini, Kepala Pengelola Dapur Komunal Gula, Tri Riyanto mengatakan, dari sisi kualitas, hasil produksi cukup bagus dan sesuai yang diharapkan. Hanya saja kendalanya dalam biaya produksi yang tinggi.

“Hasil olahan gula kelapa karena baru uji coba hanya menghasilkan 13 kilogram. Karena masih sedikit, maka belum kita jual, hanya disimpan di kantor sebagai sampel saja,” kata Tri Riyanto.

Lihat juga...