Manfaatkan Pekarangan, Warga Tamanan Budidaya Lidah Buaya

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sejumlah warga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dusun Tamanan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, berupaya memanfaatan lahan pekarangan di sekitar rumah mereka menjadi kebun budidaya tanaman lidah buaya. 

Dirintis sejak November 2018 lalu, kebun lidah buaya yang dikelola ibu-ibu rumah tangga kelompok PKK ini telah berkembang pesat dan mampu memberikan penghasilan tambahan bagi warga desa.

Pengurus KWT Lidah Buaya Dusun Tamanan Tamanmartani, Wiwit Wahyu Widayati, mengaku saat ini pihaknya telah mampu memanen lidah buaya hingga 10 kilogram setiap panen. Lidah buaya itu kemudian mereka olah menjadi makanan berupa cendol dan nata de aloe vera.

“Awalnya kita dulu hanya melakukan studi banding ke kebun lidah buaya di daerah Kulon Progo. Dari situ kita kemudian mencoba membudidayakan sendiri. Dari sekitar 200 bibit, sekarang lidah buaya yang kita tanam telah berkembang menjadi 500 tanaman lebih,” katanya kepada Cendana News, baru-baru ini.

Pengurus KWT Lidah Buaya Dusun Tamanan Tamanmartani, Wiwit Wahyu Widayati. Selasa (31/12/2019). -Foto: Jatmika H Kusmargana

Tanaman lidah buaya sendiri dipilih karena tanaman berduri tajam ini memiliki sejuta manfaat. Mulai dari untuk masker wajah, shampo rambut, obat luka bakar, hingga olahan makanan seperti cendol, nata de aloe vera, keripik hingga es krim lidah buaya.

“Selain itu tanaman lidah buaya ini juga sangat mudah untuk ditanam dan dibudidayakan. Perawatannya juga mudah. Tidak perlu perlakuan khusus, cukup dipupuk dan disiram saja,” katanya.

Memanfaatkan dua lahan kelompok seluas lebih dari 1000 meter persegi, ibu-ibu KWT Lidah Buaya Dusun Tamanan ini rutin melakukan kerjabakti setiap 3 hari sekali. Selain menyiram dan memupul tanaman, mereka juga rutin menyiangi atau menghilangkan rumput hama yang menggangu pertumbuhan lidah buaya.

“Sejauh ini kita sudah mampu memanen hingga 4 kali. Setelah diolah lidah buaya sebanyak 10 kilogram biasanya akan menghasilkan 5 kilogram cendol dan nata de aloe vera. Kita menjualnya dalam bentuk minuman, dengan harga Rp2500-3500 per cup,” katanya.

Dijelaskan Wiwit, pengolahan lidah buaya menjadi cendol dan nata de aloe vera sendiri tidaklah sulit. Dimulai dari mencuci bersih daging lidah buaya. Lalu dipotong sesuai ukuran. Dihilangkan lendirnya. Direbus dua kali. Lalu dicampurkan gula dan pewarna makanan. Cendol dan nata de aloe vera pun siap disajikan.

“Karena baru tahap awal, kita baru mampu mengolahnya menjadi beberapa produk saja. Namun ke depan rencananya kita akan menambah varian produk baru. Seperti keripik, es krim hingga teh daun lidah buaya,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Dusun Tamanan sendiri masuk dalam wilayah Desa Tamanmartani Kalasan Sleman. Desa Tamanmartani ini merupakan desa binaan Yayasan Damandiri sejak tahun 2017 lalu. Melalui program Desa Cerdas Mandiri Lestari, Yayasan Damandiri aktif melakukan berbagai pemberdayaan baik di bidang ekonomi pendidikan kesehatan maupun lingkungan.

Lihat juga...