Mahasiswa ini Tawarkan Gethuk Rasa Kekinian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Gethuk merupakan salah satu jajanan tradisonal yang banyak diminati oleh masyarakat. Sayangnya, saat ini penganan berbahan dasar singkong tersebut mulai ditinggalkan oleh masyarakat khususnya kaum milenial karena kalah bersaing dengan jajanan kekinian.

Di sisi lain, di daerah Malang sendiri memiliki potensi tanaman singkong yang cukup besar untuk bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan gethuk.

Berangkat dari permasalahan tersebut mahasiswi semester 5 Binus Malang, Diva Velda Hanifa, mencoba menghadirkan kembali jajanan tradisional gethuk dengan berbagai rasa yang lebih kekinian sehingga bisa kembali menjadi kudapan favorit masyarakat terutama kaum milenial.

Owner Oh My Gethuk Diva Velda Hanifa dan manajer marketing, Doni Reza menunjukkan varian gethuk kekinian di gerai Oh My Gethuk, Sabtu (18/1/2020). Foto: Agus Nurchaliq

Diawali dengan sebuah riset terkait artikel yang membahas tentang nasib petani singkong yang sedang terpuruk karena harga singkong waktu itu hanya 500 rupiah per kilogramnya.

“Akhirnya kepikiran apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka, karena di Malang sendiri khususnya daerah Pakis banyak sekali petani singkong di sana,” ujarnya saat ditemui di gerai Oh My Gethuk, Sabtu (18/1/2020).

Dari situ kemudian Diva teringat pada ibunya yang kerap membuat gethuk dari singkong. Dengan memodifikasi resep gethuk dari ibunya tersebut, Diva akhirnya berhasil menciptakan gethuk high quality dengan aneka rasa kekinian.

“Saya pernah riset beberapa kali ke kafe-kafe ternyata di sana yang dijual hanya kue brownis atau roti tapi tidak ada yang menjual makanan tradisional. Dari situ kemudian saya jadikan misi untuk mengembangkan kudapan tradisional kepada anak-anak zaman sekarang,” jelasnya.

Oh My Gethuk, hadir dengan 2 varian dan 6 rasa, yakni varian Gethuk Roll dengan rasa millo, macchiato, taro, dan cheesse. Serta varian Gethuk Original dengan rasa milky dan gula merah.

Lebih lanjut manajer marketing, Doni Reza Anggara, menjelaskan, pada musim penghujan biasanya kualitas singkong cenderung tidak bagus. Sehingga perlu adanya standar singkong yang harus dipenuhi oleh petani singkong.

“Kita sortir singkong yang bagus, kalau memang tidak sesuai dengan standar, ya tidak kita terima. Tapi tentunya kita beli singkong tersebut dengan harga yang lebih mahal agar tidak merugikan petani,” tandasnya.

Jika memang susah mendapatkan singkong dengan kualitas bagus, mereka menyiasatinya dengan tetap memakai bahan yang sama, tapi ada beberapa bahan yang volumenya ditambah.

“Jadi misalnya kita pakai menteganya sedikit tapi butter-nya yang kita banyakin. Jadi bahannya kualitasnya tetap sama,” pungkasnya.

Lihat juga...